Wall Street Ditutup Bervariasi, Pasar Cermati Rilis Data Tenaga Kerja AS
·waktu baca 4 menit

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (2/1), mengawali tahun 2026 dengan menghentikan tren pelemahan empat hari berturut-turut.
Penguatan indeks Dow Jones dan S&P 500 didorong oleh kenaikan saham produsen chip seperti Nvidia dan Intel, serta saham Boeing.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 319,10 poin atau 0,66 persen ke level 48.382,39. Sementara itu, S&P 500 menguat 12,97 poin atau 0,19 persen ke 6.858,47. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru turun tipis 6,36 poin atau 0,03 persen ke posisi 23.235,63.
Sepanjang 2025, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama membukukan kenaikan dua digit, menandai tiga tahun berturut-turut berada di zona positif, sebuah tren yang terakhir kali terjadi pada periode 2019–2021.
Saham sektor chip menjadi pendorong utama penguatan pada Jumat (2/1), dengan indeks Philadelphia SE Semiconductor melonjak 4 persen.
Sektor industri dan utilitas pin mencatatkan kenaikan. Saham Caterpillar dan Boeing masing-masing naik 4,5 persen dan 4,9 persen, turut mengangkat pergerakan Dow Jones. Saham peritel furnitur seperti Wayfair, Williams-Sonoma, dan RH masing-masing melonjak 6 persen, 5 persen, dan hampir 8 persen.
Namun, reli saham chip tertahan oleh pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti Apple dan Microsoft, yang membatasi penguatan S&P 500 dan Nasdaq. Tekanan pada kedua indeks tersebut juga datang dari saham sektor konsumsi non-primer, termasuk Amazon. Sementara saham Tesla turun 2,6 persen setelah mencatat penurunan penjualan tahunan untuk tahun kedua berturut-turut.
Kepala Strategi Perdagangan dan Derivatif di Charles Schwab, Joe Mazzola, mengatakan kepada Reuters bahwa pasar saat ini menunjukkan pola “buy the dip, sell the rip”, di mana investor memanfaatkan volatilitas jangka pendek dengan mengatur waktu masuk dan keluar pasar.
Menurut Joe, investor kini semakin berhati-hati terhadap valuasi saham, terutama pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, setiap kali terjadi koreksi harga, investor tetap memanfaatkannya untuk kembali masuk ke pasar, dan tren tersebut diperkirakan masih akan berlanjut.
Saham-saham berkapitalisasi kecil yang sebelumnya tertekan juga ikut menguat. Indeks Russell 2000 naik 1,1 persen, mengakhiri tren pelemahan empat hari berturut-turut.
Di sisi lain, aksi jual dalam beberapa waktu terakhir sempat memupus harapan terjadinya “Santa Claus rally”, yakni fenomena penguatan pasar yang biasanya terjadi pada lima hari perdagangan terakhir Desember dan dua hari pertama Januari, sebagaimana dicatat dalam Stock Trader’s Almanac.
Lebih lanjut, arah pasar global pada 2026 diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve. Sejumlah data ekonomi terbaru, ditambah ekspektasi investor terhadap calon Ketua The Fed yang cenderung lebih dovish, membuat pasar mulai memperkirakan adanya kelanjutan penurunan suku bunga.
Kepala Strategi Pasar Stock Trader Network, Dennis Dick, menilai Ketua The Fed berikutnya kemungkinan akan lebih longgar dibandingkan Jerome Powell. Ia memperkirakan penurunan suku bunga yang signifikan dapat terjadi pada paruh kedua tahun ini, yang akan berdampak positif bagi seluruh sektor saham, tidak hanya sektor teknologi.
Adapun fokus pelaku pasar pada Januari akan tertuju pada rilis data pasar tenaga kerja pekan depan, terutama setelah Powell dalam pertemuan The Fed Desember lalu mengingatkan penurunan suku bunga lebih lanjut masih menunggu kejelasan kondisi ketenagakerjaan.
Wall Street mencatat pemulihan kuat sepanjang 2025 dari posisi terendah pada April, setelah kebijakan tarif “Liberation Day” yang diumumkan Presiden Donald Trump sempat memicu gejolak pasar global, menekan minat investor terhadap saham AS, serta membayangi prospek pertumbuhan ekonomi.
Pasar juga mencermati potensi kejutan kebijakan tarif dari Trump, terutama setelah Gedung Putih menyatakan Trump telah menandatangani proklamasi untuk menunda kenaikan tarif produk furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan vanity selama satu tahun ke depan.
Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang menguat melampaui yang melemah dengan rasio 2,01 banding 1. Tercatat 236 saham mencetak level tertinggi baru dan 95 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 2.978 saham menguat dan 1.818 saham melemah, dengan rasio 1,64 banding 1.
Pada S&P 500 tercatat sembilan saham mencetak level tertinggi 52 minggu dan sembilan saham berada di level terendah. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatatkan 54 saham di level tertinggi baru dan 79 saham di level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 15,92 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 15,87 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
