Wamen ESDM: Pertamina dan SPBU Swasta Perlu Tambah 1,4 Juta KL Impor BBM
ยทwaktu baca 2 menit

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan terdapat penambahan impor BBM sebesar 1,4 juta kiloliter (KL) untuk PT Pertamina (Persero) dan badan usaha SPBU swasta.
Yuliot mengatakan, 1,4 juta KL merupakan data sementara kebutuhan impor kumulatif perusahaan pelat merah dan swasta. Hal ini disebabkan lonjakan permintaan karena ada pergeseran (shifting) dari BBM subsidi menjadi nonsubsidi.
"SPBU swasta dengan Pertamina ini kan kita konsolidasikan berapa kebutuhan impor. Untuk kebutuhan yang disampaikan, data sementara 1,4 juta kiloliter. Jadi ini berapa porsi Pertamina, berapa porsi badan usaha, data-datanya kita minta detailkan," jelasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (12/9).
Dia menyebutkan, pemerintah sudah memberikan persetujuan impor sampai akhir tahun untuk setiap badan usaha. Nantinya, impor tersebut akan dilakukan satu pintu.
"Karena itu, nanti proses impornya akan dilakukan satu pintu. Jadi jangan sampai apa yang sudah diberikan itu tidak mencukupi, ada permasalahan-permasalahan dalam implementasinya," tegas Yuliot.
Selain itu, kata Yuliot, impor BBM tersebut juga akan termasuk dalam komitmen peningkatan neraca perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).
"Kita juga ada komitmen ini impor dalam rangka pemenuhan komitmen trade balance kita dengan Amerika. Karena bukan saja ini keinginan pemerintah, tetapi ada komitmen kita juga dengan pihak lain," ungkapnya.
Meski begitu, Yuliot tidak menjelaskan lebih lanjut apakah 1,4 juta kiloliter BBM akan seluruhnya diimpor dari AS. Sebab, kesepakatan yang akan dilakukan adalah kepada perusahaan AS, baik itu ExxonMobil maupun Chevron.
Nantinya, terlepas dari mana pengadaan BBM dilakukan oleh perusahaan AS tersebut, impor BBM tetap akan tercatat dalam neraca perdagangan antara Indonesia dengan AS.
"Perusahaan AS yang melakukan pengadaan harus, ya misalnya ExxonMobil, ini kan perusahaan AS. Kemudian Chevron, itu kan merupakan AS. Jadi dari mana pun mereka melakukan pengadaan, itu terserah. Tetapi ini dicatatkan sebagai trade balance kita dengan Amerika," pungkas Yuliot.
Sebelumnya, Yuliot menjelaskan penyebab langkanya BBM di SPBU swasta. Menurutnya, situasi ini terjadi karena pergeseran permintaan dari BBM bersubsidi Pertamina lantaran pembelian diperketat menggunakan QR code. Total pergeserannya bisa mencapai 1,4 juta kiloliter (KL).
