kumparan
16 April 2018 14:30

Uni Eropa: Kami Ingin Pastikan Minyak Sawit RI Bebas dari Deforestasi

Perkenalan Produk Asian Agri oleh Kelvin Tio
Perkenalan Produk Asian Agri oleh Kelvin Tio. (Foto: Muhammad Fadli Rizal/kumparan)
Asian Agri bersama perwakilan 9 negara dari Uni Eropa mengunjungi perkebunan sawit milik Asian Agri yang ada di Tungkal Ulu, Jambi, Senin (16/4). Kunjungan para delegasi Uni Eropa ini adalah kelanjutan dari rangkaian acara yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri sebagai respons dari adanya kampanye negatif kelapa sawit Indonesia di Benua Biru tersebut.
ADVERTISEMENT
Kepala Delegasi Uni Eropa Vincet Guerend mengapresiasi langkah Kementerian Luar Negeri Indonesia yang menginisiasi kunjungan dari Uni Eropa. Ia mengatakan, kelapa sawit adalah salah satu sektor penting bagi ekonomi Indonesia.
"Minyak kelapa sawit di Uni Eropa sebagian besar dari Indonesia. Selain itu (kelapa sawit) Indonesia cukup penting untuk Uni Eropa," ungkap Vincent.
Hanya saja, Uni Eropa memang menerapkan prosedur ketat bagi produk minyak nabati impor seperti aspek lingkungan dan kesehatan. Dikatakan dia, pihaknya sangat mempedulikan soal keberlanjutan (sustainability) dari sebuah produk.
Perkenalan Produk Asian Agri oleh Kelvin Tio
Perkenalan Produk Asian Agri oleh Kelvin Tio. (Foto: Muhammad Fadli Rizal/kumparan)
"Maka penting bagi kami untuk memastikan bahwa ini (kelapa sawit) bisa berlanjut dan tidak menyebabkan deforestasi," tambahnya.
Namun dia menegaskan, Uni Eropa sama sekali tidak menghambat masuk produk minyak kelapa sawit Indonesia, misalnya dengan menerapkan tarif tinggi.
ADVERTISEMENT
“Oh tidak, tidak benar, itu berita bohong,” ujarnya.
Saat ini, isu yang sedang berkembang di Uni Eropa adalah tentang energi terbarukan. Menurutnya, beberapa negara Uni Eropa saat ini sedang mempertimbangkan soal energi terbarukan yang berasal dari limbah sawit. Sebagai catatan, nilai ekspor produk sawit ke negara-negara Uni Eropa naik 15% atau dari 4,37 juta ton di tahun 2016 menjadi 5,03 juta ton di tahun 2017.
"Mungkin kita bisa menyebutnya buruk, sama seperti penggunaan energi fosil,” tuturnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan