Kumparan Logo

Wall Street Cetak Rekor, Investor Respons Positif Perkembangan Konflik di Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan, bahkan indeks Dow Jones berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, Jumat (22/5). Sentimen pasar terdorong kombinasi kabar positif dari perkembangan geopolitik Timur Tengah serta musim laporan keuangan emiten yang masih menunjukkan hasil solid.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 294,04 poin atau 0,58 persen ke level 50.579,70. Kenaikan tersebut sekaligus menjadi rekor penutupan tertinggi. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 27,75 poin atau 0,37 persen menjadi 7.473,47 dan Nasdaq Composite bertambah 50,87 poin atau 0,19 persen ke level 26.343,97.

Penguatan ini sekaligus memperpanjang reli pasar saham AS. Indeks S&P 500 tercatat menguat selama delapan pekan berturut-turut, menjadi tren kenaikan terpanjang sejak Desember 2023.

Di tengah ketidakpastian global, investor tampaknya masih menaruh keyakinan pada ketahanan ekonomi AS dan kinerja korporasi. Sektor teknologi dan semikonduktor masih menjadi penopang utama pergerakan pasar.

Saham-saham chip bergerak variatif. Indeks Philadelphia Semiconductor menguat ditopang lonjakan saham Qualcomm hingga 12 persen. Sebaliknya, Nvidia terkoreksi 1,90 persen.

Dari sisi geopolitik, pasar merespons positif perkembangan pembicaraan terkait konflik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan negaranya mulai mencatat kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran, meski negosiasi masih menyisakan sejumlah persoalan.

Chief Investment Officer Ocean Park Asset Management James St. Aubin menilai kinerja perusahaan dan kondisi ekonomi AS sejauh ini masih menopang optimisme pasar.

“Musim laporan keuangan terlihat sangat baik dan data ekonomi, kecuali beberapa pengecualian, terlihat cukup solid sehingga secara fundamental gambaran ekonominya tampak sangat kuat,” kata St. Aubin.

Menurut dia, perkembangan situasi geopolitik juga membantu memperbaiki suasana pasar.

“Perang menjadi salah satu hambatan besar bagi pasar saham, tetapi saya rasa berita hari ini terlihat cukup menggembirakan dan mungkin membantu sentimen pasar,” ujarnya.

video story embed

Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama di S&P 500 ditutup menguat. Sektor kesehatan, utilitas, industri, dan teknologi memimpin kenaikan. Sedangkan sektor komunikasi serta barang konsumsi primer menjadi dua sektor yang bergerak melemah.

Di jajaran emiten, saham produsen komputer ikut melonjak setelah Lenovo mencatat pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar. Saham Dell Technologies melesat 17 persen dan mencetak rekor tertinggi, sementara HP naik 15 persen.

Saham Estée Lauder juga melompat 12 persen setelah perusahaan kosmetik tersebut mengakhiri pembicaraan merger dengan perusahaan parfum asal Spanyol, Puig.

Di sisi lain, Workday menguat 5 persen setelah membukukan pendapatan dan laba kuartal pertama di atas perkiraan analis.

Selain sentimen saham, pasar juga mendapat dukungan dari meredanya tekanan di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun 2,6 basis poin menjadi 4,558 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh level tinggi.

“Pasar obligasi tampaknya mulai mendingin dan imbal hasil turun dari posisi yang sempat mencapai puncak pada awal pekan ini. Saya rasa itu juga cukup menggembirakan,” kata St. Aubin.

Meski demikian, reli Wall Street diperkirakan menghadapi tantangan baru dalam perdagangan pekan depan. Investor mulai mengalihkan fokus dari musim laporan keuangan ke faktor makroekonomi, terutama inflasi dan pergerakan obligasi pemerintah AS.

Chief Market Strategist Ameriprise, Anthony Saglimbene, mengatakan kinerja laba perusahaan selama ini berhasil menutupi sejumlah sentimen negatif. Namun perhatian pasar mulai bergeser.

“Investor mulai bergerak melampaui musim laporan keuangan, dan lingkungan makro mulai menjadi perhatian utama,” kata Saglimbene.

Salah satu agenda utama yang akan dicermati pasar pekan depan adalah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) April. Data tersebut menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan target inflasi tahunan sebesar 2 persen.

Kekhawatiran pasar muncul karena kenaikan harga energi dan tekanan geopolitik berpotensi kembali mendorong inflasi. Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird, menilai tekanan harga masih menjadi risiko utama bagi pasar.

“Kekhawatiran inflasi terus meningkat,” kata Baird.

“Anda melihat kenaikan yield obligasi jangka panjang yang cukup menantang pasar obligasi dan kemungkinan akan membatasi kenaikan pasar saham secara luas jika kondisi ini bertahan," tambahnya.

Selain data inflasi, investor juga akan menunggu laporan keuangan sejumlah perusahaan besar seperti Salesforce, Costco, Best Buy, dan Dollar Tree guna melihat gambaran daya beli konsumen AS di tengah tingginya harga energi.

Di sektor kecerdasan buatan (AI), pasar juga akan memantau apakah tren belanja teknologi masih mampu menopang penguatan saham-saham teknologi yang selama ini menjadi mesin utama reli Wall Street.