Kumparan Logo

Wall Street Melemah Dibayangi Suku Bunga-Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street melemah pada perdagangan Selasa (29/9). Hal itu setelah investor mencermati prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelemahan juga terjadi di tengah imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang yang masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 131,59 poin atau 0,26 persen menjadi 51.349,92. S&P 500 melemah 12,85 poin atau 0,17 persen menjadi 7.670,84, dan Nasdaq Composite turun 22,84 poin atau 0,08 persen menjadi 26.797,54.

Sentimen pasar saham turut dipengaruhi komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams. Ia mengatakan tidak melihat adanya “urgensi” untuk mengambil langkah kebijakan lebih lanjut setelah The Fed menaikkan suku bunga pada awal bulan ini.

Komentar tersebut membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober. Berdasarkan harga kontrak berjangka dana The Fed, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober sekitar 50:50, turun dari hampir 70 persen pada awal perdagangan.

Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek juga kini mencerminkan ekspektasi hanya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Perkiraan tersebut sejalan dengan pandangan Williams bahwa satu kali kenaikan kemungkinan terjadi jika kondisi ekonomi berkembang sesuai perkiraannya.

Namun, investor masih berhati-hati menjelang rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulanan AS pada Rabu. Data ketenagakerjaan bulanan AS juga akan dirilis pada pekan ini.

“Sejumlah investor bersiap menghadapi PCE besok. Jika kita melihat percepatan inflasi, saya pikir itu akan memperkuat kenaikan suku bunga pada Oktober dan hal itu merupakan bagian dari kekhawatiran di pasar obligasi saat ini,” kata Peter Cardillo, chief market economist di Spartan Capital Securities, New York.

Selain sentimen suku bunga, optimisme terhadap rencana perusahaan laboratorium kecerdasan buatan (AI) Anthropic untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) turut menahan pelemahan saham.

Prospektus IPO Anthropic menunjukkan perusahaan AI tersebut tumbuh pesat dalam setahun terakhir, meski mencatat kerugian yang semakin besar. Anthropic menargetkan valuasi lebih dari USD 2 triliun, yang berpotensi menjadi tolok ukur bagi Wall Street dalam menilai perusahaan-perusahaan AI.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang AS bertenor dua tahun turun 3,51 basis poin menjadi 4,889 persen. Sebelumnya, imbal hasil tersebut sempat menyentuh 4,9596 persen, level tertinggi sejak Mei 2024.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik 1,32 basis poin menjadi 5,255 persen, setelah sebelumnya mencapai 5,2932 persen, level tertinggi sejak pertengahan Juni 2007.

Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,592 persen, setelah menyentuh level tertinggi sejak Juni 2002.

Investor juga mencermati komentar pejabat The Fed lainnya. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan membiarkan inflasi berada di atas target The Fed selama 5,5 tahun merupakan tindakan yang “bermain dengan api”. Ia menyebut The Fed mungkin perlu merespons guncangan pasokan yang berdampak dalam jangka panjang.

Data ekonomi turut menunjukkan kepercayaan konsumen AS turun ke level terendah dalam lebih dari 12 tahun pada September. Rumah tangga memperkirakan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja akan melemah dalam enam bulan ke depan.

Sementara itu, indeks MSCI yang mengukur saham di berbagai negara turun 3,41 poin atau 0,30 persen menjadi 1.135,86. Indeks STOXX 600 Eropa juga melemah 0,09 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor karena surat utang pemerintah menjadi salah satu acuan bagi pasar global, termasuk dalam penentuan harga aset berisiko seperti saham. Kenaikan suku bunga juga dapat menambah tekanan terhadap biaya pembiayaan pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga.