Kumparan Logo

Usai Tahun Ajaran Baru, Intensitas Menabung Masyarakat Melandai

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta didik baru memasang atribut saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2023/2024 di SMP Negeri 14 Denpasar, Bali, Senin (10/7/2023). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
zoom-in-whitePerbesar
Peserta didik baru memasang atribut saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2023/2024 di SMP Negeri 14 Denpasar, Bali, Senin (10/7/2023). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, kebiasaan menabung masyarakat melandai pada September 2025. Hal ini tercermin dari Indeks Menabung Konsumen (IMK) yang turun ke level 77,3 atau melemah 1,6 poin dibanding bulan sebelumnya.

Pelemahan paling nyata terjadi pada Indeks Intensitas Menabung (IIM) yang anjlok 3,6 poin ke level 67,1. Artinya, semakin banyak responden yang menilai jumlah tabungan mereka lebih kecil dari yang direncanakan. Persentasenya naik dari 47,5 persen pada Agustus menjadi 54,4 persen pada September 2025.

Kondisi ini erat kaitannya dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pendidikan setelah dimulainya tahun ajaran baru.

“Perkembangan ini mencerminkan intensitas menabung konsumen yang melandai seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan pada tahun akademik baru. Meski demikian, niat menabung konsumen masih terjaga, baik untuk saat ini maupun tiga bulan ke depan,” ujar Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/10).

Meski IIM turun, komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) justru sedikit menguat. Indeks ini naik 0,4 poin ke level 87,4, seiring meningkatnya porsi masyarakat yang menilai sekarang maupun tiga bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk menabung.

Jika ditinjau berdasarkan pendapatan, kelompok rumah tangga (RT) berpenghasilan Rp 1,5 juta–Rp 3 juta per bulan mencatat penurunan terdalam, yakni 6,1 poin. Disusul kelompok Rp 3 juta–Rp 7 juta/bulan yang turun 1,9 poin dan kelompok di atas Rp 7 juta per bulan yang terkoreksi tipis 0,4 poin.

Meskipun menurun, kelompok RT berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan masih menunjukkan kemampuan menabung yang relatif kuat karena IMK mereka tetap bertahan di atas 100. Sebaliknya, rumah tangga dengan penghasilan kurang dari Rp 1,5 juta justru mengalami lonjakan signifikan, naik 21,8 poin dibanding bulan sebelumnya.

Konsumen Masih Optimis

Dua warga beraktivitas di rel kereta api di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (16/7/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di sisi lain, hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS menunjukkan optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi masih terjaga. Indeks Ekspektasi (IE) tetap berada di level optimis yakni 109,0 meski turun 2,0 poin dari Agustus 2025.

Namun, Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) merosot 5,4 poin ke 65,8, menandakan konsumen menilai kondisi ekonomi dan lapangan kerja saat ini sedang melemah. Dampaknya, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) turun ke level 90,5 atau melemah 3,5 poin dibanding bulan sebelumnya.

“Konsumen menghadapi kenaikan harga sembako dan kondisi lapangan kerja yang sulit, sehingga berkontribusi pada penurunan IKK pada bulan September lalu. Selain itu, penurunan IKK juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti kegagalan panen dan harga pupuk yang mahal. Cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah, baik berupa curah hujan tinggi maupun kekeringan, menyebabkan kekhawatiran akan risiko kegagalan panen,” jelas Seto.

Berdasarkan pendapatan, IKK kelompok rumah tangga dengan penghasilan di atas Rp 7 juta per bulan masih bertahan di zona optimis meski turun 2,3 poin. Sementara itu, IKK kelompok pendapatan lain mengalami penurunan lebih dalam, antara 2,6 hingga 10,4 poin.

instagram embed