AFC Siap Perkenalkan VAR di Piala Asia 2019

Setelah Piala Dunia 2018, Piala Asia 2019 akan menjadi turnamen antarnegara kedua yang menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Hal ini disampaikan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia dalam pengumuman resminya, Kamis (27/9/2018).
"Sepak bola Asia bertekad untuk menggunakan teknologi demi kebaikan olahraga ini dan kami berencana untuk memperkenalkan VAR di kompetisi tertinggi AFC -- Piala Asia di Uni Emirat Arab," kata Presiden AFC Syekh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, seperti dikutip dari Reuters.
Di sepak bola, VAR adalah barang baru. Padahal, teknologi ini sebenarnya sudah digunakan di olahraga-olahraga lain sejak lama. Di National Football League (NFL), teknologi ini bahkan sudah diperkenalkan sejak 1976. Akan tetapi, semenjak mulai digunakan di Serie A dan Bundesliga pada musim 2017/18, teknologi ini jadi begitu populer.
Serie A dan Bundesliga memang bukan yang pertama karena sebelumnya, A-League dan Major League Soccer (MLS) sudah lebih dahulu menerapkannya secara resmi. Akan tetapi, pamor Serie A dan Bundesliga sebagai bagian dari lima liga top Eropa membuat VAR jadi semakin mudah diterima.
Hasilnya, kompetisi-kompetisi papan atas lainnya pun mengekor. Piala Dunia 2018 jadi turnamen terakbar yang mengadopsi teknologi ini. Selanjutnya, Ligue 1 dan La Liga pun menyusul. Kini, VAR akhirnya sampai juga ke benua Asia setelah AFC mendapat lampu hijau dari FIFA dan IFAB (Badan Sepak Bola Internasional), selaku pembuat aturan dalam sepak bola, untuk menerapkannya di Piala Asia 2019.
"Kami melihat langsung penerapan VAR di Piala Dunia 2018 dan sudah jelas bahwa adanya pelatihan terhadap ofisial pertandingan serta investasi dalam bentuk fasilitas sangatlah diperlukan supaya sistem ini bisa berjalan efektif sekaligus menjadi hal positif bagi olahraga ini," ucap Syekh Salman.
"Kami berterima kasih atas dukungan dari FIFA dan IFAB dan saya telah meminta kepada pihak terkait untuk menyiapkan semua elemen logistik dan segala hal yang diperlukan supaya VAR bisa digunakan demi meningkatkan kualitas Piala Asia," tutupnya.

Penerapan VAR di Piala Dunia 2018 sendiri dianggap sebagai sebuah keberhasilan oleh FIFA. Mantan Ketua Divisi Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengklaim bahwa VAR meningkatkan akurasi keputusan wasit dari 96% menjadi 99,3%. Akan tetapi, kontroversi bukannya sama sekali tidak ada.
Contoh kasus paling populer dari belum optimalnya VAR adalah kegagalan wasit memberikan hadiah penalti untuk Serbia pada pertandingan menghadapi Swiss. Penyerang Serbia, Aleksandar Mitrovic, ditekel oleh dua bek Swiss sekaligus di kotak penalti pada laga itu. Akan tetapi, wasit bergeming.
Hal itulah yang akhirnya membuat VAR belum diterima sepenuhnya, termasuk oleh UEFA. Sampai saat ini, badan tertinggi persepakbolaan Eropa itu masih menolak untuk mengimplementasikan VAR di Liga Champions dan Liga Europa. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menganggap bahwa masih banyak ketidakjelasan dari penerapan VAR itu sendiri.
