3 Kunci Utama Timnas Indonesia Torehkan Kemenangan Bersejarah atas Kuwait
ยทwaktu baca 4 menit

Timnas Indonesia harus menunggu selama 42 tahun untuk bisa kembali mengalahkan Kuwait. Penantian panjang itu berakhir manakala skuad 'Garuda' berhadapan dengan Kuwait di ajang Kualifikasi Piala Asia 2023.
Berhadapan di Jaber Al-Ahmad International Stadium, Kuwait City, Rabu (8/6), Indonesia menang dengan skor 2-1. Ini merupakan kemenangan bersejarah karena terakhir kali Timnas Indonesia menang atas Kuwait pada 1980 di Merdeka Games Malaysia.
"Sebelum pertandingan ini, saya sudah berita tahu bahwa kami bisa menyulitkan Kuwait. Saya tidak spesifik berkata kami akan menang, tapi tentunya kami punya kesempatan," ujar pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, usai laga.
"Saya tidak tahu kapan terakhir kali Indonesia mengalahkan Kuwait. Tapi, setelah kami mengalahkan Kuwait hari ini saya katakan sepak bola Indonesia telah berkembang," lanjutnya.
Lantas, apa kunci Timnas Indonesia bisa meraih kemenangan atas Kuwait di kandang mereka?
Sabar Membangun Serangan
Hasil uji coba melawan Bangladesh yang berakhir 0-0 sempat menimbulkan nada-nada pesimistis akan penampilan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2023. Apalagi, lawan-lawan berat sudah menanti semacam tuan rumah Kuwait dan Yordania, sementara Nepal juga tak bisa dipandang remeh.
Kendati demikian, Fachruddin Aryanto dan kolega mampu mengejutkan pencinta sepak bola nasional dengan penampilan apiknya. Bahkan, sejak menit pertama, para pemain Indonesia tampak begitu sabar dalam membangun serangan.
Mereka di luar dugaan begitu sabar membangun serangan dari lini pertahanan. Memindahkan bola dari kaki ke kaki, dari satu sisi ke sisi lain.
Meski masih tampak belum begitu tenang saat memasuki pertahanan lawan, setidaknya kesabaran itu mampu membuat pemain Kuwait tak leluasa dalam mengembangkan permainan. Pasalnya, mereka juga harus berupaya keras untuk merebut bola dari para pemain Indonesia.
Gaya permainan itu tampak begitu kontras saat melawan Bangladesh. Kala itu, serangan yang dibangun begitu banyak dihiasi bola-bola lambung yang tak jelas arahnya, sehingga dengan mudah mampu dipatahkan lawan.
Disiplin
Kesabaran dalam membangun serangan diperkuat dengan kedisiplinan setiap pemain dalam menempati posisinya masing-masing. Ketika kehilangan bola, mereka langsung kembali ke posisinya sehingga ruang gerak pemain Kuwait pun terbatas.
Kedisiplinan itu begitu tampak manakala pertahanan Indonesia sulit ditembus tuan rumah. Trio Fachruddin, Rizky Ridho, dan Elkan Baggott tak pernah meninggalkan posnya sehingga menutup lubang-lubang di lini belakang.
Begitu pula dengan Rachmat Irianto dan Pratama Arhan yang bermain sebagai bek sayap. Begitu sehabis membantu serangan, keduanya dengan sigap kembali ke posisinya sehingga menutup kans Kuwait untuk melakukan umpan silang.
Tak hanya pemain belakang, gelandang dan penyerang pun ikut membantu bertahan. Marc Klok dan Ricky Kambuaya tak jarang turun hingga masuk ke dalam kotak penalti, sementara Irfan Jaya dan Saddil Ramdani memperkuat lapisan di sisi flank.
Kuwait pun tampaknya tahu betul kelemahan Indonesia dalam mengantisipasi bola-bola silang. Hal itu tercermin dari gol pertama mereka yang dilesakkan melalui tandukan yang berawal dari umpan silang di sisi kiri pertahanan Indonesia.
Kendati demikian, setelah gol itu, Elkan dan Arhan tampak tampil lebih rapat. Jarak di antara keduanya yang sempat terjadi di sisi kiri, semakin rapat setelah gol itu tercipta.
Jangan lupakan pula penampilan ciamik dari Nadeo Argawinata. Sepanjang 90 menit, kiper Bali United itu berhasil melakukan lima penyelamatan.
Berani 'Pegang' Bola
Salah satu hal yang menjadi penyakit Timnas Indonesia ketika berhadapan dengan tim dengan kualitas lebih baik adalah seringnya kehilangan bola. Hal itu tak lain disebabkan karena tak memiliki keberanian atau kepercayaan diri dalam memainkan bola saat ditekan lawan.
Namun, semalam, para pemain Timnas Indonesia begitu bernyali untuk 'memegang' bola, bahkan di area pertahanan sendiri. Dengan begitu, aliran bola pun terasa lebih lancar, ketimbang biasanya bermain direct ball.
Berdasarkan data LapangBola, Indonesia bahkan unggul dalam penguasaan bola di babak pertama yakni 52:48 persen. Tak hanya itu, permainan Indonesia tampak begitu halus karena ditunjang dengan akurasi umpan yang apik yang tercatat di angka 89 persen dari 219 umpan.
Di interval kedua, Indonesia kalah dalam penguasaan bola karena lebih banyak fokus dalam bertahan menyusul keunggulan 2-1 di menit-menit awal. Akan tetapi, kepercayaan diri dalam memainkan bola tak luntur dengan tingkat akurasi sebesar 85 persen.
Keberanian dalam 'memegang' bola menjadi unsur penting dalam kemenangan Indonesia atas Kuwait. Karena dengan begitu kesempatan untuk mengkreasikan peluang menjadi lebih besar sekaligus memaksa lawan lebih berkeringat dalam merebut bola.
***
Di balik tiga kunci tersebut, harus diakui masih terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki. Hal yang paling kentara adalah persoalan finishing.
Di babak kedua, ada dua peluang emas yang didapat Witan Sulaeman dan Ricky Kambuaya. Akan tetapi, keduanya gagal mencetak gol ketiga alias kill the game karena kurang tenang dalam menyelesaikan peluang.
Indonesia secara total melepaskan 12 upaya ke gawang lawan, tetapi hanya dua yang tepat sasaran yang keduanya menjadi gol. Jika tiga kunci tersebut dipadukan dengan finishing yang apik, bukan tak mungkin Timnas Indonesia kembali menghadirkan kejutan saat melawan Yordania pada Minggu (12/6) dini hari WIB.
Mampukah?
