Tugas Berat Inalum Pascaakuisisi Freeport: Kelola Tambang Bawah Tanah

Proses penyelesaian pembayaran divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI) ditargetkan selesai bulan ini. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum yang ditugaskan pemerintah untuk mengakuisisi PTFI memiliki tugas yang tidak mudah. Bukan hanya akuisisi, Inalum juga harus mempersiapkan diri mengelola tambang bawah tanah.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Bambang Susigit mengatakan, pasca 2021 di mana Kontrak Karya PTFI akan habis, fokus PTFI bersama Inalum adalah tambang bawah tanah. Sebab, cadangan tambang terbuka (open pit) di Grasberg sudah akan habis.
Dia bilang, di sana ada 5 tambang bawah tanah yang saat ini tengah digarap PTFI. Pada 2019, PTFI akan fokus mengeruk di tambang bawah tanah yang pengelolaannya lebih sulit ketimbang tambang terbuka.
Karena itu, Bambang bilang, pemerintah harus menunjuk manajemen yang andal untuk bisa mengelolanya. Tak hanya itu, rencana strategi juga harus serius digarap secara transparan.
“Pemerintah harus menunjuk manajemen yang andal ke depan. Strategy plan harus benar-benar dilakukan agar transparan,” kata dia dalam diskusi terbatas mengenai Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport di Grand Hyatt, Jakarta, Senin (17/9).
Transparansi yang dimaksud Bambang di antaranya adalah penggunaan barang dan jasa yang diharapkan bisa berasal dari dalam negeri. Selain itu pengelolaan sumber daya alam, dan juga efisiensi dalam rangka kegiatan ini harus dapat digambarkan dari kepentingan pemerintah, masyarakat, dan mengakomodasi pelaku bisnis khususnya PTFI.

Pun dengan biaya yang dibutuhkan untuk mengelola tambang bawah tanah ini. Bambang membocorkan, berdasarkan data PTFI, biaya investasi perusahaan dari 2014-2021 di dalam tambang bawah tanah mencapai USD 7 miliar. PTFI menaksir biaya investasi tambah bawah tanah setelah 2021 bisa mencapai lebih dari USD 10 miliar.
“Rencana investasi, tahun 2014-2021 membutuhkan lebih kurang USD 7 miliar, terutama untuk pengembangan tambang dalam di luar kewajiban bangun smelter. Setelah 2021 masih butuhkan sekitar USD 10 miliar. Ke depan ini yang harus dicermati bersama sama strategi bisnisnya dan terfokus ke tambang dalam,” ujar dia.
Kata Bambang, produksi PTFI 300 ribu ton bijih per hari. Tapi menurut data Kementerian ESDM produksi tahun ini capai 240 ribu ton per hari. Rinciannya, 160 ribu ton tambang terbuka, 70 ribu ton dari tambang bawah tanah.
“Artinya ke depan 160 ribu ton tambang terbuka akan masuk ke tambang dalam dengan potensi cadangan besar. Kalau produksi tidak ubah 300 ribu ton, sampai 2041 cadangan bijih itu masih ada 2 miliar ton,” ucapnya.
