Kumparan Logo

Wall Street Ditutup Menguat Imbas Imbal Obligasi AS Turun Tajam

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja melihat pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melihat pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan, Jumat (3/11) karena imbal hasil obligasi turun tajam.

Penurunan imbal hasil obligasi tersebut setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat dan kenaikan pengangguran. Hal meningkatkan harapan bahwa The Fed telah menyelesaikan kampanye suku bunga naik.

Mengutip Reuters, Senin (6/11), Dow Jones Industrial Average naik 222,24 poin atau 0,66 persen menjadi 34.061,32. S&P 500 bertambah 40,56 poin atau 0,94 persen menjadi 4.358,34 dan Nasdaq Composite bertambah 184,09 poin atau 1,38 persen menjadi 13.478,28.

Selama sepekan, S&P 500 meningkat 5,9 persen, menduduki kenaikan terbesar sejak November 2022 dan Nasdaq bertambah 6,6 persen, juga menunjukkan kenaikan terbesar sejak November 2022. Dow menunjukkan kenaikan mingguan sebesar 5,1 persen, kenaikan terbesar sejak akhir Oktober 2022.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan upah non pertanian meningkat sebanyak 150.000 pekerjaan pada bulan Oktober, jauh lebih kecil dari prediksi kenaikan sebanyak 180.000. Hal ini didorong pemogokan oleh produsen mobil Big Three di Detroit.

Sebuah tanda jalan, Wall Street, terlihat di luar New York Stock Exchange (NYSE) di New York City, New York, AS. Foto: Shannon Stapleton/REUTERS

Data bulan lalu direvisi lebih rendah agar menunjukkan kenaikan sebanyak 297.000, bukan 336.000. Tingkat pengangguran naik tipis menjadi 3,9 persen.

“Dari sudut pandang kebijakan, hal ini memberikan keyakinan bahwa The Fed akan menahan suku bunganya di masa mendatang dan hanya akan menaikkan suku bunga lagi jika pertumbuhan atau inflasi mulai meningkat,” kata ahli strategi investasi senior Bernstein Private Wealth Management Matt Palazzolo.

Namun perkiraan Palazzolo yang akan terjadi adalah perlambatan yang stabil dalam pasar tenaga kerja dan aktivitas ekonomi selama periode 6-9 bulan ke depan. Apabila kemungkinan tersebut terjadi, “Maka The Fed berpotensi tetap mempertahankan tingkat suku bunga saat ini,” imbuhnya.

Data ketenagakerjaan juga mendorong imbal hasil Treasury AS lebih rendah untuk sesi keempat berturut-turut. Selama sesi tersebut, imbal hasil Treasury 10-tahun mencapai level terendah dalam lebih dari lima minggu. Pergerakan imbal hasil ini menyeret saham-saham.

“Penurunan suku bunga mungkin merupakan katalis utama minggu ini,” imbuh Tony Welch, CIO SignatureFD, Atlanta Georgia, dengan menambahkan bahwa data pekerjaan mendukung tren ini.

embed from external kumparan