Kumparan Logo

Wall Street Menguat di Tengah Isu Deeskalasi Perang Iran

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat tajam pada Selasa (31/3), didorong oleh spekulasi adanya potensi deeskalasi perang di Iran yang dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi global.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 melonjak 2,91 persen dan ditutup di level 6.528,52. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 3,83 persen ke 21.590,63, dan Dow Jones Industrial Average naik 2,49 persen menjadi 46.341,51.

Ketiga indeks utama tersebut menguat setelah laporan The Wall Street Journal pada Senin (30/3) menyebut Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam perang Iran dan memperingatkan Teheran bahwa perang akan meningkat jika tidak ada kesepakatan.

Perang yang telah berlangsung selama sebulan ini membuat S&P 500 dan Dow mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2022, seiring kekhawatiran investor mengenai lonjakan biaya bahan bakar dapat menekan permintaan barang dan jasa, sekaligus memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi.

Pekerja melihat pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Direktur investasi senior di U.S. Bank Wealth Management, Bill Northey, mengatakan pergerakan pasar saat ini mencerminkan spekulasi akan adanya jalan keluar lebih cepat atau penghentian konflik. Ia menambahkan, meskipun detail masih terbatas, pasar berharap adanya indikasi normalisasi aliran energi melalui Selat Hormuz.

Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mencatat kenaikan signifikan, dengan Nvidia naik 5,6 persen, Alphabet bertambah 5,1 persen, dan Meta Platforms melonjak 6,7 persen.

Indeks semikonduktor PHLX Semiconductor Index melonjak 6,24 persen, mencatat sesi terbaiknya dalam hampir setahun. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak Mei 2025, saat investor merespons gencatan senjata perang dagang antara Washington dan Beijing.

Volume perdagangan di bursa AS tergolong tinggi, dengan 22,4 miliar saham diperdagangkan, melampaui rata-rata 20,3 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya. Sebanyak 9 dari 11 sektor di S&P 500 menguat, dipimpin sektor layanan komunikasi yang naik 4,42 persen, diikuti sektor teknologi informasi yang menguat 4,24 persen. Sementara itu, sektor energi turun 1,2 persen, meskipun masih naik sekitar 10 persen sepanjang Maret, seiring reli harga minyak.

Sepanjang kuartal pertama, S&P 500 tercatat turun 4,6 persen secara year-to-date, sementara Nasdaq melemah 7,1 persen dan Dow turun 3,6 persen.

Saham CoreWeave melonjak 12 persen setelah memperoleh pinjaman sebesar USD 8,5 miliar untuk ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan. Marvell Technology juga naik 12 persen setelah Nvidia menginvestasikan USD 2 miliar di perusahaan tersebut.

Namun, banyak saham teknologi mengalami tekanan sepanjang 2026 akibat kekhawatiran bahwa perusahaan besar seperti Microsoft, Amazon, dan Alphabet membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan hasil dari belanja besar mereka di sektor AI.

Pekan lalu, Dow dan Nasdaq ditutup lebih dari 10 persen di bawah level tertinggi sepanjang masa, menandakan keduanya masuk ke fase koreksi.

Data pemerintah AS menunjukkan lowongan kerja turun lebih besar dari perkiraan pada Februari, sementara perekrutan mencapai level terendah dalam hampir enam tahun.

Menurut alat Fedwatch milik CME Group, Lonjakan harga minyak akibat perang Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi, dengan pelaku pasar uang memperkirakan Federal Reserve lebih mungkin menaikkan suku bunga hingga akhir tahun dibandingkan menurunkannya.

Di sisi korporasi, Unilever sepakat memisahkan unit makanannya dan menggabungkannya dengan McCormick dalam kesepakatan tunai dan saham yang menilai perusahaan rempah tersebut sekitar USD 44,8 miliar. Saham McCormick turun 6,1 persen.

Sementara itu, Constellation Energy melemah 6,5 persen setelah memproyeksikan laba 2026 di bawah ekspektasi Wall Street.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik di S&P 500 mengungguli yang turun dengan rasio 5,2 banding 1. Indeks tersebut mencatat 6 saham mencetak level tertinggi baru dan 8 saham mencapai level terendah baru. Sementara Nasdaq mencatat 37 saham mencapai level tertinggi baru dan 154 saham menyentuh level terendah baru.