Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Usai Dapat Tarif Tinggi, Pemimpin Vietnam Tom Lam Telepon Trump Minta Dikurangi
5 April 2025 12:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Vietnam, To Lam, sepakat untuk membahas kesepakatan penghapusan tarif impor, usai melakukan percakapan telepon pada Jumat (4/4). Vietnam mendapat tarif impor yang cukup tinggi hingga 46 persen oleh AS.
ADVERTISEMENT
Beberapa hari sebelum Trump mengumumkan kebijakan tarif impor timbal balik yang tinggi bagi Vietnam, negara komunis itu telah lebih dulu memangkas sejumlah tarif sebagai bagian dari konsesi kepada AS.
Langkah ini juga mencakup janji untuk membeli lebih banyak produk Amerika, termasuk pesawat dan hasil pertanian.
“Baru saja melakukan panggilan telepon yang sangat produktif dengan To Lam, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam. Ia mengatakan Vietnam ingin menurunkan tarif mereka menjadi NOL jika bisa mencapai kesepakatan dengan AS,” tulis Trump seperti yang dikutip dari Reuters, Sabtu (5/4).
“Saya mengucapkan terima kasih atas nama negara kami dan menyatakan menantikan pertemuan dalam waktu dekat,” tambahnya.
To Lam membenarkan percakapan tersebut dan menyatakan komitmen untuk menurunkan tarif atas produk-produk asal AS.
ADVERTISEMENT
“Pada saat yang sama, beliau (Lam) juga mengusulkan agar AS menerapkan tarif serupa atas barang-barang impor dari Vietnam,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dipublikasikan di portal pemerintah Vietnam tak lama setelah unggahan Trump.
Kedua pemimpin sepakat untuk melanjutkan pembicaraan demi segera menandatangani perjanjian bilateral mengenai tarif.
Pemerintah Vietnam juga mengkonfirmasi bahwa Trump telah menerima undangan untuk berkunjung ke Vietnam dalam waktu dekat.
Vietnam, yang merupakan basis produksi utama bagi banyak perusahaan Barat, mencatat surplus perdagangan dengan AS sebesar lebih dari USD 123 miliar tahun lalu.
Kirim Delegasi ke AS
Vietnam juga tengah bersiap mengirim delegasi ke AS pekan depan untuk menuntaskan kesepakatan pembelian pesawat Boeing oleh salah satu maskapai Vietnam, menurut dokumen yang diperoleh Reuters.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Kamboja pada hari Jumat turut meminta pemerintah AS untuk menunda pemberlakuan tarif sebesar 49% atas produk-produknya.
Tarif timbal balik AS terhadap Kamboja dan Vietnam termasuk yang tertinggi dalam kebijakan dagang terbaru ini.
“Kamboja mengusulkan agar dapat segera membuka negosiasi dengan pemerintahan Anda dalam waktu yang paling memungkinkan,” tulis Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dalam suratnya kepada Trump yang dilihat oleh Reuters.
Berikut terjemahan yang lebih singkat, jelas, dan mudah dipahami dari kutipan berita tersebut:
Trump Langsung Respons
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Vietnam, To Lam, bersedia menghapus tarif impor untuk menghindari bea masuk sebesar 46 persen yang akan dikenakan AS terhadap barang-barang Vietnam.
“Vietnam ingin memangkas tarif mereka hingga nol jika bisa mencapai kesepakatan dengan AS,” kata Trump di media sosial, merujuk pada percakapan telepon mereka yang berlangsung Jumat pagi.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Vietnam telah meminta pemerintah AS menunda pemberlakuan tarif 46 persen tersebut selama tiga bulan untuk memberi waktu bernegosiasi.
Trump mengumumkan tarif “timbal balik” pada Rabu lalu yang menarget negara-negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam, yang selama ini menjadi alternatif pusat produksi selain Tiongkok.
Kamboja, yang juga terancam tarif 49 persen, menyatakan akan menurunkan tarif atas produk-produk AS, sementara Indonesia berjanji melonggarkan aturan perdagangannya.
Wakil Perdana Menteri Vietnam, Ho Duc Phoc, mengatakan negaranya akan terus berupaya meningkatkan pembelian produk AS sebagai bagian dari solusi. Hal ini disampaikannya setelah menggelar rapat dengan pejabat dan pelaku usaha untuk membahas langkah menghadapi tekanan tarif tersebut.