Kumparan Logo

UE-China Bakal Berunding di Beijing Gara-gara Defisit Dagang 360 Miliar Euro

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFP

Kepala perdagangan Uni Eropa (UE) Maros Sefcovic akan menuju Beijing pada Kamis (8/10) untuk menjalani pertemuan selama dua hari dengan pejabat China. Pertemuan yang dianggap penting itu digelar untuk berupaya mencegah terjadinya perang dagang.

Uni Eropa memperketat sikapnya terhadap Beijing untuk melindungi pelaku usaha dari apa yang dinilai sebagai persaingan tidak adil di sejumlah sektor strategis, termasuk industri otomotif.

Semakin banyak pemimpin dan pengamat Eropa memperingatkan munculnya “China Shock 2.0”, istilah yang digunakan untuk menggambarkan pergeseran perusahaan China menuju manufaktur berteknologi lebih tinggi. Perubahan itu dinilai mengancam sejumlah industri tradisional di Uni Eropa.

“China Shock” sendiri pertama terjadi pada awal 2000-an ketika membanjirnya produk ekspor China yang murah dan berteknologi lebih rendah menekan industri manufaktur, tidak hanya di Eropa tetapi juga di berbagai negara di dunia. Pejabat Uni Eropa dan China telah melakukan pembicaraan sejak Juni untuk mengatasi kekhawatiran Brussel mengenai ketidakseimbangan perdagangan saat ini.

Pada saat yang sama, Uni Eropa sedang mempersiapkan penguatan instrumen perlindungan perdagangannya. Namun, Beijing telah mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap kebijakan apa pun yang menyasar China.

Sefcovic meningkatkan ekspektasi terhadap pertemuan pekan ini. Pada musim panas, ia memperingatkan bahwa Uni Eropa mengharapkan “hasil nyata pada Oktober” dari proses perundingan tersebut.Namun, para pakar mengingatkan agar tidak terlalu berharap banyak dari pertemuan pekan ini.

“Barangkali akan ada beberapa hasil kecil, tetapi saya tidak mengharapkan terobosan besar dalam bentuk apa pun,” kata Direktur Kantor Brussels dari lembaga pemikir German Marshall Fund of the United States (GMF), Penny Naas, dikutip dari AFP pada Senin (5/10).

Profesor ekonomi di China Europe International Business School (CEIBS) di Shanghai, Zhu Tian, mengatakan pertemuan itu mungkin menghasilkan kesepakatan mengenai sejumlah persoalan spesifik, tetapi bukan penyelesaian menyeluruh atas hubungan perdagangan kedua pihak.

Brussel juga menyadari perundingan itu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi. Komisi Eropa tetap bekerja secara paralel untuk menyiapkan instrumen baru guna melindungi industri Eropa, yang diperkirakan akan dipresentasikan kepada para pemimpin Uni Eropa pada Desember.

Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFP

Defisit Perdagangan UE-China Capai 360 Miliar Euro

Hal utama yang ingin dicapai Uni Eropa adalah mengurangi defisit perdagangannya dengan China. Defisit perdagangan Uni Eropa dengan China mencapai sekitar 360 miliar euro pada 2025, yang berarti impor Uni Eropa dari negara Asia tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspornya ke China.

Sementara itu, China mencatat angka sekitar USD 292 miliar dan memperkirakan defisit tersebut akan kembali meningkat tahun ini.

Kepala penegakan perdagangan Uni Eropa, Denis Redonnet, mengatakan sejumlah sektor yang menghadapi peningkatan impor secara “berkelanjutan dan tidak normal” antara lain mesin, tekstil, logam dasar, dan bahan kimia.

Ia mengatakan terdapat tren yang berpotensi mengkhawatirkan pada hampir seperempat dari seluruh impor ke Uni Eropa saat ini, yang terutama didorong oleh produk-produk China. Pernyataan itu disampaikan Redonnet kepada Parlemen Eropa pada pekan lalu.

Sefcovic membeberkan Uni Eropa memiliki tiga tujuan utama. Salah satunya adalah mengatasi lonjakan ekspor China ke pasar Uni Eropa, terutama untuk sektor-sektor strategis, sekaligus meningkatkan ekspor produk Eropa ke China.

Brussel juga menginginkan “sistem lisensi ekspor untuk logam tanah jarang dan produk lainnya” setelah China sebagai salah satu produsen utama memberlakukan pembatasan terhadap komoditas tersebut pada tahun lalu.

Eropa pun berharap dapat mengendalikan ekspor China melalui pembatasan secara sukarela, misalnya untuk mobil hibrida yang dikirim ke Uni Eropa. Namun, seorang pejabat Uni Eropa mengatakan Brussel ingin memasukkan produk lain ke dalam mekanisme tersebut. Beijing telah menyatakan dengan tegas menolak penerapan kuota impor.

China memiliki ruang gerak yang terbatas karena permintaan domestiknya masih lemah. Kondisi itu membuat pemerintah China bergantung pada ekspor untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi. Karena Uni Eropa tidak mengharapkan perubahan signifikan dari China, seorang pejabat Uni Eropa yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan blok tersebut juga mempercepat persiapan instrumen perdagangan baru.

Di sisi lain, sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Prancis, mendorong pembentukan “versi Eropa dari Section 301”, yaitu instrumen perdagangan yang digunakan Presiden AS Donald Trump untuk menyelidiki praktik perdagangan negara lain yang dianggap diskriminatif oleh Washington dan kemudian meresponsnya dengan tarif.

Menanggapi laporan mengenai rencana instrumen tersebut pada pekan lalu, Beijing memperingatkan akan “merespons dengan tegas” setiap “tindakan pembatasan yang diskriminatif”. Uni Eropa memahami bahwa ancaman itu bukan sekadar pernyataan. China sebelumnya telah merespons kebijakan perlindungan perdagangan Uni Eropa dengan mengenakan bea terhadap cognac asal Eropa serta melakukan penyelidikan antidumping terhadap produk daging babi dan produk susu.

Brussel juga sedang mengembangkan instrumen yang dapat membantu perusahaan melalui pendanaan untuk melakukan diversifikasi pemasok di sektor-sektor strategis. Namun, masih belum jelas sejauh mana Uni Eropa secara keseluruhan bersedia mengambil langkah terhadap China karena khawatir tindakan tersebut dapat memicu respons dari Beijing.

Jerman, yang memiliki eksposur besar terhadap China karena negara tersebut merupakan mitra dagang terbesarnya, selama ini bersikap lebih berhati-hati. Namun, sikap Berlin mulai mengeras karena kekhawatiran terhadap kelebihan kapasitas produksi China yang dinilai menekan perekonomian Jerman yang bergantung pada ekspor.

instagram embed