Warga Papua Pilih Sagu daripada Beras: Tak Makan Sehari Badan Sakit

Warga Papua telah mengenal sagu sejak lama. Sagu merupakan bahan utama dalam pengelohan makanan seperti tepung untung membuat kue atau mie. Sagu yang masih basah biasanya dijadikan papeda oleh masyarakat sebagai makanan utama. Papeda biasanya disantap bersama ikan kuah kuning dan tumis kembang pepaya.
Meski sudah punya sumber makanan utama, warga Papua tetap mendapatkan bantuan berupa beras yang menjadi pangan utama sejuta umat, terutama masyarakat Jawa dan Sumatera. Bantuan beras sejahtera (rastra) ini dibagikan setiap tahunnya yang tahun depan akan diganti sepenuhnya menjadi Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).
Ada bantuan beras, apakah warga Papua meninggalkan papeda?
Kepala Adat Kampung Yoboi di Sentani, Papua, bernama Sefanya Wally mengatakan meski ada bantuan beras, tapi papeda tetap menjadi pangan utama. Sebabnya, kehidupan masyarakat di sini sudah sangat tergantung pada sagu.

Lagi pula, secara kandungan gizi, kata Sefanya, papeda lebih baik dari nasi. Kandungan glukosa papeda jauh lebih rendah dari nasi sehingga cocok untuk mengurangi diabetes. Dilihat dari ketahananya, papeda bisa disimpan dalam waktu yang lama.
"Asal (sagu basah) airnya diganti-ganti, bisa tahan lama. Pun dengan papeda, bisa disimpan lama," kata dia saat ditemui kumparan dan rombongan Yayasan EcoNusa Indonesia di balai Kampung Yoboi, Sentani, Papua, Sabtu (8/12).
Meski begitu, harga jual sagu mentah dan beras tidak terlalu jauh. Sefanya menjelaskan, harga jual sagu mentah atau sagu basah yang menjadi bahan membuat papeda dijual Rp 200 ribu dalam karung 15 kg yang ukuran berat sagunya sendiri bisa mencapai 40 kg. Sementara beras, kata dia, dalam karung 15 kg, harganya Rp 120 ribu.
Saat kumparan dan rombongan datang, para mama-mama di Kampung Yoboi menyuguhkan makan siang dengan menu utama papeda. Sefanya mengaku makan nasi di kampungnya hanya dilakukan jika warga sedang bosan saja pada papeda. Tapi keberadaan papeda sendiri tidak akan pernah terganti karena antara sagu dan budaya sangat erat.
"Dua hari saja tak makan papeda di sini, badan sakit-sakit rasanya," kata salah satu warga yang hadir di balai kampung.
Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia di Kampung Yoboi, budaya makan papeda memang harus selalu dilakukan kepada generasi baru agar terjaga. Mama Leni Tungkoye misalnya yang mengaku akan mendahulukan papeda untuk memenuhi kebutuhan makan keenam anaknya.
Menanamkan budaya makan sagu juga menjadi pelajaran agar terus menjaga hutan sagu. Masyarakat Papua sangat percaya sagu adalah tumpuan terakhir mereka ketika makanan sulit ditemui.Tapi, dia juga tidak melarang anak-anaknya untuk makan nasi. Jika anaknya ingin makan nasi, maka dia akan membuatkanya.
"Setiap hari kita harus ajarkan anak-anak makan sagu dan pisang. Kita kan tidak punya sawah padi, kalau mereka enggak makan sagu tuh rugi. Sekarang meski ada nasi, tapi wajib punya papeda di meja," kata dia.
Budaya makan papeda pun digalakkan Pemda Kabupaten Jayapura. Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengatakan, di lingkungan pemerintahannya, dia sudah membuat seruan. Jika ada acara kedinasan, makanannya harus menyajikan penganan lokal termasuk papeda.
Imbauan ini pun kata dia ke depannya akan diserukan ke luar, ke tempat-tempat komersial seperti rumah makan. Dengan begitu, kelestarian makanan lokal khas Papua tidak hilang.
"Baru imbauan. Nanti kalau muali berjalan, kita dorong keluar. Kalau di restoran dan rumah makan, kalau kita sepakat. Sekarang persoalannya bahan baku ter-supply terus. Kalau misalnya mie beras kue dari sagu, kan setiap saat harus ada supply, nah ini kita harus supply dari hulu ke hilir. Birokrasi kita dari waktu ke waktu terus bicara jangan kerja itu-itu saja. Jadi budaya, ini yang menurut saya kita harus ciptakan," tutur dia.
