Kumparan Logo

Trump Mau Kenakan Tarif 100 Persen ke China, Perang Dagang Bakal Memanas Lagi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Brendan Smialowski/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Brendan Smialowski/AFP

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan dagang dengan China setelah mengumumkan rencana kenaikan tarif besar-besaran terhadap ekspor dari Negeri Tirai Bambu ke AS.

Mengutip Reuters pada Sabtu (11/10), Trump di hari Jumat (10/10) waktu setempat mengumumkan tarif tambahan sebesar 100 persen untuk seluruh ekspor China ke AS.

Selain itu, Trump juga bakal memberlakukan pembatasan ekspor terhadap semua perangkat lunak penting paling lambat 1 November mendatang, sembilan hari sebelum kebijakan keringanan tarif yang ada saat ini berakhir.

Kebijakan ini disebut sebagai respons langsung terhadap keputusan China yang baru-baru ini memperluas kontrol ekspor atas elemen tanah jarang atau rare earth. China diketahui menguasai lebih dari 90 persen pasar pemrosesan mineral tersebut.

“Itu sangat mengejutkan, sangat, sangat buruk," kata Trump saat menanggapi langkah Beijing.

Trump juga mengindikasikan kemungkinan membatalkan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan tiga minggu lagi.

Melalui media sosial Truth Social, ia menulis bahwa “sekarang tampaknya tidak ada alasan untuk melanjutkan pertemuan tersebut," tulis Trump.

Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiri di dalam mobil untuk meninjau pasukan selama parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, di Beijing, China, Rabu (3/9/2025). Foto: Tingshu Wang/REUTERS

Namun kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyebut belum tentu membatalkan rencana pertemuan dengan Xi Jinping. “Saya belum membatalkan. Mungkin saja tetap akan dilakukan," jelas Trump.

Langkah terbaru Trump ini menjadi pukulan terbesar bagi hubungan Washington dan Beijing dalam enam bulan terakhir. Banyak analis mempertanyakan apakah gencatan senjata ekonomi yang dicapai pada musim panas lalu masih bisa bertahan.

Trump, yang dikenal kerap menggunakan tarif sebagai alat tekanan terhadap negara sahabat dan lawan, kembali menunjukkan pendekatan agresifnya. Para pengamat memperingatkan langkah tersebut berpotensi memicu babak baru perang dagang AS-China yang sebelumnya sempat mereda.

Analis memperkirakan, pembatasan ekspor perangkat lunak AS ke China bisa menjadi pukulan telak bagi industri teknologi Tiongkok, termasuk sektor komputasi awan (cloud computing) dan kecerdasan buatan (AI).

Trump bahkan mengancam akan menerapkan kontrol ekspor tambahan terhadap pesawat dan suku cadangnya, dan menurut sumber di Gedung Putih, pemerintahan saat ini tengah meninjau kemungkinan target-target baru.

China sebelumnya menyerukan agar AS menghentikan kebijakan perdagangan sepihak yang dinilai merusak tatanan perdagangan global.

Indeks Saham AS Melemah

Pernyataan Trump yang disampaikan melalui serangkaian unggahan di media sosial dan pernyataan langsung telah mengguncang pasar. Pada penutupan perdagangan di hari yang sama, indeks S&P 500 anjlok lebih dari 2 persen, menjadi penurunan satu hari terbesar sejak April.

Investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS, sementara dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Saham-saham teknologi turut terpukul dalam perdagangan setelah jam bursa menyusul rincian kebijakan tarif dan pembatasan ekspor tersebut.

video story embed