Tulang hingga Sisik Ikan, Semua Bisa Jadi Duit

Selain daging, ternyata masih banyak bagian tubuh ikan yang lain yang bisa dijual dan memiliki nilai tinggi. Misalnya kulit dan sisiknya. Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), Maman Hermawan, mengatakan pihaknya akan berupaya mendorong agar ke depan industri perikanan tidak hanya berorientasi pada produksi saja, tapi sudah masuk ke pola industri. Salah satunya dengan mendorong peemanfaatan beberapa bagian ikan yang selama ini hanya menjadi sampah dan dibuang. "Kalau dulu, kita tangkap atau mengelola ikan sebanyak 1 ton dijual ke pasar nilainya katakan lah hanya berapa. Dengan pendekatan blue economy, ikan itu diproses sedemikian rupa diambil dagingnya lalu dijual. Dengan begitu nilainya pasti lebih tinggi daripada raw materials, sebab semua bagian ikan punya nilai mulai dari tulang, kulit, hingga sisik. Minimal dijadikan sebagai tepung," katanya saat ditemui di Gedung BRSDM II, Jakarta Utara, Rabu (6/2).

Dia mencontohkan salah satu perusahaan perikanan di Medan, Sumatera Utara, yang menghasilkan 170 ton ikan nila per hari. Hampir semua daging yang diproduksi perusahaan tersebut diekspor ke Amerika Serikat, sementara kulitnya juga dipesan oleh pengusaha Prancis untuk dibuat collagen peptide, salah satu bahan kecantikan yang populer di negara barat. "Lalu, sisiknya itu dipesan oleh perusahaan di Jepang, Korea, dan China, mereka numbuk sisiknya untuk digunakan bahan collagen juga. Padahal, kita kalau impor kolagen mahal sekali kan," katanya. Beberapa jenis ikan yang bisa ditingkatkan nilai jualnya adalah teripang sebagai minyak dan bahan baku kolagen, ikan bulu babi, ikan patin, hingga ganggang cokelat sebagai bahan baku biofarmasetika. Maman mengimbau agar seluruh pelaku industri perikanan ke depan, khususnya nelayan, bisa menerapkan peningkatan nilai jual ikan melalui pendekatan industri ini. "Kayak misalnya ikan patin itu, kalau kalian buka perutnya kan penuh dengan minyak yang bisa dijadikan sebagai bahan mentega. Ini juga yang buat kita kalah saing dengan ikan dori (ikan patin asal Vietnam), mereka dagingnya diambil, di-fillet, dan diekspor ke berbagai negara. Lalu, minyaknya dibuat bahan margarin, bisa jadi side value-nya margarin ini jauh lebih besar ketimbang nilai dagingnya sendiri," pungkasnya.
