Kumparan Logo

Wall Street Ditutup Melemah, Harga Minyak Tembus USD 100 per Barel

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu, saat harga minyak melonjak menembus USD 100 per barel. Saham Apple melemah dan imbal hasil (yield) Treasury AS naik menjelang rilis data inflasi penting yang diperkirakan keluar akhir pekan ini.

Dikutip dari Reuters, Kamis (10/9), Indeks S&P 500 turun 0,48 persen menjadi 7.636,46 poin. Nasdaq turun 0,64 persen menjadi 26.253,34 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,77 persen menjadi 52.381,02 poin.

S&P 500 turun sekitar 2 persen dari rekor penutupan tertingginya pada 13 Agustus. Namun, indeks tersebut masih menguat sekitar 12 persen sepanjang 2026.

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent menembus USD 100 per barel, level sensitif bagi pasar saham.

Perang AS-Israel dengan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh telah memicu kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di kawasan tersebut. Harga minyak yang tinggi juga meningkatkan tekanan inflasi.

Indeks sektor energi S&P 500 naik 1,1 persen, sementara seluruh indeks sektor lainnya mengalami penurunan.

Saham Apple turun 0,3 persen setelah perusahaan menggelar peluncuran smartphone pertamanya di bawah CEO baru John Ternus.

Yield surat utang AS Treasury bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023 setelah Departemen Keuangan AS mengatakan akan membeli obligasi pemerintah bertenor 10-20 tahun senilai hingga USD 6 miliar.

Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan pembelian yang lebih besar, yakni sekitar USD 8 miliar hingga USD 10 miliar.

Kenaikan yield obligasi pemerintah yang dianggap sebagai aset bebas risiko membuat kepemilikan saham menjadi kurang menarik bagi investor.

“Hal itu membuat pasar sedikit khawatir, terutama karena kami belum memiliki banyak acuan terkait ekspektasi laba hingga kita mulai memasuki musim laporan keuangan kuartal ketiga,” kata Rob Haworth, Senior Investment Strategist di U.S. Bank Wealth Management di Seattle.

Data Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis dan data harga konsumen pada Jumat akan menjadi perhatian investor untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga Federal Reserve.

Pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 60 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakannya pekan depan.

Saham Meta melonjak lebih dari 6 persen dan membantu membatasi penurunan S&P 500 setelah perusahaan media sosial tersebut meluncurkan asisten AI yang telah lama dinantikan. Asisten tersebut dapat secara mandiri mengirim email, menjual mobil, atau melakukan pemesanan perjalanan atas nama pengguna.

Saham Alphabet turun 2,3 persen setelah perusahaan induk Google tersebut mengatakan akan menginvestasikan sedikitnya USD 15,1 miliar untuk infrastruktur AI di Finlandia selama dua tahun ke depan. Investasi tersebut mencakup kesepakatan besar untuk pasokan listrik tenaga nuklir.

Indeks Philadelphia Semiconductor naik 0,37 persen, dengan saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 3 persen.

Saham Dow turun 0,6 persen setelah Bloomberg News melaporkan produsen bahan kimia tersebut tengah mempertimbangkan untuk keluar dari kerja sama senilai USD 20 miliar dengan Saudi Aramco.

Jumlah saham yang turun di S&P 500 lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 4,1 banding 1.

S&P 500 mencatat tujuh saham yang mencapai level tertinggi baru dan 25 saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 41 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 170 saham yang mencatat level terendah baru.