Kumparan Logo

Wall Street Ditutup Lebih Tinggi Jelang Keputusan Moneter The Fed

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Selasa (31/10). Investor menantikan pembaruan kebijakan moneter Federal Reserve, sambil mencerna sejumlah laporan pendapatan yang beragam.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 123,91 poin menjadi 33.052,87, S&P 500 (.SPX) bertambah 26,98 poin menjadi 4.193,8 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 61,76 poin menjadi 12.851,24.

Saat ini, The Fed baru saja memulai pertemuan kebijakan moneter dua hari. Bank sentral diproyeksi mempertahankan suku bunga pada hari Rabu.

Kemudian investor akan memantau pernyataan dan komentar Ketua Fed Jerome Powell untuk mendapatkan petunjuk tentang rencananya.

Optimisme bahwa The Fed akan menghentikan kenaikan suku bunga diimbangi oleh reaksi investor terhadap laporan pendapatan yang mengecewakan dan kegelisahan mengenai geopolitik.

Analis Senior Wells Fargo Investment Institute, Sameer Samana, mengatakan beberapa investor mencari harga murah mengingat pelemahan saham baru-baru ini. Hal itu mendorong naiknya imbal hasil Treasury 10 tahun.

“Semua jalan saat ini mengarah kembali ke suku bunga jangka panjang yang berdampak pada ekuitas,” kata Samana.

embed from external kumparan

"Dalam saham beberapa investor mungkin terdorong oleh gagasan bahwa, penjualan baru-baru ini membawa kita kembali ke nilai wajar dari nilai terlalu tinggi. tingkat," tambahnya.

Namun ahli strategi tersebut mewaspadai peristiwa mendatang yang dapat menjadi katalis besar bagi obligasi dan pada gilirannya ekuitas. Seiring dengan pembaruan kebijakan The Fed, ia juga menunggu rencana pembiayaan Departemen Keuangan AS yang akan dirilis pada hari Rabu.

Di sisi lain, Samana bilang, sejumlah analis mengatakan pemerintah diproyeksi akan meningkatkan ukuran lelang surat utang, dan obligasi pada kuartal keempat untuk mendanai defisit anggaran yang semakin besar. Hal ini akan menyebabkan suku bunga naik dan merugikan saham.

"Pada hari Jumat, investor juga akan memantau laporan pekerjaan AS bulan Oktober dan reaksi pasar Treasury," pungkasnya.