Trump Kembali Ancam Tarif Tinggi ke Uni Eropa dan Apple
ยทwaktu baca 4 menit

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan dagang global. Ia mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap barang-barang asal Uni Eropa mulai 1 Juni. Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan memungut tarif 25 persen pada seluruh iPhone impor yang dijual di pasar domestik AS.
Mengutip Reuters, Minggu (25/5), pernyataan Trump yang disampaikan lewat media sosial ini langsung mengguncang pasar dunia, yang sebelumnya mulai tenang setelah beberapa pekan mereda dari ketegangan perdagangan. Indeks saham utama di AS dan Eropa melemah, dolar AS ikut tergelincir, sementara harga emas melonjak karena dianggap sebagai aset aman.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun sebagai reaksi atas kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari kebijakan tarif tersebut.
Trump menyasar Uni Eropa karena merasa proses negosiasi tidak berjalan cukup cepat. Langkah ini menandai kembalinya dinamika perang dagang antara Washington dan mitra-mitra perdagangannya yang selama ini telah menekan pasar global, dunia usaha, hingga konsumen.
Ancaman terhadap Apple sendiri merupakan bagian dari tekanan Trump terhadap perusahaan-perusahaan besar agar memindahkan rantai produksinya ke dalam negeri, seperti yang sebelumnya ia lakukan terhadap industri otomotif, farmasi, dan semikonduktor. Namun, produksi massal ponsel pintar di AS belum tersedia, meskipun konsumen Amerika membeli lebih dari 60 juta unit ponsel setiap tahun. Jika produksi iPhone benar-benar dipindahkan ke AS, harganya kemungkinan akan naik ratusan dolar.
Kemudian pada hari Jumat, Trump mengatakan kepada wartawan di dalam Ruang Oval bahwa tarif yang diusulkannya terhadap Apple juga akan berlaku untuk Samsung dan siapa pun yang membuat telepon pintar. Ia memperkirakan pungutan telepon baru akan berlaku pada akhir Juni.
Trump mengulangi keluhannya bahwa Uni Eropa memperlakukan AS dengan buruk dan melarang AS menjual mobil ke UE.
"Dan saya hanya berkata, sudah saatnya kita memainkan permainan ini dengan cara yang saya tahu. Saya tidak mencari kesepakatan," kata Trump saat ditanya apakah ia mengharapkan kesepakatan sebelum 1 Juni.
"Kami telah menetapkan kesepakatan, kesepakatannya 50 persen. Namun sekali lagi, tidak ada tarif jika mereka membangun pabrik di sini,โ imbuhnya.
Menanggapi pernyataan Trump, Kepala Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk mencari kesepakatan yang saling menguntungkan. Ia menyampaikan hal tersebut usai berbicara lewat sambungan telepon dengan utusan dagang AS, Jamieson Greer, dan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick.
Ia menambahkan, bahwa perdagangan Uni Eropa-AS harus dipandu oleh rasa saling menghormati, bukan ancaman.
Perdana Menteri Belanda Dick Schoof yang berbicara kepada wartawan di Den Haag juga menyuarakan dukungan terhadap pendekatan Uni Eropa. Ia menyebut bahwa ancaman dari Trump kemungkinan dipandang Uni Eropa sebagai bagian dari strategi negosiasi.
"Kita telah melihat sebelumnya bahwa tarif dapat naik dan turun dalam pembicaraan dengan AS," katanya.
Sebelumnya, Gedung Putih sempat menangguhkan sebagian besar tarif yang diumumkan pada awal April terhadap berbagai negara, setelah para investor bereaksi negatif dengan menjual aset-aset AS seperti obligasi dan dolar. Meski begitu, tarif dasar sebesar 10 persen untuk sebagian besar impor tetap diberlakukan, sementara tarif tinggi untuk barang-barang asal Tiongkok diturunkan dari 145 persen menjadi 30 persen.
Jika ancaman tarif 50 persen untuk Uni Eropa direalisasikan, harga berbagai produk dari mobil Jerman hingga minyak zaitun Italia berpotensi naik drastis.
Uni Eropa sendiri mengekspor barang ke AS senilai sekitar 500 miliar euro (sekitar USD 566 miliar) pada tahun lalu. Tiga negara dengan ekspor terbesar ke AS adalah Jerman (161 miliar euro), Irlandia (72 miliar euro), dan Italia (65 miliar euro). Produk utama ekspor meliputi obat-obatan, kendaraan dan suku cadangnya, bahan kimia, serta pesawat terbang.
Negosiasi dagang AS dengan negara-negara lain juga belum menunjukkan kemajuan signifikan. Para pemimpin keuangan dari negara-negara anggota G7 mencoba mengecilkan ketegangan tarif dalam forum yang digelar awal pekan ini di Pegunungan Rocky, Kanada.
"Uni Eropa merupakan salah satu kawasan yang paling tidak disukai Trump, dan ia tampaknya tidak memiliki hubungan baik dengan para pemimpin kawasan tersebut, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya perang dagang berkepanjangan antara keduanya," kata Kathleen Brooks, Direktur Penelitian di XTB.
Sementara itu, pembicaraan dagang AS-Jepang tampak lebih kondusif. Setelah bertemu dengan Lutnick dan Greer, negosiator utama Jepang Ryosei Akazawa menyatakan kedua pihak membahas perluasan perdagangan, hambatan non-tarif, dan isu keamanan ekonomi. Ia menyebut diskusi kali ini lebih terbuka dan mendalam dibandingkan sebelumnya.
"Negara kita memiliki kepentingan nasional yang harus dilindungi, jadi tidak cukup hanya dengan membuat kesepakatan dengan cepat," kata Akazawa.
"Sebagai seorang negosiator, saya dapat memberitahu Anda bahwa dalam negosiasi, pihak yang terjebak dalam tenggat waktu biasanya kalah,โ imbuhnya.
