Kumparan Logo

Akhir Temaram Jalan para Legenda

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buffon tertunduk lesu di Bernabeu. (Foto: Susana Vera/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Buffon tertunduk lesu di Bernabeu. (Foto: Susana Vera/Reuters)

Menjalani karier dengan gelegar, menutup karier dengan temaram. Sehebat apa pun kiprah seorang pelakon sepak bola, ia tak bisa lepas juga dari nasib sial seperti ini. Entah sebagai pemain atau pelatih, mereka terbiasa menikmati gelar juara. Namanya masyhur sebagai pahlawan klub yang tak mungkin ada gantinya.

Namun, sepak bola adalah cerita tentang kaki-kaki manusia. Segala dongeng tentang kesenangan dan kemenangan tanpa henti pada akhirnya akan menghilangkan kemanusiaan dari sepak bola itu sendiri. Manusia, sehebat apa pun dia, tak akan bisa menghindar sepenuhnya dari kekalahan. Sekencang apa pun lari para pebola ini, ia tak akan selamanya bisa lolos dari kejaran nelangsa.

1. Steven Gerrard: Kepemimpinan 38 Detik

Steven Gerrard menjadi legenda Liverpool karena ia menghabiskan 16 tahun karier senior sebagai pesepak bola bersama Liverpool. Ia memulai debutnya pada usia 18 tahun. Di pertandingan melawan Blackburn Rovers itu, ia menjadi pemain pengganti di menit-menit akhir.

Tahun 2003 menjadi era baru dari perjalanan Gerrard bersama Liverpool. Ia ditunjuk sebagai kapten baru untuk Liverpool.

Bagi Gerrard tak ada yang lebih besar daripada malam di Istanbul tahun 2005. Sebagian besar pencinta sepak bola tahu cerita tentang comeback yang mashyur ini.

Liverpool mengakhiri babak pertama laga final Liga Champions 2004/2005 sebagai pesakitan. AC Milan menghajar mereka dengan skor 3-0. Perayaan kemenangan yang kelewat dini itu sudah terjadi di ruang ganti Milan. Mungkin, mereka lupa bahwa kejutan adalah nama tengah dari sepak bola.

Misi hampir mustahil inilah yang diemban Liverpool. Entah apa yang melecut semangat mereka di ruang ganti. Yang jelas, semua bermula dari gol Gerrard di menit 52 itu.

Setelahnya, roda keberuntungan dan vonis kemenangan berpihak pada Liverpool. Mereka menutup pertandingan waktu normal dengan skor imbang 3-3. Lantas, Liverpool menjadi pemenang setelah menutup babak adu penalti.

Gerrard memang berhasil memimpin Liverpool sebagai raja Eropa di tahun itu. Namun, ia acap gagal mengantar Liverpool menjuarai liga. Gerrard dan Liverpool adalah paket anomali yang lengkap. Jago di luar, kerdil di kandang.

Kegagalan Gerrard memimpin timnya kerap mengundang olok-olok. Tak butuh lebih dari satu menit untuk mencari meme yang menertawakan kegagalanya dan Liverpool menjuarai liga. Gerrard adalah pahlawan bagi Liverpool, tapi lelucon di Inggris.

Lelucon tentang Gerrard tak hanya soal kegagalannya mendulang gelar juara liga. Entah apa yang membuat Gerrard kerap memantik tawa. Lakonnya di pentas sepak bola Inggris adalah lakon jenaka dan menyedihkan sekaligus.

Steven Gerrard. (Foto: Dave Thompson/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Steven Gerrard. (Foto: Dave Thompson/Getty Images)

Mulai dari insiden terpelesetnya saat melawan Chelsea hingga perayaan gol mencium kamera yang diejek karena tak bisa mencium trofi Premier League, semua lahir di sepanjang karier Gerrard.

Bila setiap pentas akan menemui akhir, maka demikian pula dengan perjalanan karier Gerarrd di Liga Inggris. Maret 2015 menjadi kali terakhir Gerrard berlaga di Inggris. Desas-desus yang muncul, klub enggan memperpanjang kontrak Gerrard. Ia pun memutuskan untuk hengkang ke Amerika Serikat.

