Kumparan Logo

Wall Street Menguat, Investor Yakin the Fed Berhenti Naikkan Suku Bunga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Angela Weiss / AFP
zoom-in-whitePerbesar
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Angela Weiss / AFP

Indeks saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (1/6). Hal tersebut dipengaruhi oleh keyakinan investor bahwa Bank Sentral AS, the Fed bakal berhenti menaikkan suku bunga pada pertemuan dua minggu mendatang.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 154,09 poin menjadi 33.062,36, S&P 500 (.SPX) naik 41,26 poin menjadi 4.221,09, dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 165,70 poin menjadi 13.100,98.

Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran naik tipis. Sementara gaji swasta meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Mei.

"Hal tersebut membuktikan pasar tenaga kerja yang masih ketat yang dapat mendorong Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi," tulis laporan Reuters.

Saat ini, investor sedang fokus kepada laporan pengangguran Departemen Tenaga Kerja yang akan dirilis pada hari Jumat. Data akan membantu menentukan apakah the Fed bertahan dengan kenaikan suku bunga yang agresif.

Lebih lanjut, berdasarkan laporan ADB, inflasi upah melambat. Sementara laporan Departemen Tenaga Kerja mengatakan harga tenaga kerja per satu unit output pulih pada tingkat 4,2 persen pada kuartal I.

"Data biaya tenaga kerja unit untuk kuartal I biasanya tidak memicu reaksi. Tapi itu menandakan peningkatan yang signifikan," kata Analis Pasar di OANDA, Edward Moya.

"Pasar menjadi yakin bahwa, kenaikan suku bunga Fed untuk bulan Juni hampir tidak terjadi," tambahnya.

Bahkan, menurut alat FedWatch CME Group, 76,2 persen the Fed akan berhenti menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan 13 sampai 14 Juni.

Di sisi lain, Kepala Investasi di Rockefeller Global Family Office, Jimmy Chang, mengungkapkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah menyetujui rancangan undang-undang untuk menangguhkan plafon utang pemerintah hingga awal 2025. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah pertikaian politik di Washington, lima hari sebelum pemerintah kehabisan uang untuk membayar berbagai kewajiban finansialnya.

"Saya masih berhati-hati, tetapi saya juga menyadari bahwa ada beberapa katalis yang dapat terus mendukung pasar untuk jangka waktu tertentu. Kasus dasar saya tetap bahwa kita akan mengalami resesi di kuartal mendatang," kata Jimmy.