kumparan
5 Juli 2018 18:26

Uji Coba Operasional Makassar New Port Dimulai Oktober 2018

Penyusunan peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) tahun ini akan mulai mengoperasikan Pelabuhan Makassar atau Makassar New Port pada Oktober 2018 mendatang. Pembangunan saat ini masih terus berjalan.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung mengungkapkan meski Oktober akan digelar soft launching, Makassar New Port baru akan benar-benar dioperasikan penuh pada Desember mendatang.
“Oktober kita selesai tapi kan musti segala uji coba segala macem. Soft launching-nya mungkin Oktober tapi bisa running full-nya Desember. Bahkan habis ini sudah coba dermaganya tapi belum ada crane. Kita uji coba dulu semuanya. Jadi kita pastikan bahwa ketika nanti pemindahan peti kemas yang lama ke yang baru sama sekali tidak ada kendala berarti,” kata Doso saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (5/7).
Doso menjelaskan, obligasi yang diterbitkan Pelindo IV hari ini sebesar Rp 3 triliun salah satunya adalah untuk mendanai Makassar New Port. Katanya, dari hasil dana yang terkumpul, sepertiganya akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan Makassar New Port.
Bongkar muat di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Tak hanya Makassar New Port, 3 pelabuhan lainnya juga akan mendapatkan kucuran dana dari obligasi ini. Ketiga pelabuhan tersebut adalah Kendari New Port, Pitung New Port, dan Pantoloan New Port.
ADVERTISEMENT
“Harapan kami dengan adanya obligasi Rp 3 triliun ini menambah kemampuan internal kami sehingga total investasi kami tahun ini saja Rp 5,5 triliun,” lanjutnya.
Soal pembangunan Makassar New Port, Doso mengklaim tidak terlalu menghabiskan dana yang besar. Pihaknya tetap melakukan penghematan alias efisiensi. Sehingga sampai tahap terakhir pembangunan sekarang, modal yang sudah digelontorkan hampir Rp 600 miliar. Dana tersebut termasuk digunakan untuk membangun dermaga.
“Harapannya pembangunan dan konektivitas Indonesia Timur bisa cepat terwujud karena luas wilayah yang kami tangani 50% dari wilayah Indonesia. Artinya 50% wilayah ini bisa tertangani,” ujar Doso.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan