Kumparan Logo

"AK47", Kenangan yang Akan Selalu Hidup

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Achmad Kurniawan kiper Arema FC. (Foto: Twitter/@aremaFC)
zoom-in-whitePerbesar
Achmad Kurniawan kiper Arema FC. (Foto: Twitter/@aremaFC)

Stadion Utama Gelora Bung Karno, 7 Juli 2002. Hari itu menjadi hari yang tak akan pernah terlupakan. Pertama kali dalam hidup, saya menyaksikan pertandingan final sepak bola Indonesia. Pertandingan final Liga Indonesia, antara Persita Tangerang dan Petrokimia Putra adalah pertandingan final sepak bola dalam negeri pertama yang saya tonton.

Beberapa hari sebelumnya, saya masih ingat bahwa saya –dan ayah saya– memproklamirkan diri sebagai pendukung klub sepak bola asal Gresik, Petrokimia Putra dalam pertandingan penutup. Kami berdua pun benar-benar menunggu pertandingan tersebut mulai beberapa hari sebelum final digelar.

Persita, kami anggap sebagai lawan yang memang cukup menakutkan. Meski kalah pamor dibandingkan Semen Padang, Arema, atau Persija, tetapi pada babak grup, Persita sudah menunjukkan diri bahwa mereka adalah salah satu klub terbaik.

Menjelang pertandingan final, dalam sepeda motor yang dikendarai ayah saya, kami kerap berdiskusi mengenai komposisi pemain Persita. Saya, takut dengan kehebatan duet penyerang Persita, Zaenal Arief dan Ilham Jayakusuma. Sementara, ayah saya segan dengan dua gelandang serang mereka, Carlos de Mello dan Firman Utina.

Namun, ada satu nama yang tak masuk radar yang kami takuti, tetapi terus kami bicarakan: Achmad Kurniawan.

X post embed

Dari beberapa omongan antara saya dan ayah saya mengenai dia, hanya dua yang masih kami ingat dengan jelas hingga kini: Achmad Kurniawan adalah kiper yang memiliki refleks bagus sekaligus cerewet kepada para pemain belakang. Apa yang ditunjukkannya sebelumnya di babak delapan besar menjadi buktinya. Dari delapan peserta, Persita menjadi satu-satunya peserta yang lolos ke semifinal dengan hanya kebobolan satu gol.

Apa yang kami bicarakan sempat terjadi di pertandingan final. Persita mampu unggul cepat lewat gol Ilham Jayakusuma ketika pertandingan baru memasuki menit pertama. Ketangguhan AK –sapaan akrabnya– diuji beberapa kali oleh duet penyerang Petrokimia pada pertandingan itu, Widodo Cahyono Putro dan M. Jainal Ichwan.

Petrokimia yang tak kenal lelah menyerang, baru bisa mencetak gol setelah hujan deras mengguyur lapangan GBK--yang dahulu bernama Stadion Senayan. Lewat gol dari Samuel Celbi pada menit ke-73 dan gol emas Yao Eloi, klub jagoan kami malam itu berhasil membawa pulang gelar ke Jawa Timur. Akan tetapi, tetap saja, apa yang ditunjukkan oleh AK malam itu membuat kami memiliki persepsi yang sama bahwa dia adalah tembok lawan sesungguhnya pada pertandingan itu.   

Setelah partai final, nama AK seakan dilupakan. Pascakegagalan di final itu, dia sempat hijarah menuju Arema. Setelah itu, dia beberapa kali berganti klub seperti Persik Kediri dan Semen Padang. Meski pada akhirnya dia kembali ke klub berlogo wajah singa tersebut.

instagram embed

Belasan tahun setelah pertandingan final itu, harus diakui AK tidak sebagus dulu. Refleksnya mulai lambat, badannya sudah melar, dan mulai menjadi cadangan adiknya sendiri, Kurnia Meiga. Penilaian itu masih berlaku hingga hilang dengan sendirinya ketika Arema berlaga di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu. Cederanya Meiga dan kiper kedua I Made Wirawan seakan menjadi berkah bagi AK. Dia pun kembali dipercaya berdiri di bawah mistar Arema.

Lebih sering menjadi ban serep dari Meiga dan Wirawan, nyatanya tidak membuat AK tampil ala kadarnya--apalagi dengan usia yang tak lagi muda. Ada satu hal yang tampak tidah berubah dari AK. Semangatnya masih membara. Arahan-arahannya kepada pemain belakang Arema tampak tidak hilang. Berbagai instruksi agar rekan setimnya menjaga lawan tetap terlihat. Hal lain yang terlihat adalah kiper kelahiran Jakarta 31 Oktober 1979 itu kini jauh lebih tenang. Emosinya tak lagi cepat tersulut seperti sebelum-sebelumnya.

Total, 16 pertandingan dijalaninya bersama Arema dan sukses membawa klubnya mengakhiri ISC A 2016 pada peringkat kedua. Ak juga berkontribusi menjadikan Arema sebagai klub dengan catatan kebobolan paling sedikit. Itu menjadi bukti AK tetap bekerja keras di lapangan hijau.

***

Selasa, 10 Januari 2017, kabar duka menghampiri dunia Si Kulit Bulat Tanah Air. Kiper yang identik dengan nomor punggung 47 ini meninggal dunia. Yang mengagetkan, beberapa hari sebelumnya, dia disebut-sebut mendapatkan tugas baru sebagai asisten pelatih kiper di klub yang kini berganti nama menjadi Arema FC itu.

Pada 12 hari sebelumnya, kiper yang pernah memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia U23 di SEA Games 2001 ini masuk rumah sakit karena menderita penyakit asam lambung. Kondisinya cukup parah ketika itu sampai mengalami koma. Meskipun sempat tersiar kabar bahwa dirinya mengalami kemajuan tetapi Tuhan berkehendak lain.

instagram embed

Kini, nomor 47 tinggal kenangan. Walaupun nanti ada pemain Arema lain yang memakainya, tentunya memori yang tersimpan tak akan pernah sama.

Selamat jalan AK47, terima kasih telah memberikan kami hiburan di masa lalu.