Utang Luar Negeri RI Naik 10,1% di Kuartal IV 2017

Bank Indonesia melaporkan utang luar negeri pada kuartal empat 2017 tercatat USD 352,2 miliar atau sekitar Rp 4.752 triliun (kurs Rp 13.500), tumbuh 10,1% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Perkembangan utang luar negeri ini terjadi baik di sektor publik maupun swasta, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya," kata Direktur Eksekuti Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, dalam keterangan resmi, Senin (19/2).
Meskipun terjadi kenaikan, bank sentral mengklaim kondisi utang masih terkendali. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat stabil di kisaran 34%. Berdasarkan jangka waktu, struktur utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal keempat 2017 dinilai aman.
Utang luar negeri tetap didominasi berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1% dari total utang luar negeri, dan pada akhir kuartal keempat 2017 tumbuh 8,5% (year on year/yoy). Sementara itu, utang luar negeri berjangka pendek tumbuh 20,7% (yoy).
Menurut sektor ekonomi, posisi utang luar negeri swasta pada akhir kuartal keempat 2017 terutama dimiliki sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), serta pertambangan.
Pangsa utang luar negeri keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta mencapai 76,9%, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pangsa pada kuartal sebelumnya sebesar 77%.
Pertumbuhan utang luar negeri pada sektor keuangan, sektor industri pengolahan, dan sektor LGA meningkat dibandingkan dengan kuartal ketiga 2017. Di sisi lain, utang luar negeri sektor pertambangan mengalami kontraksi pertumbuhan.
Selain itu, rasio utang jangka pendek terhadap total ULN juga relatif stabil di kisaran 13%. Kedua rasio ULN tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara peers.
"Bank Indonesia terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk meyakinkan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," jelasnya.
