Kumparan Logo

Uni Eropa Bakal Naikkan Tarif Impor Baja Jadi 50 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi baja dari Rusia. Foto: Yakov Oskanov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi baja dari Rusia. Foto: Yakov Oskanov/Shutterstock

Uni Eropa berencana menaikkan tarif impor baja mencapai 50 persen dan memotong hampir setengah volume baja yang diizinkan masuk sebelum tarif yang lebih tinggi itu diberlakukan.

Diberitakan Bloomberg, saat ini Uni Eropa memiliki aturan sementara untuk melindungi industri bajanya. Aturan ini berupa tarif impor sebesar 25 persen terhadap sebagian besar baja impor jika kuota impor yang ditetapkan sudah terlampaui. Namun demikian, mekanisme ini akan berakhir pada bulan Juni dan Uni Eropa berupaya menggantinya dengan peraturan yang lebih permanen, yang rencananya akan diluncurkan minggu depan.

Komisi Eropa, yang menangani urusan perdagangan Uni Eropa, berencana menaikkan tarif menjadi 50 persen untuk meminimalkan risiko pengalihan perdagangan. Langkah ini akan menyelaraskan tarif blok tersebut dengan Amerika Serikat, yang telah berupaya melawan kelebihan kapasitas dari China.

Berdasarkan perhitungan Bloomberg, dengan kebijakan baru ini, total kuota baja yang diizinkan masuk akan turun ke 18,35 juta ton. Jumlah ini berkurang rata-rata 43,7 persen dibanding periode hingga Juli 2024.

Rencana tersebut menguraikan kuota untuk jenis produk tertentu berdasarkan rata-rata historis. Komisi juga berupaya menetapkan kuota spesifik per negara untuk berbagai ambang batas.

Kebijakan ini akan ditinjau setiap lima tahun mulai Juli 2031 untuk mengevaluasi tren kelebihan kapasitas dan dampaknya terhadap pasar baja.

“Cakupan jenis dan kategori produk akan ditinjau dalam waktu dua tahun setelah peraturan tersebut disahkan,” tulis keterangan draf tersebut.

Selain itu, kebijakan ini juga mencakup ketentuan lebur dan tuang, yang menerapkan tarif dan kuota berdasarkan lokasi produksi baja pertama. Langkah-langkah tersebut dirancang untuk mencegah negara-negara produsen utama mengalihkan baja ke Eropa melalui negara lain.

Industri baja blok tersebut telah menghadapi krisis parah dalam beberapa tahun terakhir karena bergulat dengan impor murah dari China dan negara-negara Asia lainnya.

Secara terpisah, Uni Eropa masih berharap bisa merundingkan kesepakatan dengan Washington agar ekspor baja dan aluminium mereka ke AS tidak terkena tarif 50 persen.

Kepala industri Uni Eropa, Stephane Sejourne , mengatakan dalam rapat tertutup hari Rabu (1/10) bahwa komisi berencana untuk mengungkap usulannya guna menaikkan tarif baja minggu depan.

“Kami tetap percaya pada tatanan perdagangan internasional, tapi tidak akan menjadi satu-satunya yang memaksakan prinsip-prinsip yang tidak lagi berlaku bagi negara lain,” ujar Stephane menurut sumber yang mengetahui pernyataannya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (3/10).

Asosiasi baja Eropa, Eurofer, telah menuntut langkah-langkah yang lebih ketat untuk mencerminkan dinamika pasar baru dan meminta rezim perdagangan pasca-pengamanan yang komprehensif setelah tahun 2026 untuk mengatasi efek limpahan yang merusak dari kelebihan kapasitas baja global di pasar UE.

"Jika tidak ada hambatan yang kuat untuk mengirimkan baja dengan harga dibawah biaya produksi ke Eropa, elemen-elemen utama kemakmuran Eropa seperti mobil, truk, baterai, dan turbin angin tidak akan dapat diproduksi dengan baja kami sendiri," kata Henrik Adam , CEO Tata Steel Europe.

"Komisi telah memahami risikonya dan sekarang akan segera mengambil tindakan terkait perdagangan,” tambahnya.

***

Reporter: Nur Pangesti