Kumparan Logo

Wacana RI Mau Ekspor Beras ke Malaysia-Palestina

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ngangkut beras. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ngangkut beras. Foto: kumparan

Indonesia siap mengekspor beras ke beberapa negara seperti Malaysia dan Palestina. Ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perum Bulog, Sudaryono.

Sudaryono mengeklaim, hasil panen dalam negeri yang melimpah membuat Indonesia siap jadi negara pengekspor beras. Salah satu rencananya yaitu Indonesia akan mengekspor 2.000 ton beras ke Malaysia.

“Pak Menteri (Amran) juga sudah ketemu dengan Menteri Pertanian Malaysia. Nah itu kita intinya, kita punya standar begini, harga segini, oke? Oke jalan, enggak ada masalah,” ujar Sudaryono dalam kunjungannya ke Sentra Penggilingan Padi (SPP) Karawang, Kamis (15/4).

Sudaryono membeberkan, cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 3,7 juta ton hingga saat ini. Penyerapan beras dari Januari 2025 hingga pertengahan Mei ini sudah mencapai 2,1 juta ton.

Dia memastikan proses ekspor beras ke Malaysia 2.000 ton per bulan, saat ini tengah diatur dan masih menunggu perintah Presiden Prabowo Subianto. Meskipun kesepakatan ini masih perlu dibahas lebih lanjut hingga mencapai tahap teknis.

“Ini ada satu skema yang lagi dibahas adalah bagaimana negara Indonesia dengan surplus beras ini, negara kita juga bisa hadir untuk misi-misi kemanusiaan di Afrika, di Palestina, dan seterusnya,” tambah Sudaryono.

Prabowo Izinkan Ekspor

Rencana Indonesia ekspor beras pada dasarnya sudah diizinkan Presiden Prabowo Subianto. Dia mengungkapkan, pemerintah Malaysia menyampaikan minatnya untuk mengimpor beras dari Indonesia.

“Saya izinkan! Dan saya perintahkan kirim beras ke mereka,“ kata Presiden saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (23/4).

Prabowo melanjutkan, jika perlu beras yang diekspor ke beberapa negara itu tidak dijual terlalu mahal.

“Kalau perlu, atas dasar kemanusiaan, kita jangan terlalu cari untung besar. Yang penting, ongkos produksi, plus angkutan, plus administrasi kembali. Kita buktikan bangsa Indonesia sekarang menjadi bangsa, bukan bangsa yang minta-minta, tetapi bangsa yang bisa membantu, dan memberi (kepada) bangsa lain,” kata dia.

Prabowo juga mengakui telah mendapatkan laporan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa produksi beras nasional cukup tinggi dalam 3-4 bulan terakhir.

Pekerja mengangkut beras di kawasan Pasar Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Pengusaha Keluhkan Produksi Turun

Meski demikian, Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, mengatakan produksi beras saat ini sudah mulai menurun. Sebab puncak panen raya pertama sudah terjadi dan Indonesia baru kembali akan panen padi pada Juli-Agustus 2025.

Dengan begitu, Sutarto melihat banyaknya surplus padi atau beras tahun ini baru bisa dihitung setelah masa panen kedua.

“Setelah bulan Juli, apakah memang kita betul-betul surplus besar sehingga kita bisa melakukan ekspor,” kata Sutarto saat ditemui di Kantor Badan Pangan Nasional (Bapanas), Jakarta Selatan, Jumat (16/5).

Selain itu, Dia menyebutkan, kemungkinan produksi beras di berbagai negara juga dalam keadaan surplus, sehingga Indonesia akan ada persaingan ekspor beras yang sengit.

“Persaingan dunia kan luar biasa. Karena pasar dunia itu kan Indonesia sebenarnya menjadi pasar beras, tapi kita kan menyatakan tidak impor. Berarti di dunia itu pasar berasnya sedang surplus, gitu,” tuturnya.