Utang Pemerintah Nyaris Rp 7.500 T, Luhut Klaim Masih Paling Rendah

29 November 2022 21:50
·
waktu baca 2 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan gelar konferensi pers di media center KTT G20, Bali, Selasa (15/11). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan gelar konferensi pers di media center KTT G20, Bali, Selasa (15/11). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengeklaim utang pemerintah Indonesia masih paling rendah dibandingkan negara lain. Menurutnya, kenaikan utang juga diikuti dengan meningkatnya nilai produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi hingga aliran masuk di pasar modal.
Berdasarkan data APBN, total utang pemerintah nyaris Rp 7.500 triliun atau tepatnya mencapai Rp 7.496,7 triliun hingga akhir Oktober 2022. Rasio utang ini sebesar 38,36 persen terhadap PDB.
"Kalau orang bilang Rp 7.000 triliun dari mana datanya? GDP kita kan naik, pertumbuhan ekonomi bagus, stock exchange juga bagus. Kemudian exchange rate di bursa juga bagus," kata Luhut dalam acara PermataBank Wealth Wisdom 2022 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Selasa (29/11).
Ia melihat bahwa data menunjukkan ekonomi Indonesia masih bagus di tengah pelemahan global. Hal ini dinilai bisa menjadi acuan masyarakat.
"Jadi data-data kalau kita lihat semua data, ini angkanya masih baik. Jadi yang salah di mana? Tidak ada," jelasnya.
Teller Bank Mandiri menunjukkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Bank Mandiri KCP Jakarta DPR, Senin (7/1/2019). Kurs Rupiah terhadap Dolar AS menguat 1,3 persen menjadi Rp14.080.  Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Teller Bank Mandiri menunjukkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Bank Mandiri KCP Jakarta DPR, Senin (7/1/2019). Kurs Rupiah terhadap Dolar AS menguat 1,3 persen menjadi Rp14.080. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Luhut juga membeberkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih tumbuh positif. Untuk itu, Ia meminta agar tidak ada yang memperdebatkan bahkan meremehkan pertumbuhan ekonomi yang positif.
"Kalau kita lihat keadaan tahun ini tidak baik, Indonesia makro ekonomi masih bagus. Semua mengatakan, data, jadi kita jangan berdebat tanpa data," ujar Luhut.
Meski begitu, ia tidak memungkiri bahwa situasi global masih belum lepas dari berbagai permasalahan. Salah satunya akibat konflik geopolitik Ukraina-Rusia.
"Perang di Ukraina-Rusia masih masalah dan terus mengganggu kita. Kemudian, keadaan global masih mengganggu kita, saya kira ini belum selesai," kata dia.
Luhut meminta apabila ada yang berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mampu menunjukkan data untuk memvalidasi kebenarannya. "Kalau ada pengamat bicara ke Anda ngomong gini-gitu, kasih tunjuk datamu. Jangan bohongi rakyat," ungkapnya.
Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2022 masih terjaga di kisaran 5,7 persen. Untuk itu, Luhut optimis dengan ekonomi nasional yang masih bertahan di kisaran 5 persen sampai dengan akhir 2022.
"Economy growth kita masih bagus, kuartal III-2022 masih 5,7 persen. Kemudian, inflation rate masih 5,7 persen juga. Kita berharap tahun ini kita kira-kira sekitar 5 persen lah," pungkas Luhut.