Trump Larang Bombardier Jual Pesawat di AS jika Tak Pindahkan Lokasi Produksi

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam perusahaan pembuat pesawat asal Kanada, Bombardier, bahwa perusahaan tersebut tidak lagi diperbolehkan menjual produknya di AS kecuali memindahkan kegiatan manufakturnya ke Negeri Paman Sam.
“TIDAK ADA LAGI PENJUALAN BOMBARDIER DI AMERIKA SERIKAT! Jika mereka menginginkan pasar kami, mereka harus memproduksi di sini, dan berhenti memperlakukan Amerika seperti ‘celengan’,” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social, Senin (7/9).
Mengutip BBC, Pernyataan keras tersebut dilontarkan Trump di tengah memanasnya perang dagang antara kedua negara tetangga, serta berselang beberapa jam sebelum tarif balasan Kanada berlaku terhadap barang-barang AS senilai USD 20 miliar atau sekitar Rp 352,64 triliun.
Menanggapi hal itu, Bombardier menegaskan bahwa pihaknya mempekerjakan ribuan tenaga kerja di AS dan sangat menghargai kemitraan yang terjalin dengan perusahaan-perusahaan Amerika.
Kendati demikian, belum jelas mekanisme hukum yang akan digunakan Trump untuk memblokir operasional bisnis Bombardier di AS.
Perusahaan asal Montreal tersebut tercatat telah mengoperasikan pabrik di negara bagian Kansas yang memproduksi pesawat militer khusus, dengan mempekerjakan 3.500 pekerja lokal.
Bombardier juga memiliki fasilitas di berbagai wilayah seperti Texas, Arizona, Florida, Connecticut, Illinois, Delaware, California, Washington DC, hingga New Jersey. Sekitar separuh dari total armada Bombardier, atau sekitar 5.100 unit pesawat, dioperasikan oleh pelanggan yang berbasis di AS.
Dalam keterangan resminya, Bombardier menyatakan operasionalnya telah menciptakan puluhan ribu lapangan kerja di AS.
“Bombardier menghargai kemitraan yang baik dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan para karyawan kami di AS. Rencana kami adalah terus berinvestasi pada sumber daya manusia, pelanggan, dan komunitas tempat kami beroperasi di seluruh negeri,” tulis manajemen Bombardier.
Berdasarkan data perusahaan, jet Bombardier diproduksi di fasilitas yang tersebar di Kanada, AS, dan Meksiko. Operasional tersebut telah memenuhi ketentuan perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (CUSMA/USMCA).
Sebagai salah satu korporasi terbesar di Kanada, Bombardier menyumbang CAD 7,4 miliar (sekitar USD 5,4 miliar) terhadap PDB Kanada pada 2024 sekaligus menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di sektor manufaktur Quebec.
Premier Quebec, Christine Fréchette, menyebut Bombardier sebagai sumber kebanggaan wilayahnya. Ia mengonfirmasi telah berkoordinasi dengan CEO Bombardier Éric Martel untuk memberikan dukungan penuh.
“Saya tidak akan menanggapi provokasi dengan provokasi. Quebec tidak akan membiarkan siapa pun mendikte di mana perusahaan-perusahaan kami harus memproduksi barang agar dapat mengakses suatu pasar,” tegas Fréchette di media sosial X.
Eskalasi ini terjadi setelah perundingan perdagangan Kanada-AS menemui jalan buntu akhir bulan lalu, yang memicu AS mengenakan tarif baru sebesar 50 persen terhadap sejumlah komoditas asal Kanada.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menuding AS mengajukan syarat yang tidak adil, sementara pihak AS menyebut Kanada menolak kesepakatan karena alasan politik internal.
