Untung Rugi RI saat AS dan China Bersaing jadi Negara Adidaya
ยทwaktu baca 3 menit

Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) melihat adanya persaingan antara Amerika Serikat dengan China untuk menjadi negara adidaya. PDB Amerika Serikat saat ini menjadi yang terbesar, USD 25,3 triliun di 2022, sementara China membuntuti di urutan kedua dengan nilai USD 19,9 triliun.
Selain ekonomi, sektor teknologi juga menjadi aspek persaingan di antara kedua negara itu. Mau tidak mau, Indonesia juga akan terpengaruh dari kompetisi perebutan hegemoni antara Amerika dengan China saat ini.
Gubernur Lemhannas, Andi Witjajanto, menjelaskan indeks keterpaduan geopolitik Indonesia saat ini ada di titik nol. Indeks ini menjelaskan kecenderungan keberpihakan negara-negara global di mana masing-masing kutubnya ada Amerika dan China yang saling bertolak belakang.
"Indonesia adalah negara yang dianggap benar-benar di tengah, di titik nol, tidak (berpihak) ke Amerika Serikat, juga tidak ke China," kata Andi dalam Webinar Memperkuat Ketahanan Nasional di Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK, Senin (22/5).
Negara-negara yang berpihak ke Amerika menurut indeks tersebut adalah Jepang, Australia, Korea Selatan, Jerman, Filipina, dan Italia. Sementara negara yang cenderung berada di pihak China adalah Laos dan Rusia. Posisi Indonesia yang di tengah-tengah, kata Andi, juga punya untung dan ruginya.
"Hal-hal positifnya, kita tidak akan terlibat dalam pertarungan kerasnya (persaingan global). Tapi kalau Amerika mencari stategic partner untuk investasi modal utama cenderung tidak ke Indonesia, bagaimana pun China," kata dia.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) di Indonesia sepanjang tahun 2022 mencapai USD 33,39 miliar. Amerika Serikat ada di urutan ke-6 dengan investasi sebesar USD 2,1 miliar. Andi menilai, Amerika tidak menjadikan Indonesia sebagai opsi utama tujuan investasi mereka.
"Amerika tetap akan bergerak ke Jepang, Australia, negara-negara Eropa Barat, Korea Selatan, dan seterusnya," ujarnya.
Sementara untuk China, dari total investasi asing di 2022 itu China berada di urutan kedua dengan realisasi investasi mencapai USD 5,18 miliar. Walau begitu, menurut Andi ada opsi negara lain yang diutamakan China.
"Sementara China hari ini kemungkinannya akan bergerak ke Rusia atau beberapa negara di Afrika.
Jokowi Mau Negara-negara Kolaborasi
Andi menambahkan, pemerintah Indonesia tidak mau terjebak pada kemungkinan sempit dengan cenderung memihak pada Amerika maupun China. Kementerian Luar negeri sudah menegaskan bahwa yang didorong Indonesia adalah keterlibatan antarnegara, bukan isolasi. Presiden Jokowi juga menegaskan hal ini.
"Itu disampaikan juga Pak Presiden ketika petemuan G7 di Hiroshima. Inti di G7 Hiroshima, Presiden membujuk negara G7 yang seolah bergerak satu blok, 'ayo lah jangan ekslusif jangan pikirkan rivalitas'. Presiden mengatakan ini waktunya kolaborasi global, ini waktunya keterlibatan global," kata Andi.
Pada tahun 2022 neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat surplus USD 16,5 miliar. Total perdagangan Indonesia dengan AS sebesar USD 39,81 miliar. Ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 28,20 miliar dan impor USD 11,61 miliar.
Sementara dengan China, neraca perdagangan Indonesia pada 2022 defisit sebesar USD 1,79 miliar. Total perdagangan Indonesia dengan China sebesar USD 133 miliar, dengan ekspor mencapai USD 65,9 miliar dan impor USD 67,7 miliar. Defisit perdagangan Indonesia ke China terus berulang dari 2018 sampai 2022, namun angkanya menyusut drastis.