Laga penutup Gerrard adalah laga sengit, melawan Manchester United. Sayangnya, laga itu tak berakhir manis. Tak ada perpisahan yang mengharu-biru dan penuh elu-elu. Gerrard meninggalkan Liverpool dengan cara yang konyol: Gerrard diganjar kartu merah oleh wasit saat ia baru menginjakkan kaki selama 38 detik di atas lapangan.

Waktu itu, Liverpool tertinggal 0-1 di babak pertama. Gerrard masuk sebagai pemain pengganti Adam Lallana di babak kedua.

Ia memasuki lapangan, ban kapten diserahkan kepadanya. Kejadian yang lumayan ganjil. Memang, ia masuk dari bangku cadangan. namun, Jordan Henderson, kapten Liverpool hari itu, masih ada di atas lapangan. Sewajarnya, ia menjabat sebagai kapten sampai ia keluar dari lapangan.

Di pinggir lapangan ia bersiap. Mata kamera terbelalak merekam setiap geraknya di pinggir lapangan. Pikirnya, laga ini harus spektakuler. Apa-apa yang dikerjakan dengan semerbak harus ditutup dengan manis. Tak boleh ada kesalahan.

Gerrard membuktikannya. Tak sampai semenit, ia sudah menciptakan beberapa peluang. Ia menghidupkan permainan Liverpool. Barangkali, ia menunjukkan kepada anak-anak muda itu, seperti inilah kalian seharusnya bermain. Memangnya kenapa kalau melawan United? Kelewat perkasakah mereka sampai kalian ciut dan tak sanggup mengirim umpan?

Gerrard tak hanya mengirim umpan. Ia menekel Juan Mata, merebut bola darinya. Gerrard tetap memimpin. Ia menerima umpan Sakho dan berusaha mengirimnya kepada Henderson di detik ke 38 waktu permainannya.

Ander Herrera yang jadi lawan tak ingin si tua bangka yang satu ini menguasai pertandingan. Ia pun memberikan sliding tackle kepada Gerrard. Kaki Gerrard selamat, tapi ia justru menginjak Herrera.

Celakanya, kartu merah jadi ganjaran. Siapa pun yang dihadiahi kartu kuning kedua tahu apa risikonya: keluar dari lapangan.

Kepemimpinan Gerrard di Liverpool selesai dengan cara itu. Ia menunggunya selama enam tahun, mengerjakannya dalam 12 tahun, tapi menyelesaikannya dalam 38 detik. Kepemimpinan yang ganjil.

Ironi jadi nama tengah Gerrard. Ban kapten itu dibuangnya, lantas ia pergi meninggalkan lapangan Anfield, masuk ke ruang ganti dan entah apa yang dikerjakannya di sana.

Setelahnya, Gerrard menutup karier di Inggris. Ia hengkang ke benua lain.

2. Andres Iniesta: Dihukum Liga Champions

Di antara cerita rivalitas abadi Catalunya dan Madrid, muncul nama Andres Iniesta yang menopang salah satu pilar. Serupa Gerrard, karier seniornya hanya dihabiskan di Barcelona. Entah apa yang membikinnya enggan keluar dari Camp Nou dan menjajaki rumput stadion lain. Terhitung sejak 2002, namanya menjadi pilar pertahananan Blaugrana.

Sewaktu masih melatih Barcelona, Josep Guardiola pernah berkata seperti ini kepada Xavi Hernandez, “Kau mungkin bisa menjadi orang yang membikin saya pensiun. Namun, Iniesta-lah yang bakal memensiunkan kita semua,”

Lionel Messi boleh gemilang di lini depan. Sepakannya ke gawang lawan ibarat meriam tak bosan menggempur. Namun, tanpa Iniesta, Messi adalah meriam tanpa sumbu, tak akan bisa menyala dan memorak-porandakan lawan. Umpan-umpan pendek Iniesta bersama xavi dan Busquets menjadi sumbu dari ledakan Messi di garda terdepan.

