Kumparan Logo

Trump dan Anwar Ibrahim Sepakati Perjanjian Dagang dan Pakta Mineral AS-Malaysia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menandatangani perjanjian dagang dan pakta mineral penting pada Minggu (26/10). Penandatanganan tersebut merupakan upaya memperkuat hubungan perdagangan di kawasan Asia Tenggara, serta merespons langkah China yang memperketat akses terhadap logam tanah jarang (rare earth).

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengatakan Malaysia akan menyesuaikan tarif serta hambatan non-tarifnya, dan hal itu diharapkan dapat memperluas volume perdagangan antara kedua negara. “Kami memperkirakan sektor pertanian, teknologi, dan jasa akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perjanjian ini,” ujarnya dalam acara penandatanganan di Kuala Lumpur, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (26/10).

Kerja sama di bidang mineral penting itu bertujuan memastikan perdagangan dan investasi di sektor logam tanah jarang dapat berlangsung “sebebas dan sekuat mungkin.” Sementara itu, Anwar menyebut kesepakatan tersebut sebagai tonggak penting yang akan memperdalam hubungan kedua negara, melampaui sekadar kerja sama ekonomi.

Malaysia Beri Akses Pasar ke AS

Dalam perjanjian itu, Malaysia akan memberikan “akses pasar istimewa” bagi produk kimia, mesin dan peralatan listrik, logam, kendaraan penumpang, serta ekspor pertanian dari AS. Negara tersebut juga berkomitmen untuk menghapus hambatan yang mengganggu perdagangan digital, sektor jasa, dan investasi.

Selain itu, Malaysia tidak akan memberlakukan larangan atau kuota ekspor terhadap mineral penting dan logam tanah jarang ke AS. Pemerintah juga berjanji mempercepat pengembangan sektor mineral dan logam tanah jarang melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan AS, termasuk dengan memberikan izin operasi jangka panjang.

Langkah tersebut sejalan dengan ambisi Malaysia untuk memperkuat posisi sebagai pemain penting dalam penambangan dan pengolahan logam tanah jarang yang banyak dibutuhkan, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga industri pertahanan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump joget saat tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: HASNOOR HUSSAIN / POOL / AFP

Kedua negara juga menyoroti sejumlah kesepakatan bisnis antara perusahaan Malaysia dan AS, yang mencakup pembelian semikonduktor, komponen dirgantara, dan peralatan pusat data dengan nilai total sekitar USD 150 miliar. Kesepakatan itu juga mencakup pembelian batu bara dan produk telekomunikasi senilai USD 204,1 juta, serta investasi modal di AS sebesar USD 70 miliar.

“Kesepakatan dagang dengan Malaysia kemungkinan akan dijadikan alat untuk mendorong sekaligus memberi tekanan agar kesepakatan serupa tercapai di negara lain di kawasan ini,” ujar mantan asisten menteri luar negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, Dan Kritenbrink.

Pertemuan Trump dengan Anwar menunjukkan bagaimana ia menjadikan tarif dan perdagangan sebagai senjata utama dalam kebijakan pemerintahannya di periode kedua. Pada hari yang sama, Trump juga menghadiri penandatanganan perjanjian antara Thailand dan Kamboja untuk meredakan konflik perbatasan yang sempat menewaskan puluhan orang. Konflik tersebut akhirnya mereda setelah Trump mengancam akan membatalkan kerja sama dagang dengan kedua negara.

Trump Juga Teken Perjanjian dengan Kamboja & Thailand

Trump pun mengumumkan perjanjian dagang besar dengan Kamboja serta pakta mineral penting dengan Thailand, meskipun yang terakhir masih bersifat komitmen awal untuk bekerja sama. Perjanjian dengan Kamboja akan membebaskan ratusan jenis barang dari tarif timbal balik yang diberlakukan Trump awal tahun ini.

Kunjungan Trump kali ini mencakup tiga negara di Asia, yaitu Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan, yang menandai perjalanan perdananya ke kawasan tersebut sejak kembali ke Gedung Putih. Ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan sebagai penutup kunjungan ini.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga berada di Kuala Lumpur untuk melakukan pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang pertemuan para pemimpin tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun dari pesawat Air Force One saat tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Perjanjian dengan Malaysia ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran terhadap ekspor negara itu ke ekonomi terbesar dunia. Trump sebelumnya telah menetapkan tarif sebesar 19 persen terhadap produk Malaysia pada Agustus, lebih rendah dari ancaman tarif 25 persen yang disampaikan pada Juli.

Berdasarkan data Perwakilan Dagang AS, nilai perdagangan antara kedua negara mencapai hampir USD 87 miliar tahun lalu. Sebagian besar berupa perdagangan barang, di mana AS mengalami defisit sebesar USD 25 miliar, sementara di sektor jasa justru surplus USD 1,7 miliar. Malaysia sendiri telah lama mengupayakan agar syarat perdagangan dengan AS menjadi lebih ringan, termasuk berjanji menindak penyelundupan semikonduktor canggih yang dikirim ke China melalui wilayahnya.

Menteri Perdagangan Zafrul Aziz menyatakan pada Sabtu (25/10) bahwa Malaysia tengah bernegosiasi agar tidak terkena tarif untuk ekspor semikonduktor ke AS, yang merupakan pasar terbesar ketiga bagi produk chip negara tersebut.

Adapun ekonomi Malaysia tumbuh 5,2 persen pada kuartal ketiga tahun ini, melampaui perkiraan analis. Namun, pemerintah memperkirakan pertumbuhan akan melambat ke kisaran 4 persen hingga 4,5 persen tahun depan, dari proyeksi ekspansi hingga 4,8 persen di tahun 2025.

instagram embed