Kumparan Logo

Yakin Ekonomi Kuat, Malaysia Tak Akan Patok Kurs Ringgit Terhadap USD

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (Foto: AP)
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (Foto: AP)

Pemerintah Malaysia menegaskan kebijakan moneternya, untuk tetap membiarkan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara mengambang (floating).

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan, negara tersebut tidak akan mengulangi langkah pematokan mata uangnya terhadap dolar AS. Pernyataan ini disampaikan Najib, menanggapi adanya keraguan sejumlah kalangan akan kondisi ekonomi Malaysia menjelang pemilihan umum yang semakin dekat.

"Kami telah menjelaskan dengan gamblang bahwa kami tidak akan pernah mengulangi tindakan tersebut (mematok ringgit terhadap dolar AS), percaya bahwa walaupun mungkin ada fluktuasi itu hanya jangka pendek. Dalam jangka panjang tingkat ringgit akan mencerminkan kekuatan ekonomi Malaysia," kata Najib saat menyampaikan ceramah utamanya dalam sebuah konferensi, Selasa (23/1).

Dalam upaya melindungi ekonomi Malaysia dari kerentanan eksternal dan memulihkan stabilitas keuangan selama krisis keuangan Asia pada 1997-1998, kontrol kurs selektif diberlakukan oleh bank sentral Malaysia pada September 1998. Langkah-langkah ini diikuti oleh penetapan kurs nilai tukar ringgit di 3,80 per dolar AS. Pematokan telah dihapus pada Juli 2005.

Najib seperti dikutip dari Xinhua mengatakan, bahwa pematokan mata uang tersebut merupakan biaya berat bagi Malaysia, karena para investor dan pasar global kehilangan kepercayaan di Malaysia saat pematokan terlalu lama.

"Butuh waktu lama untuk memenangkan pasar (investor dan pasar global) kembali," katanya, menambahkan bahwa langkah tersebut akan menjadi bencana tak terbatas bagi ekonomi Malaysia dan kemakmuran Malaysia.

Ilustrasi Uang Ringgit Malaysia (Foto:  Wendiyanto Saputro/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang Ringgit Malaysia (Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan)

Najib juga menyoroti bahwa ringgit mengalami apresiasi 10,4% terhadap dolar AS tahun lalu, mencerminkan prospek ekonomi yang positif.

"Kenaikan ini mungkin sebagian didukung oleh pemulihan harga minyak mentah, namun juga mengindikasikan sentimen positif di antara investor dan pengakuan fundamental ekonomi dan keuangan Malaysia yang sangat baik," tambahnya.

Awal bulan ini, ringgit menembus level psikologis 4,00 terhadap dolar AS.