Wacana Tarif Transjakarta Naik Pas Jam Sibuk Dinilai Tak Tepat: Harusnya Gratis
ยทwaktu baca 2 menit

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang mengkaji kenaikan tarif Transjakarta. Salah satu usulan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menyarankan kenaikan tarif khusus di jam sibuk atau rush hour.
Dalam salah satu unggahan Instagram resmi PT Transjakarta 10 April 2023 lalu, perusahaan melakukan survei atau jajak pendapat kepada para pengguna terkait usulan kenaikan tarif menjadi Rp 5 ribu di jam sibuk.
"Adanya usulan penyesuaian tarif Transjakarta dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menjadi Rp 4.000 dan Rp 5.000 pada waktu sibuk (07:01-10:00 dan 16:01-21:00)," dikutip kumparan dari Instagram @pt_transjakarta, Kamis (20/4).
Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Deddy Herlambang menilai kebijakan penetapan tarif Transjakarta lebih mahal ketika jam sibuk tidak tepat karena berbeda dengan sifat tarif electronic road pricing (ERP).
"Karena pelayanan di angkutan umum massal hukumnya bukan tarif ERP bila volume kendaraan naik maka didenda bayar mahal tarifnya," jelasnya kepada kumparan, Kamis (20/4).
Alih-alih kenaikan tarif, Deddy menilai pengguna Transjakarta di jam sibuk berhak mendapatkan tarif yang lebih murah bahkan gratis karena Standar Pelayanan Minimal (SPM) transportasi menurun saat itu.
"Seharusnya kebalikannya bila menggunakan angkutan umum bila rush hour baiknya tarifnya malah menurun bahkan bisa gratis karena kenyamanan (SPM) menurun karena penuh sesak, padat, dan lain-lain," tegas dia.
Dihubungi terpisah, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menilai kenaikan tarif Transjakarta wajar karena tarif Rp 3.500 sudah sejak 2004. Kenaikan ini bertujuan untuk mengurangi beban subsidi pemerintah.
"Tarifnya sudah lama enggak naik, mungkin ini terlama di dunia sejak dioperasikan pertama dulu sampai sekarang engga naik-naik masih Rp 3.500, sementara UMP naik, inflasi juga bertambah, jadi wajarlah kalau naik," jelasnya.
Djoko juga berpendapat kenaikan tarif masih wajar jika di rentang Rp 4.000-5.000 untuk sekali perjalanan, namun harus dikenakan secara keseluruhan tidak diskriminasi khusus untuk jam sibuk saja.
Dia pun meminta manajemen PT Transjakarta untuk seraya membenahi pelayanan, terutama penumpukan penumpang di jam sibuk karena kurangnya armada. Hal ini, menurut dia, adalah buntut direksi perusahaan yang rutin berganti-ganti.
"Memang harus segera diberesi kalau kendaraan tidak sesuai dengan kebutuhan. Itu tugas manajemen sekarang karena TJ ini selalu berganti direksi sehingga itu jadi kacau juga pengelolaannya. Mudah-mudahan engga ganti minimal 2 tahun," pungkas Djoko.
