5 Alasan Mengapa Era Ronaldo dan Messi Akan Segera Berakhir
ยทwaktu baca 5 menit

Tidak bisa diganggu gugat bahwa Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah pesepak bola terbaik dunia selama 10 tahun terakhir. Buktinya, duo Greatest of All Time (GOAT) tersebut sukses menorehkan trofi klub maupun individu.
Dalam 10 tahun terakhir, ajang Ballon d'Or senantiasa dihiasi oleh nama mereka. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa La Pulga dan CR7 merupakan sosok figur legenda dalam sepak bola modern.
Kendati demikian, era kedua GOAT itu makin ke sini terlihat akan pudar. Bukannya tanpa alasan, usia yang sudah menginjak kepala tiga lebih membuat performa mereka mengalami penurun cukup drastis.
Berangkat dari hal tersebut, kami akan membahas perihal lima alasan mengapa dominasi Ronaldo dan Messi bakal segera berakhir. Simaklah pembahasan berikut ini yang dikutip dari Sportskeeda.
1. Usia yang sudah tua dan banyak muncul bintang-bintang baru
Umur Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi tidak jauh berbeda. Kini, pria Portugal itu menginjak usia 36 sedangkan Messi berumur 34 tahun. Hal tersebut membuat keduanya bermain lebih lambat jika dibandingkan dengan masa-masa keemasannya dulu.
Meskipun kemarin Messi berhasil menorehkan trofi 'Bola Emas' ke-7, hal tersebut didapatkannya dengan performa yang kurang maksimal layaknya masih muda. Begitupun Ronaldo, kendati ia menggendong MU yang terseok-seok, penampilannya pun tidak secekatan di masa lampau.
Hal itu diperburuk ketika banyak bintang baru yang mulai menunjukkan eksistensinya. Sebut saja Mo Salah yang kini santer ditahbiskan sebagai pesepak bola terbaik masa sekarang. Bukan tanpa alasan, pria Mesir itu sukses membawa Liverpool kembali ke top performa berkat kreativitasnya.
Tak hanya itu, Mbappe dan Haaland juga patut didapuk sebagai bintang masa depan yang beberapa tahun ke depan pasti akan bersinar. Mereka sama-sama menunjukkan kemampuan yang patut diacungi jempol meskipun belum sepenuhnya matang.
Jika ditinjau dari statistik, Mbappe menorehkan 143 gol untuk Paris Saint-Germain hanya dalam 193 laga. Tak mau kalah, Haaland juga tampil ciamik berkat koleksi 74 gol yang dikemasnya dalam 72 pertandingan saja.
2. Kans kecil untuk meraih kejayaan di Piala Dunia 2022
Baik Ronaldo maupun Messi, kedua GOAT itu sukses membawa negaranya meraih piala kontinen. CR7 sukses menggendong Portugal merajai Euro 2016, sedangkan La Pulga berhasil mengantarkan Timnas Argentina menyabet Copa America 2021.
Kendati demikian, mereka sama sekali belum mampu mengantarkan tim nasionalnya untuk meraih penghargaan paling bergengsi, Piala Dunia. Apalagi di usianya yang sudah tak muda lagi, kans untuk menorehkan trofi Piala Dunia 2022 sangatlah kecil.
Bukannya tanpa alasan, mereka harus menghadapi tim-tim kuat seperti Prancis, Inggris, bahkan Italia. Meskipun begitu, Messi masih memiliki peluang lebih besar ketimbang Ronaldo.
Ya, Argentina berhasil lolos terlebih dahulu untuk mengisi tempat di Qatar tahun depan. Hal berbeda harus dirasakan CR7 sebab timnya wajib melalui fase play-off terlebih dahulu sebab hanya mampu bertengger di posisi runner up Grup A pada saat kualifikasi.
3. Turunnya kontribusi gol Messi dan Ronaldo pada tim yang dibelanya
Saat didapuk sebagai pemain terbaik beberapa tahun lalu, Messi dan Ronaldo sama-sama sukses menjadi mesin gol terhadap tim-tim yang dibelanya. Buktinya, La Pulga pernah mencatatkan rekor yang sukar dipecahkan yakni mencetak 91 gol dalam 1 musim pada 2012.
Sedangkan Ronaldo, ia juga berhasil menahbiskan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan koleksi 800 gol lebih. Dua pencapaian gemilang tersebut boleh dibilang akan sulit dipecahkan oleh para bintang baru.
Kendati demikian, kegacoran kedua GOAT itu saat ini kian menurun berkat performa yang melandai. Tercatat, Messi tak segarang dulu sehingga cuma mampu mengemas 6 gol saja selama di PSG.
Begitupula Ronaldo, meskipun sukses menjadi top skor MU saat ini berkat 13 kali menjebol jala lawan, sebagian besar gol CR7 itu lewat tap-in.
Jika dibandingkan dengan pemain lain, mereka patut gigit jari sebab Mo Salah maupun Lewandowski menunjukkan performa ciamik yang cukup konsisten. Tercatat, masing-masing dari mereka sukses mencetak 21 dan 27 gol di musim ini.
4. Kebapukan Manchester United Bakal Membuat CR7 Sulit Bangkit
Tak bisa dimungkiri bahwa Manchester United (MU) kini layak dicap sebagai tim medioker. Peraih 20 trofi Liga Inggris itu berubah menjadi klub gurem sesaat setelah ditinggal juru taktik andalannya, Sir Alex Ferguson pada 2013. Alhasil, tak ada pelatih yang mampu membawa MU balik ke performa terbaiknya.
Beberapa waktu lalu, Ronaldo membuat gempar dunia sepak bola dengan memutuskan untuk balik kampung ke klub yang membesarkannya. Bak pahlawan, CR7 diharapkan bisa menjadi pemantik semangat 'Setan Merah' agar dapat bangkit dari keterpurukan.
Namun, keputusan tersebut bisa dibilang sebagai ajang bunuh diri sebab MU sama sekali tak mengalami perkembangan. Malahan, MU sering menunjukkan performa bobrok sehingga harus bertekuk lutut di hadapan tim-tim kecil.
Berangkat dari hal tersebut, Ronaldo pasti akan kesusahan untuk menunjukkan kembali eksistensinya sebagai pesepak bola terbaik dunia. Meskipun sukses menggendong MU secara perlahan, hal tersebut tak cukup membawa The Red Devils balik ke jalurnya.
5. Lionel Messi Tidak Merumput di Liga yang Kompetitif
Untuk bisa dicap sebagai pesepak bola terbaik, para pemain wajib menunjukkan kemampuan paling ciamiknya dengan berlaga di liga terbaik. Hal semacam itu tampaknya akan menyulitkan Messi sebab ia memutuskan untuk merumput di Liga Prancis.
Bisa dikatakan bahwa Ligue 1 merupakan salah satu kompetisi yang kurang ketat. Bukannya tanpa alasan, PSG patut dibilang sudah di atas angin sebab saingannya untuk meraih trofi liga hanya sekelas Lyon, Lille, maupun Monaco.
Namun, hal tersebut sebenarnya bisa diakali jika PSG mampu meraih trofi Liga Champions. Kendati demikian, UCL bukanlah kompetisi ecek-ecek sebab tim-tim terbaik di Eropa akan bersaing untuk memperebutkan 'Si Kuping Besar'.
Hal itu akan menjadi tugas berat bagi Lionel Messi jika ingin sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik. Berangkat dari hal tersebut, mampukah La Pulga membawa Les Parisiens meraih trofi Liga Champions untuk pertama kalinya? Patut dinantikan.
