Kumparan Logo

Alasan-alasan Mengapa Duel Chelsea vs Barcelona Menarik

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Duel klasik Barcelona vs Chelsea. (Foto: ADRIAN DENNIS / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Duel klasik Barcelona vs Chelsea. (Foto: ADRIAN DENNIS / AFP)

Pertandingan antara Barcelona dan Chelsea pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (21/2/18) dini hari WIB, bisa dibilang sengit tidak sengit.

Bisa dibilang tidak sengit karena konsistensi keduanya berbanding terbalik. Barcelona baru saja memperpanjang catatan tak terkalahkannya di La Liga menjadi 31 pertandingan. Belum lagi dengan hasil positif mereka di pentas Liga Champions yang terbilang mulus dengan empat kemenangan dan dua hasil imbang di fase grup.

Sedangkan Chelsea? Mereka harus puas finis di sebagai runner-up Grup C karena kalah agregat dengan AS Roma. The Blues bahkan menelan kekalahan telak 0-3 dari 'Serigala Ibukota' tersebut. Terlebih, Chelsea juga kini tengah terseok di posisi keempat Premier League karena menelan dua kekalahan dari tiga laga teranyar --termasuk saat takluk dengan margin tiga gol dari Bournemouth dan Watford.

Di sisi lain, keberadaan mereka sebagai utusan terkuat masing-masing negara juga tak bisa dikesampingkan. Dalam hal ini Chelsea lebih sahih karena berpredikat sebagai juara bertahan Premier League.

Angkernya Stamford Bridge

Sundulan kepala Samuel Eto'o pada 10 menit sebelum berakhirnya waktu normal jadi penentu kemenangan Barcelona atas Chelsea pada babak 16 besar Liga Champions edisi 2005/2006. Gol pemain asal Kamerun itu melengkapi gol bunuh diri John Terry sembilan menit sebelumnya, sekaligus membalikkan keadaan via gol 'harakiri' Thiago Motta di menit ke-59.

Kedudukan 2-1 untuk kemenangan Blaugrana kemudian jadi skor akhir pada laga yang dihelat di Stamford Bridge tersebut. Ya, itu adalah kemenenangan terakhir yang diraih Barcelona di stadion yang berkapasitas sekitar 41.000 penonton tersebut. Sejak saat itu, The Blues selalu sukses menahan imbang El Barca di kandangnya dalam tiga kesempatan.

X post embed

Faktor Wasit

Tak hanya angkernya panggung stadion yang jadi pemanis dari bentrokan kedua tim, sang pengadil lapangan juga pernah menjadi sorotan akibat keputusan-keputusan kontroversialnya. Salah satunya adalah Tom Henning Ovrebo yang ditunjuk jadi wasit pada laga semifinal leg kedua Liga Champions periode 2008/2009.

Saat itu, kemenangan jadi harga mati bagi Barcelona yang cuma mampu bermain imbang 0-0 di Camp Nou. Namun, mereka dikejutkan lewat gol cepat Michael Essien di menit sembilan. Sampai di sini, The Blues seolah bakal mampu menambah pundi-pundi golnya. Alih-alih demikian, Chelsea justru kebobolan lewat aksi Andres Iniesta di menit-menit akhir.

Bukan itu yang jadi pangkal masalahnya. Akan tetapi keputusan Ovrebo tidak merestui empat pelanggaran berbuah penalti yang "seharusnya" didapatkan Chelsea. Salah satunya adalah hand-ball Gerard Pique dan aksi ilegal Eric Abidal yang kedapatan menarik Didier Drogba ketika lolos dari jebakan offside.

Oke, wasit yang kemudian mendapatkan banyak teror pasca-pertandingan itu memang meneluarkan kartu merah untuk Abidal. Namun, tetap saja, para pendukung Chelsea tak bisa menghilangkan memori buruk akan laga tersebut.

Ovrebo tak lagi menjadi pengadil pada perjumpaan kali ini, melainkan Cuneyt Cakir. Nah, masalahnya Cakir bukanlah wasit yang ramah bagi Chelsea.

Pengadil asal Turki itu pernah mengusir John Terry karena melanggar Alexis Sanchez pada semifinal leg kedua Liga Champions 2011/2012. Beruntung Roberto Di Matteo punya Ramires dan Fernando Torres yang masing-masing berhasil menyarangkan satu gol dan membawa Chelsea unggul agregat 3-2 atas Barcelona pada laga yang dihelat di Camp Nou itu.

Satu hal lagi yang makin menyempurnakan karakter antagonis Cakir di mata Chelsea adalah perannya sebagai wasit pada final Liga Champions 2015 yang dimenangi Barcelona.

X post embed

Mitos Anti-Messi

Nyaris mustahil menghapuskan nama Lionel Messi dalam setiap keberhasilan Barcelona. Semua orang tahu La Pulga merupakan ikon sekaligus pahlawan tim dari berbagai aspek.

Namun, harus diterima kenyataan bahwa Messi selalu melempem di hadapan Chelsea. Betapa tidak, tak ada satu gol pun yang berhasil disarangkannya dalam tujuh kesempatan kontra The Blues.

Messi, selalu gagal di hadapan Chelsea. (Foto: Aris Messinis/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Messi, selalu gagal di hadapan Chelsea. (Foto: Aris Messinis/AFP)

Namun, tunggu dulu, dengan perjumpaan terakhir kontra Chelsea yang dihelat 2012 silam, artinya saat itu Messi belum genap berusia 25 tahun. Tentu kini dirinya jauh lebih matang dari segi mental dan juga permainan. Terlebih kini konsistensinya masih terjaga. Buktinya, 26 gol dan 12 assist dari 33 laga di semua ajang jadi buktinya.

Selain dari konsistensi penampilannya sejauh ini, beberapa mitos "Anti-Messi" juga berhasil dipecahkannya kala sukses menjebol gawang Manuel Neuer, Petr Cech, dan juga Gianluigi Buffon.