Kumparan Logo

Zulhas Ungkap 9 Kontainer Impor dari Filipina Tercemar Radioaktif CS-137

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kemenko Pangan pada Selasa (15/7).
 Foto: Widya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kemenko Pangan pada Selasa (15/7). Foto: Widya/kumparan

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan Indonesia juga menjadi korban pencemaran zat radioaktif CS-137 yang diimpor dari Filipina. Sebanyak 9 dari 14 kontainer tersebut berisi zinc concentrate powder.

Hal ini terungkap di tengah investigasi pencemaran udang beku asal Indonesia yang ditemukan di Amerika Serikat (AS). Sumber pencemaran tersebut berada di kawasan industri Cikande, Banten.

Zulhas mengatakan, meskipun 9 kontainer yang tercemar, seluruh 14 kontainer akan segera dikirimkan ulang alias re-ekspor ke Filipina.

"Kita ini Indonesia sebetulnya menjadi korban. Korban karena di saat bersamaan pemerintah kita menemukan ada 14 kontainer ini yang di Pelabuhan Priok segera kita re-ekspor, yang berasal dari Filipina terdeteksi paparan CS 137," ujarnya saat Rapat Koordinasi Tingkat Menteri perihal Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Radionuklida CS-137, Jumat (12/9).

Ke depannya, dia menyebutkan pemerintah akan memperketat regulasi terutama terhadap barang-barang yang mengandung limbah, terutama scrap atau serbuk logam.

Berdasarkan investigasi awal, pemerintah menemukan masuknya 9 kontainer asal Filipina yang terdeteksi paparan CS-137 di pelabuhan Tanjung Priok. Kontainer tersebut segera dire-ekspor. Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan ini, melainkan juga menjadi korban dalam masalah global yang perlu ditangani secara kolektif.

Satgas merekomendasikan dilakukan pengetatan regulasi impor terutama barang yang berkaitan dengan paparan radioaktif agar tidak terjadi kasus serupa di kemudian hari.

Dalam upaya menjaga kepercayaan pasar internasional, Satgas di bawah kepemimpinanMenko Pangan telah melakukan komunikasi aktif dengan berbagai lembaga internasional, antara lain International Atomic Energy Agency (IAEA), US Food and Drug Administration (FDA), US Customs and Border Protection (CBP), dan International Food Safety Authorities Network (INFOSAN).

Selain itu, jalur diplomasi juga ditempuh dengan AS dan negara mitra dagang potensial untuk memastikan persoalan ini dapat diselesaikan secara adil dan proporsional, tanpa merugikan nelayan, pekerja, maupun pelaku usaha Indonesia.

Dengan terbentuknya Satgas, Pemerintah menegaskan komitmen untuk menangani isu ini secara menyeluruh, transparan, dan kredibel. Langkah cepat ini juga merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah untuk memastikan bahwa industri udang Indonesia tetap aman, sehat, dan kompetitif di pasar global.

instagram embed