Kumparan Logo

Transformasi Industri 4.0 Awas Gerus Lapangan Kerja, Ini Kata Kemenperin

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Press Briefing Indonesia Partner Country Hannover Messe 2023 di Kemenperin, Rabu (8/3/2023).  Foto: Nabil Jahja/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Press Briefing Indonesia Partner Country Hannover Messe 2023 di Kemenperin, Rabu (8/3/2023). Foto: Nabil Jahja/kumparan

Presiden Jokowi meluncurkan inisiatif Making Indonesia 4.0 sejak 2018. Inisiatif tersebut mendorong peningkatan kualitas industri di dalam negeri dengan cita-cita pada 2030 Indonesia mampu menjadi 10 besar ekonomi dunia.

Sektor industri yang didorong bertransformasi menjadi industri 4.0 adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, industri otomotif, industri elektronik, industri kimia, industri alat kesehatan, hingga industri farmasi dan obat-obatan.

Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kemenperin, Andi Rizaldi, mengatakan seiring industri-industri di Indonesia bertransformasi, perlu disiapkan SDM-SDM Indonesia agar bisa terserap lapangan pekerjaan yang semakin berkembang.

"Jadi dengan adanya keikutsertaan dari startup-startup, kita ingin mereka jadi pioneer di Indonesia untuk mengakomodasi untuk menampung tenaga-tenaga kerja yang ingin beralih profesi dari manual menjadi melek teknologi," kata Andi di Kantor Kemenperin, Rabu (8/3).

Bukan tanpa alasan, data Kementerian Investasi/BPKM menunjukkan adanya penurunan rasio serapan tenaga kerja dari realisasi investasi.

Pada 2013, jumlah investasi di Indonesia mencapai Rp 398,6 triliun, dengan jumlah tenaga kerja mencapai 1,82 juta orang dan rasio serapan tenaga kerja per Rp 1 triliun investasi mencapai 4.591 pekerja.

Pada 2018, investasi di Indonesia naik menjadi Rp 721,3 triliun. Namun tenaga kerja yang terserap hanya 1,01 juta pegawai dengan rasio serapan tenaga kerja per Rp 1 triliun investasi mencapai 1.409 orang.

Peningkatan investasi terus berlanjut hingga 2021 dengan realisasi investasi mencapai Rp 901 triliun. Kenaikan itu tak diikuti kenaikan serapan tenaga kerja yang signifikan, yakni hanya 1,2 juta tenaga kerja, dan bahkan rasio serapan tenaga kerja per Rp 1 triliun investasi turun jadi 1.341 orang.

BKPM mencatat, hal itu disebabkan karena investasi kini mulai beralih ke sektor padat modal. Selain itu, transformasi industri ke teknologi yang semakin maju juga memberi andil terjadinya penurunan rasio penyerapan tenaga kerja. Andi mengatakan, hal tersebut menjadi keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

"Seperti di negara Jepang, dia bahkan tak hanya masuk revolusi industri 4.0. Jadi misalnya sekarang kalau ke Jepang, bisa saja datang ke restoran yang dilayani oleh robot misalnya. Terus datang ke hotel yang pelayannya juga robot. Mereka sudah masuk ke society 5.0," kata Andi.

Andi juga mengatakan, transformasi industri 4.0 juga akan diikuti dengan penyesuaian-penyesuaian profesi pekerjaan yang akan semakin maju dan mengandalkan teknologi.

"Ini adalah suatu keniscayaan, bahwa suka atau tidak suka kita harus masuk ke industri 4.0. Itu perubahan profesi, mungkin yang asalnya tidak tahu internet sama sekali, menjadi tahu sedikit, menjadi punya medsos dan sebagainya, itu yang kita dorong," pungkas dia.