Kumparan Logo

Zulhas Sebut MBG Bisa Bikin Fisik Anak-anak RI Oke, Otak Cerdas

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menghadiri Town Hall 1 Tahun Kinerja Kemenko Pangan di Grha Mandiri, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menghadiri Town Hall 1 Tahun Kinerja Kemenko Pangan di Grha Mandiri, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menilai kualitas sumber daya manusia Indonesia perlu ditingkatkan agar bangsa bisa lebih maju dan produktif. Menurutnya, salah satu penyebab utama Indonesia sulit bersaing dengan negara lain adalah karena masih banyak masyarakat yang kekurangan gizi.

"Tidak mungkin negara itu maju atau miskin, itu bergantung cara ngelolanya, bergantung produktivitasnya. Artinya tergantung kepada manusianya, tergantung kepada sumber daya manusianya," ujar Zulhas dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025, di JCC, Sabtu (1/11).

Zulhas menjelaskan kekurangan gizi yang terjadi selama bertahun-tahun membuat daya pikir masyarakat lemah. Menurutnya, anak-anak yang tumbuh dengan gizi tidak seimbang bakal sulit berkembang baik secara fisik maupun intelektual.

"Kalau sumber daya manusia kita gizinya kurang. Kalau gizinya kurang dan itu yang terjadi bertahun-tahun, itu fisiknya lemah, IQ-nya rendah," katanya.

Zulhas menyebut, rata-rata IQ masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yakni sekitar 78. Ia menilai dengan angka tersebut masih banyak masyarakat yang belum mampu berpikir logis dan menghitung kebutuhan dasar dengan baik.

"Oleh karena itu kalau saya tidak salah, mohon maaf, rata-rata IQ di rata-rata Indonesia 78. Tentu yang di ruang ini beda, tapi rata-rata 78," ujar Zulhas.

Zulhas menggambarkan kondisi itu lewat contoh sederhana masyarakat desa. Banyak warga, kata Zulhas, yang belum bisa memperkirakan pengeluaran rumah tangga atau menghitung kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

"Kumpulkan satu kampung di dusun, satu kampung, seribu orang bapak kumpulkan. Tanya, putranya berapa? Tiga. Tanya lagi, putranya berapa? Empat. Suruh ngitung, kalau putranya bapak tiga, putranya bapak empat, hitung dong berapa keperluanmu sebulan, dan berapa satu tahun anakmu bisa sekolah, tidak bisa ngitung," kata Zulhas.

Untuk itu, Zulhas yakin program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa meningkatkan asupan gizi anak-anak, ibu hamil, dan balita. Sehingga kecerdasan mereka juga bisa meningkat.

"Oleh karena itu, kebijakan berikutnya adalah memberikan makan agar anak-anak Indonesia itu gizinya cukup. Kalau gizinya cukup, fisik oke, otak cerdas. Kita harapkan rata-rata IQ anak Indonesia bisa 120 baru kita bisa bersaing," jelas Zulhas.

Zulhas menargetkan program ini bisa menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026 di seluruh Indonesia. Menurutnya banyak yang mendapat dampak positif dari MBG.

"Bayangkan, sekarang di Jawa Barat agak bergejolak, sudah naik kira-kira hampir sepuluh persen harga telur dan harga ayam, karena MBG. Oleh karena ini akan menimbulkan dampak ikutan ekonomi kerakyatan yang luar biasa," tutur Zulhas.