Kumparan Logo

Utang AS Diproyeksi 160 Persen terhadap PDB, Ekonom Ungkap Dampaknya ke IHSG

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menghitung uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Rabu (6/1). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menghitung uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Rabu (6/1). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Scope Ratings memperkirakan rasio utang Amerika Serikat (AS) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa mencapai 160 persen dalam 10 tahun jika tidak ada pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat atau penyesuaian fiskal yang signifikan.

Mengutip Bloomberg, Minggu (4/10), Scope dalam pernyataan pada Jumat mempertahankan peringkat AS di level AA-, dengan prospek stabil. Namun, lembaga pemeringkat tersebut memperingatkan kebijakan AS yang terus menambah utang tidak dapat berlangsung selamanya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai risiko fiskal AS serius, tetapi lebih bersifat kronis dibandingkan akut.

“Scope juga cenderung lebih pesimistis dibandingkan lembaga pemeringkat lain. Peringkatnya terhadap AS berada dua tingkat di bawah Moody’s, Fitch, dan S&P. Sebagai pembanding, CBO memperkirakan rasio utang AS mencapai sekitar 120 persen terhadap PDB pada 2036. Perbedaan proyeksi tersebut antara lain berasal dari definisi utang dan asumsi ekonomi yang digunakan,” ucap Yusuf kepada kumparan, Senin (5/10).

Menurut Yusuf, tekanan yang lebih nyata dari tingginya utang AS adalah meningkatnya imbal hasil yang diminta investor untuk memegang surat utang pemerintah AS berjangka panjang.

“Karena itu risiko gagal bayar ekonomis tetap sangat kecil. Tekanan yang lebih nyata adalah meningkatnya imbal hasil yang diminta investor untuk memegang utang AS berjangka panjang,” jelasnya.

Yusuf menilai proyeksi Scope bukan merupakan katalis baru bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi bisa memperkuat tekanan yang sudah berlangsung di pasar.

“Bagi IHSG, penilaian Scope bukan katalis baru, tetapi memperkuat tekanan yang sudah berlangsung,” sebut dia.

Katanya, kenaikan yield US Treasury (UST) bisa meningkatkan biaya modal global dan memperkuat dolar AS. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang.

Meski demikian, Yusuf menilai dampak langsung dari laporan Scope terhadap pasar kemungkinan masih terbatas. Risiko yang lebih besar justru berasal dari kebuntuan plafon utang AS atau lelang Treasury yang tidak mendapat permintaan memadai.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai proyeksi utang AS sebesar 160 persen terhadap PDB dalam 10 tahun merupakan risiko struktural yang cukup serius bagi pasar keuangan global.

Seorang pria mengamati layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, (12/12/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Risiko terutama, kata Nafan berasal dari potensi meningkatnya kebutuhan penerbitan US Treasury yang pada akhirnya bisa menjaga yield obligasi AS tetap tinggi.

“Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan global dan membuat investor semakin selektif dalam mengalokasikan dananya,” sebut Nafan.

Namun, dia menilai kondisi tersebut belum menunjukkan krisis fiskal AS dalam waktu dekat karena dolar AS masih menjadi mata uang cadangan global, sementara pasar keuangan AS masih dalam dan US Treasury tetap menjadi salah satu aset safe haven utama.

Faktor Eksternal Masih Dominan

Lebih lanjut, Nafan menilai tekanan eksternal masih cukup dominan dalam menentukan volatilitas IHSG dalam jangka pendek.

“Risiko fiskal AS berpotensi menjadi katalis negatif tambahan dalam jangka pendek, khususnya apabila isu tersebut mendorong kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS,” ungkap Nafan.

Nafan menilai kondisi tersebut bisa meningkatkan opportunity cost investasi di emerging market dan memicu rebalancing portofolio menuju aset berbasis dolar AS.

“Dampaknya dapat terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot tinggi terhadap IHSG dan relatif sensitif terhadap perubahan arus dana asing, termasuk sektor perbankan,” ujar dia.

instagram embed