Kumparan Logo

Wamenperin Ungkap Sejumlah Masalah Produsen Baja dalam Negeri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza usai kerja Komisi VI DPR RI dengan bahasan penyelamatan industri baja nasional di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat pada Senin (10/11). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza usai kerja Komisi VI DPR RI dengan bahasan penyelamatan industri baja nasional di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat pada Senin (10/11). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkap sejumlah masalah yang menjadi momok produsen baja nasional saat ini. Dia menyebut produsen yang masih berfokus pada sektor konstruksi dan infrastruktur.

Menurutnya ada banyak sektor lain yang mempunyai potensi, seperti otomotif, perkapalan, hingga alat berat.

“Padahal sektor-sektor ini memerlukan jenis baja dengan spesifikasi khusus seperti alloy steel, baja paduan atau special steel, baja khusus yang memiliki potensi pasar besar baik di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Faisol dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan bahasan penyelamatan industri baja nasional di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat pada Senin (10/11).

Selain permasalahan itu, tantangan teknologi juga menjadi hambatan lainnya. Faisol menuturkan sebagian produsen masih mengalami tantangan dalam modernisasi peralatan produksi di mana sebagian besar mesin dan teknologi yang digunakan sudah berumur tua dan belum sepenuhnya ramah lingkungan.

“Kondisi ini mempengaruhi kualitas dan biaya produksi sehingga menjadi hambatan dalam upaya menuju industri baja yang punya daya saing, berkelanjutan, dan berstandar global,” ujarnya.

Dipasok Impor

Faisol juga mengungkap masih terdapat gap antara produksi baja dalam negeri dengan kebutuhan nasional sehingga gap tersebut diisi oleh baja impor.

“Gap ini diisi oleh produk impor sekitar 55 persen kebutuhan nasional dan mayoritas dari China. Sementara utilisasinya industri baja kita (nasional) sebesar 50 persen kurang lebih, sehingga industri baja nasional yang idle karena produknya tidak terserap pasar juga cukup banyak,” ujarnya.

Dengan berbagai permasalahan tersebut, Faisol menuturkan pemerintah sudah mengupayakan beberapa instrumen kebijakan seperti wajib SNI, pengaturan larangan terbatas untuk meningkatkan produk dalam negeri serta memperbaiki regulasi agar iklim investasi di sektor baja menjadi kondusif, inovatif dan menciptakan rantai pasok.

Selain itu, upaya hilirisasi baja juga terus didorong dengan memberikan dukungan agar produk baja nasional dapat dikonsumsi oleh industri yang lebih luas.

“Seperti industri perkapalan, otomotif, militer, konstruksi khususnya proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah seperti pembangunan jalan tol, giant sea wall, program 3 juta rumah, dan seterusnya,” kata Faisol.

instagram embed