Postur Iniesta membikinnya mencolok di antara teman-temannya. Bukannya atletis, ia terlihat lebih pendek dibandingkan pemain rata-rata. Namun, kaki-kaki pendeknya itu begitu sadar akan ruang dan begitu awas dalam mengirim umpan-umpan licik.

Kabinet Iniesta bersama Barcelona penuh dengan trofi. Ia membantu Barcelona memenangi delapan juara La Liga, lima Copa del Rey, tujuh Supercopa de Espana, empat trofi Liga Champions, tiga UEFA Super Cup, dan tiga Piala Dunia Antarklub. Sebanyak itu dan semenyebalkan itu untuk menyusunnya dalam satu tulisan.

Di pertandingan semifinal Liga Champions 2008/2009, ia menjadi salah satu pemain yang bersinar. Di leg pertama, Chelsea berhasil menahan imbang Barcelona dengan skor 0-0. Di leg kedua, sepakan Iniesta membungkam seisi Stamford Bridge. Peduli setan dicap konspirasi UEFA atau apa pun, yang jelas Barcelona melaju ke final.

Iniesta berjalan lesu di Olimpico. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)
zoom-in-whitePerbesar
Iniesta berjalan lesu di Olimpico. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)

Musim ini, suporter Barcelona dilanda kabar nestapa. Jagoan mereka mengisyaratkan hengkang dari Camp Nou. Terkuat, ia dikabarkan akan bergabung dengan klub asal China.

Tak pelak, rencana kepergiannya ditangisi. Lihatlah betapa ributnya lini masa yang memintanya untuk bertahan di Barcelona. Bagi mereka, walau usia Iniesta sudah 33 tahun, kariernya di Barcelona belum cukup uzur untuk segera berakhir.

Bila musim ini memang menjadi musim terakhir Iniesta bersama Barcelona, maka ia menutupnya dengan satu kekecewaan: gagal menjuarai Liga Champions.

Kekalahan Iniesta dan Barcelona di Liga Champions adalah kekalahan yang menyakitkan. Pasalnya, mereka baru melangkah hingga babak perempat final.

Di leg pertama, Barcelona menang meyakinkan dengan skor 4-1. Lantas, Serigala Kota Roma mengamuk di leg kedua. Dalam enam menit, gol pelecut asa itu lahir dari kaki Edin Dzeko.

"Ini mungkin jadi laga Liga Champions terakhir saya, tetapi saat ini yang perlu ditekankan adalah betapa beratnya kekalahan ini bagi tim secara keseluruhan. Kami sangat ingin memenangi turnamen ini, tetapi kami gagal lagi," lanjutnya.

Barcelona kerap berjaya di Spanyol, tapi siapa pula yang tak ingin berjaya di Eropa? Itulah yang sedapat-dapatnya diusahakan Barcelona kembali di beberapa musim terahir, tapi selalu kandas. "Berat sekali. Rasanya seperti tak nyata. Sangat sulit diterima," katanya.

"Dengan keuntungan yang dimiliki, kami akhirnya tersingkir karena melakukan hal-hal yang tak seharusnya kami lakukan. Dan untuk itu, kami dihukum oleh Liga Champions," tutup Iniesta.

3. Gianluigi Buffon: Kabinet Tanpa Trofi Liga Champions

“Ganti cita-citamu. Jangan mau jadi penjaga gawang,” demikianlah Buffon menjawab pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan seseorang yang bercita-cita menjadi kiper.

Buffon pun tadinya tak mau menjadi kiper. Ada dua hal yang membikin Buffon banting stir menjadi kiper. Pertama, ia terpesoan dengan cara kiper Kamerun, Thomas N’kono menghalau bola. Kedua, sebagai pesepak bola, Buffon malas berlari.

