Walmart Sebut Kenaikan Harga BBM Mulai Gerus Daya Beli Warga AS
·waktu baca 3 menit

Walmart memperingatkan kenaikan harga bahan bakar minyak telah membuat konsumen di Amerika Serikat (AS) mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lain. Hal ini terjadi berbarengan dengan perang Iran yang terus menekan anggaran rumah tangga.
Raksasa ritel tersebut memperkirakan pertumbuhan penjualannya pada periode Mei hingga Juli akan melambat signifikan dibandingkan tiga bulan sebelumnya, dengan kenaikan harga bensin menjadi penyebab utama.
Mengutip BBC, perang di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga bensin di AS. Data dari kelompok otomotif AAA menunjukkan harga rata-rata bensin mencapai USD 4,56 per galon, naik dari sekitar USD 3 per galon saat perang dimulai.
Dalam wawancara dengan CNBC, Direktur Keuangan Walmart John David Rainey mengatakan kenaikan biaya hidup sejauh ini masih tertolong oleh peningkatan pengembalian pajak atau tax refund akibat pemangkasan pajak dalam kebijakan One Big Beautiful Bill Act (OBBBA) Presiden AS Donald Trump.
Namun, ia menuturkan tekanan terhadap konsumen akan semakin terasa pada kuartal berjalan ketika dampak pengembalian pajak tersebut mulai memudar.
“Saya pikir pengembalian pajak yang lebih tinggi sempat meredam tekanan dari kenaikan harga bahan bakar. Namun sekarang, ketika pengembalian pajak itu sebagian besar sudah tidak masuk lagi, konsumen akan semakin merasakan tekanan dari harga bahan bakar yang lebih tinggi,” ujarnya, dikutip dari BBC pada Sabtu (23/5).
Rainey mengatakan, Walmart terus memantau perkembangan harga bensin, tetapi memperkirakan harga tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Walmart merupakan pemberi kerja swasta terbesar di AS sekaligus salah satu peritel terbesar di negara tersebut, sehingga kinerjanya sering menjadi gambaran kondisi konsumen Amerika di tengah dampak perang Iran.
Dalam paparan kinerja kepada investor, Rainey juga memperingatkan jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut, Walmart kemungkinan harus menaikkan harga pangan akibat kelangkaan pupuk, nitrogen, dan fosfat.
Laba Walmart pada kuartal pertama tercatat sebesar USD 5,3 miliar atau naik 18,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan perusahaan juga meningkat 7,3 persen secara tahunan menjadi USD 177,8 miliar.
Meski demikian, Walmart memperkirakan laju pertumbuhan tersebut akan melambat menjadi sekitar 4 persen hingga 5 persen pada periode Mei hingga Juli seiring meningkatnya tekanan biaya hidup terhadap konsumen.
Saham Walmart pun turun sekitar 7 persen pada perdagangan Kamis pagi setelah perusahaan mengeluarkan proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan pasar.
Head of Financial Analysis AJ Bell, Danni Hewson, menilai peringatan Walmart menunjukkan besarnya dampak lonjakan harga bahan bakar terhadap daya beli konsumen AS.
“Namun konsumen yang menghadapi kenaikan biaya bahan bakar kemungkinan tetap akan mencari produk bernilai murah yang selama ini identik dengan Walmart setelah serangkaian pemotongan harga sejak tahun lalu,” ucap Hewson.
