Wabah Bentol-bentol Kulit Serang Sapi Indonesia, Ini yang Dilakukan Kementan
·waktu baca 3 menit

Kementerian Pertanian (Kementan) angkat suara terkait kabar sapi di Indonesia sudah ada yang terkena Lumpy Skin Disease (LSD), atau penyakit bentol-bentol kulit.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nasrullah, mengungkapkan pihaknya siap mengerahkan sumber daya untuk menangani penyakit kulit pada sapi tersebut.
Nasrullah mengungkapkan Lumpy Skin Disease pada sapi di Indonesia sejauh ini ditemukan di Provinsi Riau. Sebelumnya penyakit tersebut juga terjadi di beberapa negara di Asia termasuk di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja.
"Untuk penanganan LSD di Riau, kita akan kerahkan dokter hewan dan paramedik staf Kementan di Riau untuk membantu melakukan vaksinasi," kata Nasrullah melalui keterangan yang dikirimkannya, Senin (7/3).
Nasrullah memastikan Kementan telah melaksanakan berbagai upaya pencegahan masuknya penyakit LSD ini ke Indonesia. “Upaya-upaya kewaspadaan tersebut telah dilakukan sejak penyakit ini masuk ke Asia Tenggara sejak tahun 2019," ujar Nasrullah.
Nasrullah meminta kepada semua peternak dan juga dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan, baik di kabupaten maupun provinsi agar membatasi lalu lintas ternak untuk pencegahan penyebarluasan penyakit Lumpy Skin Disease ini.
Senada, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menegaskan pihaknya telah mengeluarkan Surat Edaran kewaspadaan penyakit Lumpy Skin Disease kepada para pemangku kepentingan di seluruh Indonesia sebanyak 4 kali.
"Kita gencarkan juga sosialisasi tentang LSD melalui berbagai media serta webinar berseri tentang kesiapsiagaan terhadap LSD pada tahun 2021," ungkap Nuryani.
Upaya peningkatan kewaspadaan tersebut, kata Nuryani, bisa membuat petugas di lapangan dapat mendeteksi secara cepat kejadian LSD, melaporkan, dan menanganinya.
"Sistem kita telah berhasil mendeteksi dengan cepat, hal ini didukung dengan sistem pelaporan real-time iSIKHNAS dan kemampuan laboratorium kesehatan hewan yang baik, sehingga penyakit dapat dikonfirmasi dengan segera," terang Nuryani.
Nuryani menegaskan sesuai arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo, timnya akan gerak cepat segera melakukan berbagai langkah pengamanan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari penyakit kulit sapi tersebut.
"Strategi utama adalah vaksinasi, namun ini harus didukung dengan deteksi dini dan penelusuran kasus, pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, serta komunikasi, informasi dan edukasi," ujar Nuryani.
Nuryani mengakui penanganan Lumpy Skin Disease ini akan menantang. Sebab, selain dapat disebarkan oleh lalu lintas sapi tertular dan produknya yang mengandung virus, Lumpy Skin Disease dapat juga ditularkan melalui perantara mekanik seperti gigitan serangga.
Meski begitu, Nuryani menegaskan Lumpy Skin Disease tidak menular dan tidak berbahaya bagi manusia. Ia mengimbau masyarakat tak perlu panik dan mendukung berbagai upaya penanganan yang akan dilakukan oleh pemerintah.
"Kita telah siapkan sumber daya yang cukup untuk penanganan LSD ini," tutur Nuryani.
