Vietnam-Malaysia Kecipratan Berkah AI, RI Masih Andalkan Konsumsi

Ledakan aktivitas kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) global mulai menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Timur dan Pasifik. Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan secara merata, termasuk Indonesia yang belum banyak terintegrasi dalam rantai pasok produk terkait AI.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Ohnsorge, mengatakan negara-negara yang terhubung kuat dengan rantai pasok global produk terkait AI, terutama Vietnam dan Malaysia, mendapat dorongan dari meningkatnya investasi dan ekspor teknologi tinggi.
“Indonesia itu menarik. Indonesia sebenarnya lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global terkait AI ini. Yang benar-benar kuat di Indonesia adalah permintaan domestik,” kata Ohnsorge dalam konferensi pers, Selasa (6/10).
Menurutnya, permintaan domestik menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara di kawasan yang memperoleh manfaat lebih besar dari lonjakan aktivitas AI global.
Ohnsorge menjelaskan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik saat ini banyak dipengaruhi dua tren besar, yakni lonjakan aktivitas terkait AI dan tingginya harga energi.
Sektor elektronik Asia Timur menjadi bagian penting dari rantai nilai AI global. Produk-produk terkait AI bahkan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekspor di sejumlah negara Asia Timur. Kontribusinya mencapai lebih dari 70 persen pertumbuhan ekspor di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Integrasi yang semakin kuat ke rantai pasok AI juga membuat proyeksi pertumbuhan ekspor sejumlah negara tersebut meningkat. Negara yang semakin terintegrasi dengan rantai nilai global AI mendapatkan peningkatan proyeksi ekspor yang lebih besar.
“Bahkan China juga mengalami peningkatan proyeksi dibandingkan enam bulan lalu. Jadi, saya pikir alasan utama yang berlaku di seluruh kawasan dan tidak spesifik pada negara tertentu adalah lonjakan aktivitas global terkait AI yang mendorong pertumbuhan di Asia Timur, termasuk terutama negara-negara yang sangat aktif dalam rantai pasok global terkait AI. Pada dasarnya, sektor elektronik, dan itu termasuk Malaysia,” ungkapnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik diperkirakan tetap kuat meski melambat. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan kawasan rata-rata 4,5 persen pada 2026 dan 2027, atau 0,3 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi enam bulan sebelumnya.
Peningkatan proyeksi tersebut terutama didorong kuatnya investasi teknologi tinggi dan ekspor negara-negara yang masuk dalam rantai nilai AI.
Indonesia Belum Banyak Kecipratan
Berbeda dengan Vietnam dan Malaysia, Indonesia dinilai belum memperoleh manfaat sebesar negara-negara yang lebih terintegrasi dalam rantai pasok AI global. Ohnsorge mengatakan kekuatan Indonesia justru berasal dari permintaan domestik yang tetap kuat.
“Itulah yang menopang pertumbuhan di Indonesia. Dan itulah yang membuat Indonesia sedikit berbeda dari negara-negara lain di kawasan,” kata dia.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia memiliki karakter pertumbuhan yang berbeda dibandingkan negara-negara yang pertumbuhannya lebih banyak mendapatkan dorongan dari ekspor produk terkait AI.
Namun, posisi Indonesia yang relatif tidak terlalu terpapar terhadap gelombang AI juga ada peluang, sekaligus tantangan untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi tersebut.
Bank Dunia menilai negara-negara yang belum berada di garis depan adopsi AI perlu meningkatkan adopsi sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi lokal. Fondasi pendukung seperti kemampuan matematika, komunikasi, kemampuan sosial, dan penalaran kritis dinilai penting agar AI benar-benar dapat meningkatkan produktivitas pekerja.
“Ini bukan hanya soal mengadopsi AI atau memiliki keterampilan terkait AI. Ini tentang bagaimana memanfaatkannya dengan baik. Dan cara untuk memanfaatkannya dengan baik adalah dengan memiliki pondasi analog,” ungkapnya.
AI Juga Bisa Jadi Risiko
Di balik manfaat tersebut, Bank Dunia mengingatkan kebergantungan terhadap rantai pasok AI juga dapat menjadi sumber risiko apabila terjadi koreksi aktivitas AI global.
Negara-negara Asia Timur yang sangat bergantung pada ekspor produk terkait AI dapat mengalami tekanan apabila permintaan global terhadap produk tersebut melambat. Risiko tersebut dapat muncul melalui perdagangan sekaligus sektor keuangan.
“Kami mengidentifikasi risiko koreksi terkait AI, baik dalam investasi maupun pasar keuangan, sebagai salah satu risiko terhadap pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik,” tutur Ohnsorge.
Menurut Ohnsorge, Asia Timur memiliki eksposur lebih besar karena dampak koreksi AI dapat masuk melalui dua jalur. Perlambatan ekspor dapat terjadi bersamaan dengan pengetatan kondisi keuangan.
“Kawasan lain hanya akan terdampak melalui sektor keuangan. Namun Asia Timur, karena benar-benar berada di tengah gelombang tersebut, akan terdampak melalui kedua jalur. Jadi, ekspornya akan melambat, tetapi pada saat yang sama kondisi keuangannya mungkin mengetat,” terangnya.
Bank Dunia juga menemukan bahwa manfaat AI terhadap produktivitas perusahaan belum sepenuhnya terlihat. Dalam survei perusahaan di kawasan, Thailand menjadi salah satu contoh negara yang tingkat pemanfaatan AI oleh perusahaan masih relatif rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Pada Desember tahun lalu, sekitar 43 persen perusahaan di AS telah menggunakan AI, sedangkan di Thailand baru 12 persen. Dari perusahaan Thailand yang menggunakan AI tersebut, hanya sekitar 4 persen yang membayar penggunaan teknologi AI.
Ohnsorge mengatakan sekitar 80 persen perusahaan Thailand saat ini belum melihat peningkatan produktivitas dari penggunaan AI karena masih berada dalam tahap eksperimen dan mencari bentuk pemanfaatan yang tepat.
“Sekitar 80 persen perusahaan Thailand saat ini belum melihat peningkatan produktivitas dari AI,” kata dia.
Menurutnya, dampak produktivitas yang lebih besar baru akan terlihat ketika perusahaan tidak sekadar menggunakan AI, tetapi mulai mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis.
Di sisi lain, adopsi AI mulai mengubah kebutuhan keterampilan di pasar tenaga kerja. Perusahaan tidak hanya mencari kemampuan teknis terkait AI, tetapi juga kemampuan dasar yang membantu pekerja memanfaatkan teknologi tersebut secara efektif, seperti matematika, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan sosial.
