Kumparan Logo

Vale Targetkan Blok Tanamalia Beroperasi 2029, Bakal Dibangun Ekosistem Baterai

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
MIND ID Resmi Jadi Pemegang Saham Terbesar PT Vale Indonesia Tbk Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
MIND ID Resmi Jadi Pemegang Saham Terbesar PT Vale Indonesia Tbk Foto: Dok. Istimewa

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menargetkan pertambangan nikel baru perusahaan, Blok Tanamalia, akan mulai beroperasi sekitar tahun 2029 dan 2031. Perusahaan juga akan membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di proyek yang berada di konsesi tambang perusahaan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan pengembangan proyek Blok Tanamalia saat ini masih dalam proses kajian eksplorasi dan penelitian dan akan diproses setelah proyek IGP Sorowako.

"Habis itu 2029-2031 itu Tanamalia. Harapan kita studi detail eksplorasinya berjalan di Tanamalia sehingga kita bisa memastikan lagi kandungan sumber daya dan cadangannya yang ada, dari situ sebagai dasar seberapa lama ini life of mine-nya," jelasnya saat berbincang media massa, Kamis (13/8).

Budi mengatakan pembahasan Blok Tanamalia belum mencapai desain proyek, sebab perusahaan masih harus memastikan kuantitas cadangan nikel di pertambangan, sebelum akhirnya menentukan pengembangan industri baterai seperti proyek yang lain.

Vale Indonesia memiliki 3 proyek smelter terintegrasi dalam Indonesia Growth Project (IGP), yakni IGP Pomalaa, IGP Morowali-Bahodopi, IGP Sorowako. Proyek terakhir diprediksi rampung pada tahun 2027. Sementara proyek Blok Tanamalia masih dalam tahap front end loading (FEL) kedua hingga akhir tahun ini.

"Kita melakukan pendetailan sekarang yang kami bilang masuk kepada tahap FEL 2 untuk melakukan pendetailan sumber daya cadangan di situ. Sehingga benar-benar ada gambaran-gambaran detil nanti pada saat kita melakukan detail desain," tutur Budi.

"2027 itu proses pendetailan eksplorasi ya, studi eksplorasi tahap 2 dan nanti ada pendetailan desain. Ya estimasi forecast kita (beroperasi) 2029," imbuhnya.

Budi menegaskan bahwa perusahaan akan tetap mendengar aspirasi masyarakat, sebab wilayah Blok Tanamalia beririsan dengan hutan lindung dan perkebunan masyarakat. Semua kerangka risiko dipersiapkan untuk tahap FEL 3.

Power Plant PT Vale Indonesia (INCO) di Sorowako. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

"Pada saat nanti FEL 3 kita sudah bicara detail bagaimana kita konstruksi tambang dengan aman, bagaimana beban lingkungan kalau kita nambang sekian jangan sampai mencemari Danau Towuti," tegas Budi.

Untuk saat ini, perusahaan memastikan akan ada ekosistem baterai terintegrasi di Blok Tanamalia, sama seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) IGP. Meskipun keputusannya belum bisa dipastikan sebelum ada data cadangan yang lengkap.

"Tambang ini kan padat modal, padat risiko gitu ya, padat karya. Ya, jadi ini benar-benar harus kita confirm berapa besar cadangan yang ada dan berapa besar sumber daya yang ada di situ," tandas Budi.

Tanamalia merupakan proyek pengembangan Vale Indonesia yang berlandaskan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta PPKH No. 885 Tahun 2025 untuk kegiatan eksplorasi di kawasan hutan.

Berlokasi di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 13.556,8 Ha di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, eksplorasi telah dilakukan bertahap sejak 1970. Ke depan, proyek direncanakan memasuki eksplorasi rinci (2025-2026), konstruksi (2027-2028), dan penambangan paling cepat pada 2030, bergantung pada kelayakan cadangan nikel.

Sebelumnya, Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Imanto, mengatakan saat ini kelanjutan proyek Blok Tanamalia masih dieksplorasi. Sementara rencana investasi untuk proyek hilirisasi, berupa pembangunan smelter, akan dilaksanakan terpisah.

"Kita masuk eksplorasi, kemudian nanti kan investasi untuk hilirisasinya kan terpisah gitu ya. Jadi kita fokus dulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk men-justify pengembangan tambang," ungkapnya saat ditemui di acara Peluncuran dan Bedah Buku Bahlil Lahadalia, dikutip Sabtu (8/8).

Saat ditanya terkait mitra di proyek tersebut, Bernardus tidak berkomentar banyak, termasuk apakah kemungkinannya adalah perusahaan otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW) yang sebelumnya menyatakan ketertarikan pada proyek Vale Indonesia.

Power Plant PT Vale Indonesia (INCO) di Sorowako. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Dia hanya menyebutkan bahwa mitra tersebut akan bekerja sama dengan perusahaan dalam pengembangan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mengolah nikel kadar rendah (limonit).

Sebelumnya, VW menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan Vale Indonesia dan sudah melihat langsung tambang di Sorowako, Sulawesi Selatan. Dari kunjungan itu, kepada Vale Indonesia, VW menyatakan minatnya untuk bekerja sama.

Ketertarikan VW bekerja sama dengan Vale juga diutarakan oleh Bahlil Lahadalia, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Dia menyebutkan, VW melalui PowerCo akan membangun ekosistem baterai mobil di Indonesia dengan bekerja sama bersama sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan nasional.

instagram embed