Wamen ESDM: Ada Masa Transisi, B40 Berlaku Penuh Februari 2025

3 Januari 2025 14:07 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pelepasan uji jalan B40 di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (27/7/2022). Foto: Akbar Maulana/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pelepasan uji jalan B40 di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (27/7/2022). Foto: Akbar Maulana/kumparan
ADVERTISEMENT
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan implementasi program bahan bakar campuran biodiesel 40 persen (B40) masih harus melalui masa transisi selama 1,5 bulan sebelum berlaku penuh.
ADVERTISEMENT
Kebijakan itu seharusnya mulai berlaku 1 Januari 2025. Dengan adanya masa transisi tersebut, maka mandatory B40 secara serentak dimulai pada Februari 2025.
"Untuk mandatory-nya 1 Januari. Tetapi ada (masa transisi), mungkin baru 1,5 bulan dari 1 Januari sampai Februari," ungkap Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/1).
Yuliot menjelaskan masa transisi selama 1,5 bulan itu dibutuhkan untuk penyesuaian teknologi pencampuran atau blending Solar dengan biodiesel, dari sebelumnya B35 menjadi B40.
"Untuk masa transisi kan menghabiskan stok dan juga menyesuaikan dengan teknologi. Ada yang dalam proses pencampuran yang tadinya B35 jadi B40, ada penyesuaian teknologi. Kita memberikan waktu sekitar 1,5 bulan," jelasnya.
Namun demikian, kata Yuliot, penjelasan lebih spesifik terkait implementasi B40 akan diumumkan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secepatnya, paling tidak pekan depan.
ADVERTISEMENT
Dia hanya menuturkan alokasi biodiesel untuk B40 sepanjang tahun 2025 ini sekitar 15,6 juta kiloliter (KL). Alokasi itu sudah melalui verifikasi kepada industri alias badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/1/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
"Kita lihat secara teknikalnya itu apakah ini bisa mereka memenuhi standar yang ditetapkan. Ya ternyata dari kondisi lapangan itu memungkinkan mereka memenuhi spek teknis yang ditetapkan," tutur Yuliot.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan dua kilang utama untuk mendukung produksi B40, yakni Refinery Unit III Plaju di Palembang dan Refinery Unit VII Kasim di Papua. Selain itu, pencampuran bahan bakar solar dengan bahan bakar nabati akan dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia, menyebutkan selain dua kilang itu, seluruh kilang yang dikelola Pertamina akan disiapkan untuk bisa memproduksi B40.
ADVERTISEMENT
“Pada dasarnya, kilang kami rata-rata memproduksi bahan bakar B0, dan insya Allah siap untuk memproduksi B40. Kilang yang akan memproduksi B40 adalah RU III Plaju dan RU VII Kasim, sementara blendingnya dilakukan oleh Patra Niaga,” ujarnya.