Kumparan Logo

Trump Batalkan Rencana Pungut Biaya 20% bagi Kapal yang Melintas Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump berbicara di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membatalkan rencana untuk mengenakan biaya 20% terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Keputusan itu diambil setelah sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk mendesak Trump untuk mengurungkan niatnya.

Trump mengumumkan kebijakan itu pada Selasa (14/7), sehari setelah menyampaikan rencana pungutan.

Ia mengatakan, pendapatan yang semula diharapkan dari biaya itu akan digantikan oleh investasi langsung dari negara-negara Teluk ke AS. Namun, ia tidak menjelaskan nilai investasi maupun negara mana saja yang akan berpartisipasi.

“Saya telah memutuskan untuk mengganti biaya penggantian Amerika Serikat sebesar 20 persen dengan perjanjian perdagangan dan investasi yang akan dilakukan berbagai negara Teluk ke Amerika Serikat,” tulis Trump di media sosial, dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/7).

Meski membatalkan rencana tersebut, AS mengumumkan telah kembali menerapkan blokade terhadap aktivitas pelayaran Iran menuju dan dari pelabuhan maupun wilayah pesisirnya, yang mulai berlaku pukul 16.00 waktu Washington.

Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Keputusan Trump membatalkan pungutan tersebut menunjukkan perubahan sikap kebijakan AS terhadap jalur pelayaran strategis yang sebelumnya mengalirkan sekitar 1/5 pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.

Perubahan kebijakan itu juga memperkuat fenomena yang dikenal di kalangan pelaku pasar sebagai “TACO” atau Trump Always Chickens Out, istilah yang muncul tahun lalu ketika Trump beberapa kali mengubah sikap terkait kebijakan tarifnya.

Saat ditanya mengenai alasan pembatalan rencana tersebut, Trump mengatakan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memintanya lebih memilih memperoleh komitmen investasi dibandingkan mengenakan biaya transit.

“Saya tidak menyukai konsep mengenakan biaya,” ujar Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach, West Palm Beach, Florida, pada Senin (23/3/2026). Foto: Roberto SCHMIDT/AFP

Menurut seseorang yang mengetahui pembahasan tersebut, belum jelas apakah negara-negara Teluk telah memberikan komitmen investasi baru.

Setidaknya satu pemerintah di kawasan itu menyatakan belum sepakat menambah komitmen investasi yang sudah ada sebagai imbalan atas dibatalkannya pungutan transit di Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Selasa (14/7) malam, Trump mengatakan serangan AS terhadap Iran akan diperluas menjadi serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik pada pekan depan “kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi.”

Akibat tensi yang kembali meninggi, harga minyak mentah acuan global Brent naik mendekati USD 86 per barel setelah melonjak 11 persen dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Hatice Bakcepinar/Shutterstock

Pembatalan rencana pungutan di Selat Hormuz menunjukkan dilema yang dihadapi Trump ketika konflik dengan Iran kembali memanas dan Teheran tetap mempertahankan kendalinya atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Harga minyak sempat melonjak pada Senin setelah Trump pertama kali mengumumkan rencana mengenakan biaya yang disebut sebagai “reimbursement” atas jasa pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Kebijakan itu dikhawatirkan akan kembali mendorong kenaikan harga bensin di AS menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Pemerintah negara-negara Teluk segera meminta penjelasan setelah pengumuman Trump tersebut. Salah satu negara bahkan meragukan bahwa kebijakan itu benar-benar akan diterapkan.

Para pejabat kawasan tetap kompak menolak penerapan biaya transit di Selat Hormuz karena khawatir langkah tersebut akan mendorong negara lain, termasuk China, memberlakukan pungutan serupa di jalur pelayaran strategis lainnya.

Apabila benar diterapkan, pungutan tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD 30 juta untuk setiap kapal tanker raksasa bermuatan penuh yang mengangkut minyak.

Nilai itu jauh lebih tinggi dibandingkan biaya yang selama ini pernah dikenakan Iran, menurut sejumlah sumber yang mengetahui perhitungannya, yakni sekitar USD 2 juta untuk setiap pelayaran.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: DIA TV/Shutterstock

Biaya apa pun yang dikenakan oleh Iran maupun AS diperkirakan akan berdampak pada negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk serta negara-negara pengimpor di Asia.

Selain itu, kebijakan tersebut juga berpotensi menjadi preseden bagi penerapan pungutan di jalur pelayaran internasional lainnya, meskipun hukum internasional melarang praktik tersebut.

Pengenaan biaya transit juga dinilai dapat menghambat upaya Trump menekan inflasi menjelang pemilu paruh waktu, karena diperkirakan akan menambah sekitar 37 sen per galon pada harga bensin di Amerika Serikat, berdasarkan analisis perusahaan konsultan yang berbasis di Washington, ClearView Energy Partners.