Buffon lahir di tengah-tengah keluarga atlet. Lucunya, olahraga yang mereka geluti sama-sama mengandalkan kekuatan tangan. Pamannya bernama Lorenzo Buffon, kiper AC Milan era 1950-an. Ibunya, atlet tolak peluru Italia. Saudara perempuannya, seorang atlet voli. Di tengah-tengah keluarga inilah Buffon bersar.

Buffon tahu apa artinya menjadi penjaga gawang. Baginya ini profesi masokis dan egosentris. Buffon pun khatam benar menyoal istilah kesunyian kiper di atas lapangan bola.

Buffon menjalani hari-harinya di lapangan bola dengan pengertian seperti ini selama kurang-lebih 24 tahun. Enam tahun bersama Parma, sekitar 18 tahun bersama Juventus.

Selama kurang lebih 18 tahun berkarier di Turin, ia mempersembahkan 10 gelar scudetto untuk Juventus. Belum ditambah dengan satu juara Serie B, tiga gelar Coppa Italia, dan lima gelar Supercoppa Italiana.

Celakanya, yang belum didapatnya di level klub adalah gelar Liga Champions yangpaling prestisius itu. Juventus, entah apa sebabnya, berjaya di Italia, tapi keok di Liga Champions.

Buffon menjadi besar di Juventus bukan hanya karena aksi penyelematannya yang gemilang. Saat Juventus ditinggalkan para penggawanya saat mereka dihukum ke Serie B, Buffon menjadi yang setia. Ia tak beranjak ke mana pun, setia berdiri di bawah mistar gawang Juventus.

Sejak bergabung bersama Juventus, Buffon sudah tiga kali sampai ke final Liga Champions: 2002-2003, 2014-2015, 2016-2017. Yang pertama kalah melawan Milan, kedua melawan Barcelona, ketiga melawan Real Madrid.

Kiper Juventus, Gianluigi Buffon. (Foto: Susana Vera/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Kiper Juventus, Gianluigi Buffon. (Foto: Susana Vera/Reuters)

Di partai final Liga Champions musim lalu, Buffon babak belur dihajar pemain Madrid. Mereka kalah 1-4. Beberapa waktu sebelumnya, saat Juventus hendak bertanding melawan AS Monaco di semifinal, ia bergurau kepada salah satu pemain Monaco, Kyllian Mbappe.

Katanya, Mbappe itu masih muda. Kesempatannya untuk menjuarai Liga Champions masih panjang. Jadi, kali ini, kasihlah kesempatan itu untuk pemain tua sepertinya.

Tentu saja Buffon bergurau. karena Juventus tak perlu dikasihani untuk sampai ke final. Namun, di puncak, Buffon kalah melawan ketajaman Ronaldo. Manajemen Juventus menanggapi kekalahan itu dengan menyebar slogan It’s Time to Be Proud. Namun, Buffon tak butuh berbangga. Yang ia butuhkan adalah trofi Liga Champions.

Musim ini, Juventus kembali berhadapan dengan Madrid, tapi di perempat final. DI leg pertama, Madrid mencukur Juventus dengan skor 3-0.

Pertandingan ini ironis. Beberapa detik setelah Buffon mempertontonkan aksi penyelamatan berkelas, Ronaldo menjebol gawangnya dengan tendangan salto yang berkelas. Cerita Buffon tenggelam, cerita Ronaldo melambung.

Namun, Juventus membuktikan bahwa mereka belum habis. Di leg kedua, Juventus tampil menggila. Mereka berhasil mencetak gol pertama bahkan saat pertandingan baru berlangsung selama dua menit. Sampai menit 90, Juventus tetap unggul 3-0.

Usia Buffon memang sudah 40 tahun, tapi ia masih sanggup mengupayakan beberapa penyelamatan lagi untuk memenangkan Juventus. Tapi, petaka itu justru datang di menit 93.

Wasit Michael Olover mengganjar Medhi Benatia dengan kartu merah. Buffon muntab, ia protes kepada wasit. Oliver lantas mengeluarkan senjata pamungkasnya, kartu merah. Buffon diusir keluar saat waktu normal pertandingan tinggal berjalan beberapa detik lagi. Lagi-lagi Ronaldo yang membuyarkan harapan Juventus dan Buffon.

