Kumparan Logo

Wisata Gua Pindul Masih Diwarnai Praktik Calo

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Objek wisata Gua Pindul, salah satu wisata binaan BCA di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (19/8/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Objek wisata Gua Pindul, salah satu wisata binaan BCA di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (19/8/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Sebagai salah satu objek wisata alam di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gua Pindul menjadi salah satu destinasi wisata tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sadar akan potensinya, banyak oknum tak bertanggung jawab yang mengambil kesempatan untuk melancarkan aksi calo. Mereka sengaja memanfaatkan ketidaktahuan wisatawan yang kebingungan mencari akses menuju Goa Pindul.

Aksinya beragam. Mulai dari menjajakan jasa secara langsung di pinggir jalan. Hingga membuntuti mobil dengan pelat di luar area Yogyakarta.

Biasanya mereka akan melancarkan aksinya dengan berpura-pura menjadi bagian dari operator resmi penyedia layanan jasa wisata.

“Biasanya ada mobil pelat luar kota, dia buntutin dari belakang, nanti mobilnya mau belok ke mana, misalnya ke Wirawisata, dia langsung nyalip ke Wirawisata terus bilang sama loket ‘Ini tamu saya’ padahal dia belum kenal. Dia (calo) mengambil untung dari situ,” kata pemandu wisata Goa Pindul, Sugito (40) kepada wartawan di Kabupaten Gunungkidul, Jumat (19/8).

Tentu ini merugikan wisatawan. Contohnya saja, pengunjung yang ingin memasuki Goa Pindul akan dikenakan biaya masuk dan jasa pemandu seharga Rp 50 ribu. Jika memakai jasa calo, harga yang dikenakan bisa dua kali lipat.

Peluncuran buku Gunungkidul, The Next Bali, Jumat (19/8/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Cara ini biasanya dipakai oleh calo yang menjajakan aksinya di pinggir jalan raya. Agar aksinya berjalan lancar, biasanya mereka meminta pembayaran dilakukan di awal sebelum diarahkan menuju destinasi wisata.

Ketika pengunjung sadar bahwa mereka dikenakan tarif jauh lebih mahal, para calo ini sudah kabur untuk kembali melancarkan aksinya di tempat lain.

“Calo itu menjual tiketnya lebih tinggi. Misalnya harga tiket Rp 40 ribu, dia bisa jual Rp 80 ribu. Apalagi dia menjual paket misalnya Gua Pindul, Gua Kristal, Sungai Oyo, tiga tempat, dia bisa menjual Rp 230 ribu. Nanti yang disetorkan ke pengelola, ke pendaftaran harganya di bawah standar,” cerita Sugito.

“Jadi dia malah mengambil keuntungan lebih besar dari yang menjual tiket (operator resmi wisata). Nah pengunjung yang engga pernah ke sini engga nyamannya begitu,” jelasnya.

Respons Dinas Pariwisata soal calo yang menjamur

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul Mohammad Arif Aldian buka suara terkait menjamurnya calo di sekitaran kawasan wisata di Gunung Kidul.

Menurutnya, praktik ini adalah hal yang wajar terjadi di setiap kawasan wisata, tidak hanya di kawasan Gunungkidul saja.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Mohammad Arif Aldian di Pendopo Taman Budaya Wonosari, Gunungkidul, Jumat (19/8). Foto: Haya Syahira/kumparan

“Biasalah, namanya destinasi wisata pasti ada efek-efek samping. Jadi pasti ada efek samping yang mengikuti ya, salah satunya di Pindul ini dengan adanya calo, kalau masuk kesini kan pasti ada orang bawa,” kata Arif saat diwawancara oleh wartawan di Pendopo Taman Budaya Wonosari, Gunungkidul, Jumat (19/8).

Menurutnya, masyarakat seharusnya sudah bisa membedakan antara jasa calo dan operator resmi. Untuk mempermudah, Arif menyarankan untuk menggunakan aplikasi peta digital daripada menggunakan jasa calo di pinggir jalan.

“Itu sebetulnya kalau dari wisatawan itu sebenarnya sudah paham, pahamnya gini, sekarang kan pakai maps itu dapet (lokasinya), artinya teknologi itu silakan dimanfaatkan,” jelasnya.

“Ini untuk mengurangi potensi dari orang-orang yang ingin memanfaatkan ketenaran Pindul dengan membawa wisatawan dengan cara-cara, versi mereka,” tuturnya.