5 Wonderkid yang Kariernya Hancur karena Bengal, Eks MU hingga Balotelli
ยทwaktu baca 4 menit

Wonderkid berbakat terus bermunculan silih waktu berganti. Namun, tak sedikit dari mereka berubah status menjadi pemain gagal, entah karena cedera, penampilan inkonsisten, hingga tingkah yang bengal.
Khusus untuk sikap yang disebut terakhir, banyak hadir contoh di Liga Inggris hingga Italia. Sejatinya mereka memiliki bakat dan potensi luar biasa, tetapi itu tak dibarengi dengan sikap profesional dan kedisiplinan tingkat tinggi.
Lantas, siapa saja pemain sepak bola yang dulu berlabel wonderkid berbakat, kini 'blangsak' karena tingkah bengal mereka? Berikut rangkuman namanya, dikutip dari Sportskeeda.
5. Ravel Morrison (Eks Wonderkid MU)
Dalam kata-kata eks manajer MU, Sir Alex Ferguson, Ravel Morrison memulai kariernya dengan label pemain terbaik yang pernah dilihat Fergie pada usia itu.
Dengan deskripsi mewah tersebut, seharusnya dia menjadi pemain terbesar MU dalam satu dekade terakhir. Dijuluki 'The Next Wayne Rooney', ia sempat dipandang sebagai prospek terbaik MU sejak George Best. Sayang, kariernya mandek, sebagian besar karena masalah hukum sebelum akhirnya pergi ke West Ham.
Tak jauh berbeda, Morrison tak bisa menetap lama di satu klub. Ia akhirnya berjuang untuk mempertahankan tempat di tim utama dengan berkelanan ke 11 klub berbeda, bahkan sebelum usianya mencapai 28 tahun.
Kini, ia bergabung dengan Derby County dan reuni dengan mantan rekan setimnya sekaligus manajer Derby saat ini, Wayne Rooney. Meski mungkin sudah terlambat bagi eks wonderkid MU ini untuk bersinar, setidaknya dia bisa menebus dosa dengan berprestasi di tim Championship tersebut.
4. Adriano (Eks Wonderkid Inter Milan)
Sebelum Neymar terkenal, Adriano adalah bintang terbesar di Amerika Selatan. Berkembang di Flamengo saat berusia 17 tahun, ia pindah ke Inter dua tahun kemudian. Penampilan hebatnya saat masa pinjaman membuatnya menembus tim utama Nerazzurri, menjadi superstar, dan memenangkan empat gelar Serie A bersama Inter.
Namun, saat sang ayah meninggal karena serangan jantung ketika Adriano berusia 22 tahun, itu berdampak besar pada kariernya. Meski penampilannya tidak menurun, dia mulai banyak minum alkohol dan clubbing. Sampai akhirnya dia dua kali dikeluarkan dari skuad Brasil setelah tertangkap berada di kelab malam.
Kesabaran Inter pun memudar, dia pun dikirim kembali ke Sao Paulo dengan status pinjaman. Obat-obatan, alkohol, serta cedera mengurangi waktunya di lapangan. Tercatat, dari 2010 hingga pensiun pada 2016, Adriano bermain kurang dari 50 pertandingan.
3. Mario Balotelli (Eks Wonderkid Italia)
Mario Balotelli muncul sebagai bintang muda brilian untuk Italia selama gelaran Euro 2012. Rutenya menuju ketenaran seperti telah diatur dalam takdir hidupnya. Faktanya, Balotelli tak bisa menjaga anugerah itu.
Sang bintang beralih dari bermain untuk klub-klub papan atas, seperti Manchester City hingga Inter Milan menuju klub Serie B, Monza, bahkan sebelum usia 30 tahun. Sekarang, dia merumput bersama klub Turki, Adana Demirspor.
Masalah kedisiplinan seakan mengikuti eks wonderkid Italia itu dalam setiap klub yang ia bela. Sejak 2018, Balotelli hanya membuat 58 penampilan dengan empat klub.
2. El Hadji Diouf (Eks Wonderkid Senegal)
Setelah gemilang bersama Lens di Liga Prancis, Liverpool dengan cepat memboyong wonderkid berusia 21 tahun itu pada 2002. Namun, semua yang berhasil dibawa El Hadji Diouf ke Anfield adalah kontroversinya.
Penampilannya untuk Senegal mungkin brilian, tetapi sang pemain gagal meniru aksi cemerlangnya itu untuk klub barunya. Dia mungkin tetap menjadi salah satu striker terburuk dalam sejarah panjang Liverpool.
Tingkah kontroversial sang pemain tergambar saat ia meludahi seorang penggemar Middlesbrough yang berusia 11 tahun. Dia juga merebut bola dari rekan setimnya, Neil Mellor, untuk mengambil penalti. Pandangan buruk dari Jamie Carragher dan Steven Gerrard menuju padanya.
Diouf akhirnya meninggalkan Liverpool dengan hanya menyumbang 6 gol dalam 79 penampilan. Kariernya pun terus menurun curam, sampai pada akhirnya ia pensiun di Liga Premier Malaysia.
1. Adrian Mutu (Eks Wonderkid Chelsea)
Keputusan Chelsea membayar biaya selangit untuk Adrian Mutu sangat masuk akal pada 2003, terutama dengan penampilannya yang brilian di Serie A. Dia telah mencetak 22 gol dalam 36 penampilan untuk Parma saat itu.
Waktunya di Chelsea dimulai tanpa hambatan. Ia mencetak gol pada laga debutnya dan menyumbang brace di beberapa laga selanjutnya. Namun, penurunan kariernya dengan cepat dimulai setelah Mutu terlibat dalam drama perceraian.
Perseteruan publik lainnya terjadi dengan manajer Chelsea saat itu, Jose Mourinho. Itu bermula saat Mou menyatakan bahwa dirinya tak berniat memainkan Mutu. Semuanya pun berakhir dengan tidak baik-baik ketika Mutu dipecat Chelsea setelah gagal dalam tes narkoba.
Pertempuran hukum yang terus-menerus dengan Chelsea, sejak 2004, menghambat prospek masa depannya. Setelah tugas singkat dengan Juventus, eks wonderkid itu bermain bersama Fiorentina untuk sebagian besar kariernya kemudian.