Yang menyedihkan, agaknya ini menjadi tahun terakhir Buffon ada di Juventus. Selepas musim 2017/2018 ini, besar kemungkinan ia akan pensiun. Itu artinya, ia menutup laga dengan ketidaksanggupan menjuarai Liga Champions. Dan bukan hanya gagal juara, pertandingan terakhirnya di Liga Champions ditutup dengan kartu merah.

4. Bill Shankly: Membangun dan Dilupakan Liverpool

Liverpool tidak dalam keadaan baik-baik saja ketika Bill Shankly datang pertama kali pada Desember 1959. Tujuan Shankly dibawa ke Anfield tak berat-berat aman, yang penting Liverpool bisa promisi ke divisi teratas.

Shankly muak dengan kecenderungan manajemen Liverpool yang bersikap nrimo pada mediokritas. Lantas, Shankly mulai bertindak. Ia mendatangi ruang direksi, meminta uang kepada mereka untuk membeli pemain.

Setiap orang yang ada di Liverpool dipaksa Shankly untuk menjadi yang terbaik. Mulai dari direksi, staf kepelatihan, pemain, hingga tukang bersih-bersih stadion. Semua harus terbaik.

Shankly bisa membawa Liverpool menjuarai Liga Inggris lima tahun setelah penunjukannya. Setahun setelahnya, Liverpool juara Piala FA.

Kemenangan kedua Liverpool di Piala FA baru direngkuh sembilan tahun setelahnya. Namun, di musim-musim yang tak terlalu melimpah dengan gelar juara itu pun, Shankly tetap dipuja.

Keputusan mengejutkan itu datang beberapa saat setelah ia memberikan gelar piala FA kedua Liverpool pada tahun 1974. Ia mengundurkan diri. Beberapa spekulasi muncul soal keputusannya ini; mulai dari kesehatan istrinya hingga ketidaksanggupan menghadapi tekanan publik.

Begitu dilepas, Shankly diganti oleh Bob Paisley yang semula menjadi asistennya. Nelangsa itu bermula dari sini.

Sepak bola terlanjur jadi bagian terpenting dalam kehidupan Shankly. Walau pensiun, ia masih sering mengunjungi tempat latihan Liverpool, Melwood. Lagaknya tetap seperti pelatih. Awalnya hanya menonton, tapi lama-lama ia malah ikut memimpin latihan.

Bill Shankly, pahlawan rakyat. (Foto: Dok. Shankly Hotel)
zoom-in-whitePerbesar
Bill Shankly, pahlawan rakyat. (Foto: Dok. Shankly Hotel)

Paisley merasa terintimidasi dengan campur tangan Shankly. Pada akhirnya, Shankly tidak diizinkan untuk datang ke Melwood lagi. Shankly diusir dari rumah yang sudah ia bangun dengan kedua tangannya.

Awalnya, ia masih ada bersama direksi saat menyaksikan pertandingan Liverpool. Namun, kelamaan, ia ada di tribune bersama penonton lain. Tak ada lagi tempat di klub, tempatnya ada bersama suporter.

Di tangan Shankly, Liverpool menjadi klub yang begitu menghargai suporter. Di otaknya, suporterlah yang menjadi pemilik klub, bukannya direksi dan pemegang saham. Barangkali, itulah yang membikin para suporter selalu punya tempat untuknya.

Atas segala hal yang diberikannya untuk Liverpool, seharusnya Shankly diperhitungkan untuk masuk jajaran direksi. Namun, tawaran itu tak pernah datang. Jangankan tawaran menjadi direksi, tiket pertandingan dan sapaan basa-basi pun tak pernah diterimanya dari Liverpool.

"Saya tentu akan senang jika diundang ke pertandingan tandang ke klub lain. Namun saya menunggu, dan menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya saya lelah menunggu," seperti itu Shankly menutup pembicaraannya tentang Liverpool.