Wall Street Rebound, tetapi Saham AS Tetap Melemah Sepekan

Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (21/8). Namun, penguatan tersebut belum mampu membawa Wall Street keluar dari zona merah secara mingguan.
S&P 500 dan Nasdaq yang banyak dihuni saham teknologi mengakhiri tren kenaikan selama tiga pekan beruntun. Sementara itu, Dow Jones mencatat penurunan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.
Dikutip dari Reuters, Senin (24/8), pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 517,80 poin atau 0,98 persen ke 53.277,01. S&P 500 bertambah 33,21 poin atau 0,43 persen menjadi 7.674,37, sedangkan Nasdaq Composite menguat 113,29 poin atau 0,44 persen ke 26.180,46.
Pergerakan pasar sepanjang pekan masih dipengaruhi arah imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield yang berpotensi mendorong biaya pinjaman lebih tinggi membuat investor cenderung mengurangi minat terhadap aset berisiko.
Pada Kamis, saham-saham AS melemah ketika yield obligasi meningkat. Sebaliknya, pasar menguat sehari sebelumnya saat yield turun.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis mengatakan pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury. Pernyataan itu muncul setelah pemerintah pada Rabu mengumumkan rencana mengalokasikan dana untuk buyback obligasi hingga dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.
Setelah perdagangan yang fluktuatif sepanjang pekan, Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management di Charlotte, North Carolina, menilai kondisi pasar pada Jumat relatif lebih tenang.
“Di pertengahan pekan, investor saham khawatir imbal hasil obligasi akan terus naik tanpa henti. Dengan pengumuman dari Departemen Keuangan, investor sekarang tidak terlalu khawatir lagi,” ujarnya.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari data ekonomi AS. Pertumbuhan sektor jasa pada Agustus menjadi yang terkuat dalam hampir dua tahun, sehingga aktivitas bisnis secara keseluruhan meningkat tajam.
Kondisi tersebut mampu mengimbangi perlambatan di sektor manufaktur yang tertekan oleh berkurangnya penumpukan persediaan serta gangguan pasokan akibat perang Iran.
Di sisi lain, UBS Global Wealth Management menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500 menjadi 8.100. Kenaikan target tersebut didukung ekspektasi terhadap laba yang lebih kuat dan pertumbuhan keuntungan perusahaan yang solid.
Meski demikian, kekhawatiran inflasi kembali muncul seiring harga kontrak berjangka minyak yang mencatat kenaikan selama enam hari berturut-turut.
Kondisi itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi kepada mitra dagang Iran. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasokan minyak akan semakin ketat.
Sepanjang pekan, kontrak berjangka Brent naik 6,39 persen, sementara minyak mentah AS menguat 5,66 persen.
Secara mingguan, S&P 500 turun 1,43 persen, Nasdaq terkoreksi 2,05 persen, dan Dow Jones melemah 0,85 persen. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga turun 1,65 persen, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak pekan yang dimulai pada 1 Juni.
Dari 11 sektor utama S&P 500, mayoritas menguat pada Jumat. Sektor material menjadi yang berkinerja paling baik dengan kenaikan 2,2 persen, disusul sektor kesehatan yang naik 1,3 persen dan sektor keuangan sebesar 1 persen.
Sementara itu, sektor utilitas menjadi yang berkinerja paling buruk setelah turun 2,3 persen. Sektor energi juga melemah 0,2 persen.
Pada perdagangan saham individual, Ross Stores ditutup menguat 4,4 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan ritel tersebut menaikkan proyeksi laba tahunan dan mencatat kinerja kuartalan di atas ekspektasi.
Saham Robinhood melonjak 13,7 persen, Coinbase Global naik 8,2 persen, sedangkan Strategy menguat 6 persen. Pergerakan positif saham-saham tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga Bitcoin sebesar 6,4 persen ke level tertinggi sejak pertengahan Mei.
Pada pekan depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan kuartalan Nvidia. Selain perusahaan chip AI tersebut, sejumlah perusahaan teknologi seperti Intuit, Salesforce, dan CrowdStrike juga dijadwalkan merilis laporan keuangan.
Investor juga menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Juli. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang paling diperhatikan Federal Reserve AS.
Data inflasi konsumen dan produsen untuk Juli yang sebelumnya menunjukkan kenaikan terbatas telah meredam spekulasi terkait potensi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Pasar juga akan mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada akhir pekan depan.
Di New York Stock Exchange (NYSE), saham yang menguat mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,68 banding 1. Sebanyak 214 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 118 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.186 saham naik dan 1.725 saham turun. Dengan demikian, rasio saham yang menguat terhadap saham yang melemah mencapai 1,85 banding 1.
S&P 500 mencatat 13 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham yang mencatat level terendah baru. Di Nasdaq Composite, terdapat 91 saham yang menyentuh level tertinggi baru dan 76 saham mencatat level terendah baru.
Berdasarkan data LSEG, volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 14,91 miliar saham. Angka tersebut masih di bawah rata-rata 16,62 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
Dengan demikian, meski Wall Street berhasil rebound pada perdagangan Jumat, pasar saham AS tetap mencatat kinerja mingguan yang negatif. Investor masih mencermati pergerakan yield obligasi, inflasi, harga minyak, perkembangan Timur Tengah, serta arah kebijakan The Fed.
Pekan ini menjadi periode penting karena pasar akan mendapatkan laporan keuangan Nvidia dan data inflasi PCE.
