Air Mata Michael Owen dan Senyum Philippe Coutinho

Bagi Michael Owen, satu tahun kariernya di Real Madrid merupakan periode kelam. Bagaimana tidak, Owen yang sempat dipuja oleh Real Madrid, malah mendapatkan peran tak terlalu istimewa di skuat Los Blancos.
Maklum, saat Owen berlabuh di Santiago Bernabeu pada 2004, Real Madrid bak kolam besar untuk ikan-ikan besar. Di lini depan, mereka memiliki nama beken seperti Raul Gonzalez dan Ronaldo. Jatah tampil buat Owen tak pelak tergerus. Satu musim di sana, dia cuma menjalani 2.446 menit di lapangan dan mencetak 17 gol.
Kekhawatiran itu sebenarnya sudah dirasakan Owen saat Liverpool menerima tawaran sebesar delapan juta poundsterling untuk dirinya. Semakin dekat dengan tim raksasa, striker asal Inggris itu malah tidak merasa antusias.
"Saya memutuskan untuk pergi, tetapi menangis sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara. Sebagian dari diri saya memang tak ingin pergi," tulis Owen di Daily Mail.
"Ada pertanyaan di benak saya: Bagaimana rasanya berbicara dengan bahasa baru, menjalani budaya anyar, dan bermain untuk salah satu tim terbaik dunia?" kata dia menambahkan.
Bermain di luar negeri memang menjadi sesuatu yang tidak biasa buat pemain Inggris saat itu. Hanya sedikit yang berani mencobanya, salah satunya David Beckham.
Kehadiran Bechkam, plus Jonathan Woodgate, di Real Madrid akhirnya menguatkan keputusan Owen untuk hijrah ke Bernabeu. Cuma, sejak awal, dia sudah menetapkan bahwa kariernya di Madrid hanya untuk sementara.
"Mungkin seperti Ian Rush ketika meninggalkan Liverpool untuk pindah ke Juventus, saya bisa bermain satu atau dua tahun, kemudian kembali," kata Owen.
Benar saja, Owen kembali hengkang ke Newcastle United hanya setahun berselang. Dia seolah merasa terancam karena manajemen Madrid membuat kolam semakin sesak karena kedatangan Robinho dan Julio Baptista.

Menurut Owen, pergulatan serupa tidak akan dialami apabila yang berada di posisinya adalah pemain non-Inggris. Ambil contoh Philippe Coutinho, yang memutuskan pindah dari Liverpool ke Barcelona pada Januari 2018. Saat diperkenalkan sebagai pemain anyar Barcelona di Stadion Camp Nou, gelandang asal Brasil itu menunjukkan senyum lebar.
"Anda harus memahami, bagi pemain Amerika Selatan, bermain di Real Madrid atau Barcelona merupakan puncak karier," tutur Owen.
Coutinho merupakan pemain ketiga yang pindah dari Liverpool ke Barcelona. Para pendahulunya adalah Luis Suarez dan Javier Mascherano. Dua nama yang disebut terakhir tergolong menjalani karier gemilang di Camp Nou, tanpa penyesalan macam Owen.
Di Barcelona, Coutinho pun memiliki peluang besar untuk bersinar. Manajemen begitu memberikan kepercayaan kepada dia, terbukti dengan biaya 160 juta euro sebagai mahar transfer,
