Wall Street Mayoritas Melemah, Saham Chip Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak

Saham-saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street mayoritas ditutup melemah pada Kamis (8/10).
Pelemahan indeks saham-saham ini seiring lonjakan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan pemangkasan produksi minyak AS yang memicu kekhawatiran inflasi serta kenaikan suku bunga.
Saham-saham semikonduktor juga mengalami penurunan tajam.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 51,77 poin atau 0,10 persen menjadi 51.231,64. Sementara itu, S&P 500 turun 36,41 poin atau 0,47 persen ke level 7.765,36 dan Nasdaq Composite merosot 345,35 poin atau 1,25 persen menjadi 27.193,34.
Di antara indeks saham utama AS, Nasdaq mencatat penurunan persentase terbesar. Pelemahan ini terjadi dua hari setelah indeks yang didominasi saham teknologi tersebut mencetak rekor penutupan tertinggi.
Penurunan S&P 500 lebih terbatas, sedangkan indeks saham unggulan Dow Jones masih mampu membukukan kenaikan tipis.
Saham-saham produsen chip, yang telah melonjak lebih dari 80 persen sepanjang tahun ini, menjadi salah satu kelompok saham dengan kinerja terburuk pada perdagangan Kamis (8/10).
Saham-saham tersebut turun 3,4 persen setelah Financial Times melaporkan bahwa pendapatan tahunan OpenAI berdasarkan tingkat pendapatan saat ini mencapai USD 20 miliar lebih rendah daripada yang sebelumnya disampaikan perusahaan.
“Pasar bergerak cenderung mendatar menjelang musim laporan keuangan kuartal III yang dimulai pekan depan. Pada saat yang sama, konflik yang masih berlangsung di Iran mendorong harga minyak lebih tinggi,” kata Kepala Strategi Ekuitas US Bank Wealth Management Terry Sandven.
“Hal lain yang juga penting dicermati adalah bahwa sepanjang tahun ini, pergerakan saham cenderung lebih banyak menguat,” tambahnya.
Harga minyak melonjak akibat kekhawatiran pasokan setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, ditambah pemangkasan produksi minyak AS akibat aktivitas badai. Harga kontrak minyak mentah WTI dan Brent untuk pengiriman terdekat masing-masing ditutup naik 3,6 persen dan 4,1 persen.
Ketatnya pasokan minyak mentah global selama perang Iran telah mendorong harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini, sehingga meningkatkan tekanan inflasi. Menanggapi tekanan itu, Federal Reserve (The Fed) AS menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Sementara itu, berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 69,2 persen.
Ekspektasi tersebut sejalan dengan perkiraan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa. Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyampaikan pandangan serupa dengan mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan, meskipun waktu pelaksanaannya masih fleksibel.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham energi mencatat kenaikan persentase terbesar. Sebaliknya, sektor teknologi mengalami penurunan terdalam, terutama akibat pelemahan saham-saham produsen chip.
Perkiraan rekor laba kuartalan Samsung Electronics, raksasa produsen chip memori, gagal mengangkat sentimen pasar. Saham perusahaan tersebut justru ditutup melemah di Korea Selatan. Sementara itu, saham pesaingnya, Micron Technology, turun 4,8 persen.
Pada Rabu (7/10), Wall Street Journal melaporkan bahwa Broadcom tengah menyiapkan pendanaan senilai USD 50 miliar untuk OpenAI. Oracle juga dikabarkan sedang mencari pendanaan dalam jumlah yang belum diungkapkan. Kabar ini memicu kekhawatiran penerbitan utang dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi dapat memperketat persaingan untuk memperoleh pendanaan.
Saham Broadcom dan Oracle masing-masing turun 4,4 persen dan 5,5 persen. Saham PepsiCo naik 3,7 persen setelah perusahaan minuman itu menyatakan akan melakukan pemangkasan biaya tambahan sekaligus menurunkan proyeksi laba inti tahunannya.
Saham Starbucks turun 0,4 persen menyusul laporan bahwa jaringan kedai kopi tersebut sedang menjajaki kemungkinan mengakuisisi Chipotle Mexican Grill. Saham Chipotle justru melonjak 6,2 persen.
Sementara itu, saham Palantir naik 2,4 persen setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasi saham perusahaan penyedia perangkat lunak analisis data tersebut menjadi buy dari sebelumnya neutral.
Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan saham yang melemah dengan rasio 1,28 banding 1. Terdapat 110 saham yang mencetak level tertinggi baru dan 416 saham yang mencatat level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.050 saham menguat dan 2.734 saham melemah. Dengan demikian, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik, dengan rasio 1,33 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat empat saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 12 saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 33 saham pada level tertinggi baru dan 319 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa-bursa AS mencapai 18,81 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume satu sesi perdagangan selama 20 hari terakhir yang sebesar 17,74 miliar saham.
